Tatapan Indah

1019 Kata

Sultan mengetuk pintu ruang kerja ayahnya sebelum masuk. Tuan Halim sedang berdiri di dekat jendela, menatap kota yang bergerak cepat di bawah sana. “Ayah,” sapa Sultan. Tuan Halim menoleh. “Ada apa?” Sultan mendekat, raut wajahnya serius. “Soal Nia. Maaf kalau terdengar lancang, tapi… asal-usulnya bagaimana? Dia terlihat—” Sultan berhenti sejenak, memilih kata. “Sederhana. Sedikit kampungan.” Tuan Halim tak tersinggung. Ia justru menghela napas panjang, lalu duduk perlahan. “Dia bukan dari dunia kita,” katanya pelan. “Dan semoga kamu tak pernah harus hidup di dunianya.” Sultan mengernyit. “Maksud Ayah?” “Nia korban perdagangan manusia,” jawab Tuan Halim tanpa bertele-tele. “Hampir dijual. Hampir direnggut masa depannya. Malam itu dia kabur… dan pingsan setelah hampir tertabra

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN