Sentuhan yang menggetarkan

1178 Kata

Pagi datang lebih cepat bagi Nia. Langit masih pucat ketika ia terbangun, seolah tubuhnya menolak berlama-lama di ranjang yang terlalu sunyi. Ia bangkit, mandi dengan air hangat, membiarkan sisa mimpi buruk luruh bersama uap yang perlahan naik. Rambutnya diikat sederhana, wajahnya bersih tanpa rias—hanya mata yang masih menyimpan bayang semalam. Ia melangkah ke dapur. Aroma bawang tumis menyambutnya. Seorang perempuan paruh baya tengah sibuk di depan kompor, gerakannya cekatan namun tenang. Wajahnya ramah, sorot matanya hangat. “Oh… Non sudah bangun?” sapanya sambil menoleh. “Saya Nani. Di sini mereka panggil saya Bi Nani.” Nia tersenyum kecil. “Pagi, Bi. Saya Nia. Boleh saya bantu?” Bi Nani tertawa ringan. “Wah, Non ini rajin sekali. Biasanya anak-anak muda masih tidur.” Nia langsu

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN