Malam itu, di kamar sunyi dengan lampu temaram, dua jiwa yang kini terperangkap di tubuh berbeda akhirnya saling menatap lekat. Ada kesepakatan yang tak terucap, namun keduanya sama-sama tahu: inilah momen yang akan menentukan arah permainan. Cintia—yang kini mendiami wajah Valeri melalui sosok “Ranti”—menghela napas panjang. “Val, kalau kamu sungguh ingin Valeri Crop jatuh ke tanganmu, aku akan ikut bantu. Aku sudah berada dalam tubuh ini, dan orang-orang percaya aku hanya Ranti. Jadi biarkan aku memainkan peranku. Kita rebut asetmu perlahan-lahan, lewat pintu yang Ronny sendiri buka.” Valeri, yang kini hidup dalam tubuh Cintia, menatapnya dengan sorot mata penuh keraguan. “Apa kamu yakin? Ini bukan permainan kecil, Cin. Kalau salah langkah, aku bisa kehilangan semuanya. Bahkan kita bis

