Sentuhan Anak Tiriku : Desahan yang sama

1297 Kata

Nia melangkah masuk ke kamarnya dengan langkah ragu. Pintu tertutup pelan di belakangnya, menyisakan keheningan yang terasa asing. Kamar itu terlalu rapi, terlalu luas, terlalu wangi—jauh dari ruang-ruang sempit yang pernah ia kenal. Ia berdiri di tengah ruangan, menatap sekeliling. Kenapa aku ada di sini? Pertanyaan itu menggantung, tak menuntut jawaban. “Akan kulupakan masa laluku di sana,” bisiknya pada diri sendiri. “Akan kubuka lembaran baru. Aku harus sukses… harus kaya raya.” Tangannya mengepal kecil, seolah sedang mengikat janji dengan nasibnya sendiri. Ia mulai merapikan baju-baju baru ke dalam lemari—kemeja, gaun sederhana, dan beberapa potong yang masih berbau butik. Setelah itu, ia mengganti pakaian dengan piyama sutra berwarna lembut, yang terasa asing di kulitnya na

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN