Lunch Meeting Suasana kantin eksekutif Gunawan Corp berbeda jauh dari bayangan orang kebanyakan. Bukan sekadar ruang makan, tapi lebih menyerupai restoran hotel bintang lima. Dinding kaca memamerkan pemandangan kota dari ketinggian, lampu gantung kristal memantulkan cahaya keemasan, dan meja-meja bundar dihiasi bunga segar. Aroma masakan internasional bercampur dengan wangi kopi premium memenuhi udara, membuat siapa pun betah berlama-lama di sana. Cintia—dengan aura Valeri di dalam dirinya—memandang sekeliling penuh kebanggaan. Inilah wilayahku sekarang. Dan mereka, Ronny serta Dahlia, tak lebih dari bidak di papan catur yang kubentuk. Sambil melangkah anggun, ia mengajak mereka ke salah satu meja di pojok dekat jendela. “Sudah jam makan siang,” katanya dengan senyum profesional namun b

