Hidup Kedua Valeri : Kabut pembawa ramalan

1244 Kata

Suara ponsel itu benar-benar merusak suasana. Sam mendengus, tubuhnya masih berat oleh sisa mimpi panas semalam—mimpi yang begitu nyata hingga ia bisa bersumpah merasakan setiap desahan, setiap sentuhan Cintia. “Ahh… sial,” gumamnya, menyibakkan selimut. Tangannya secara refleks meraba sprei yang lembap di sisi tubuhnya. Ia menatap kosong beberapa detik, lalu tertawa getir. “Jangan-jangan aku sudah terlalu gila sama gadis itu.” Deru ponsel belum berhenti, memaksa Sam untuk mengangkat. “Halo,” suaranya berat, serak baru bangun. Telinganya langsung diserbu teriakan melengking, “BANGUNNN!!! Segera jemput aku!” Sam sampai refleks menjauhkan ponsel dari telinganya. “Astaga, Cintia! Pagi-pagi begini kau mau bikin telingaku budek?” “Aku bosan! Ini hari Sabtu kan? Libur kerja kan? Ayo kita h

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN