Pintu ruang tamu sudah tertutup rapat, namun gelak tawa pelan dan suara gelas yang bersentuh masih menggema samar. Om Sam—yang tamunya malam itu—masih duduk di sofa, menolak jalan meski jam sudah larut. Wajahnya kemerahan, mata sedikit sembap oleh alkohol, tapi senyumnya tetap lembut saat menatap ke arah Cintia. Ia menolak anggukan pamit yang sudah beberapa kali ditawarkan. Di sudut lain ruangan, Valeri—yang jiwanya kini menumpang di tubuh Cintia—merasakan segala hal berbeda. Ada kehangatan di dadanya saat Sam mendekat, namun juga rasa jijik yang tak bisa ia pendam: kenangan buruk kala tangan Sam pernah melampauinya dulu masih menempel seperti bekas luka. Malam yang manis berubah cepat jadi benang kusut emosi. Cintia, yang sekarang menempati tubuh Valeri, berdiri tegak. Matanya menyorot

