Penthouse malam itu dipenuhi keheningan yang hanya dipecahkan oleh suara lembut jam dinding. Tirai tipis berkibar tertiup angin dari balkon yang terbuka, membiarkan cahaya lampu kota menyusup ke dalam ruangan. Sam baru saja menanggalkan jas kerjanya, menyandarkannya di kursi, ketika pintu kamarnya berderit pelan. Sosok wanita itu muncul. Cintia—atau barangkali Valeri yang kini bersemayam di dalamnya—melangkah masuk dengan heels yang berdenting halus di lantai marmer. Office wear yang ia kenakan melekat sempurna, blazer hitamnya menambah wibawa sekaligus menutupi sensualitas yang tak pernah bisa sepenuhnya ia sembunyikan. Namun, sebelum Sam sempat bicara, tangannya sudah bergerak, menutup pintu perlahan, seolah ingin mengurung keintiman itu hanya untuk mereka berdua. “Kenapa kamu di sini

