Hidup Kedua Valeri : Sakit yang membawa jiwa pergi

1146 Kata

Mobil berhenti di halaman kantor, deru mesin masih bergetar ketika Sam turun lebih dulu. Ia melangkah ke sisi lain dan membuka pintu untuk Valeri, sikap gentleman yang meski sering ditutupinya dengan sinis, tetap muncul otomatis. “C’mon, kita sampai. Jangan drama lagi,” ucapnya, separuh menggoda, separuh menegur. Valeri menatap sekilas, bibirnya ingin membalas, tapi matanya mendadak buram. Dunia di sekelilingnya berputar, cahaya lampu halaman kantor terasa seperti berloncatan. Baru satu langkah kakinya menapak aspal, tubuhnya terhuyung, dan dalam sekejap ia terjerembab. “Cintia!” seru Sam, suaranya melesak, panik bercampur marah. Tangannya refleks menahan tubuh Valeri sebelum jatuh membentur keras. Nafas Valeri tersengal, matanya setengah terpejam. Pucat merayapi pipi yang biasanya mer

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN