Adegan Kepulangan Besok paginya, rumah besar itu terasa berbeda. Para asisten rumah tangga sibuk mondar-mandir, seperti sedang menyiapkan pesta kecil. Meja makan panjang penuh dengan lauk pauk—dari sup asparagus, ayam panggang madu, sampai cake cokelat kesukaan Cintia. Sam berdiri di depan pintu, tangannya disilangkan di d**a. Wajahnya serius, seolah dirinya manajer event organizer profesional. Padahal, ia baru saja menegur Bi Rani gara-gara dekorasi bunga meja terlalu mirip hiasan duka. “Bii… ini rumah, bukan aula pemakaman,” ujar Sam sambil menghela napas. Bi Rani manyun. “Lho, cantik ini bunga krisan putih. Biar adem.” “Adem apanya? Yang ada nanti Cintia pikir aku lagi siapin tahlilan,” balas Sam sambil mengacak rambutnya sendiri. Saat itulah suara langkah sepatu hak terdengar. Ci

