Hidup Kedua Valeri : Izinkan kembali

1004 Kata

Pertukaran Jiwa Valeri & Cintia Kamar tua di rumah Eyang Tika malam itu begitu hening, hanya suara detak jam dinding dan desah angin yang menerpa dedaunan jati di halaman. Lilin-lilin kecil diletakkan melingkar di lantai, cahayanya bergoyang mengikuti arah angin, seakan menari. Di tengah lingkaran itu, tubuh Valeri terbaring pucat, sedangkan di ranjang kayu di sisi kanan, Cintia juga terbaring, wajahnya seperti sedang bermimpi panjang. Eyang Tika duduk bersila di antara mereka. Rambut putihnya tergerai, wajahnya dipenuhi garis usia, tapi sorot matanya tajam bagai menembus dua dunia sekaligus. Di tangannya ada segelas ramuan hijau kehitaman, aromanya menyengat, bercampur pahit dan manis. “Anak-anakku… jiwa kalian saling memanggil,” gumamnya lirih. “Jika memang jalan takdir adalah pertuka

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN