Di dalam mobil Perjalanan pulang terasa dingin. Dahlia duduk di samping Ronny dengan wajah kaku. Dari kaca spion tengah, ia melihat bayangan matanya sendiri—penuh curiga sekaligus takut. Ronny, di sisi lain, tampak sibuk memutar kartu nama itu di antara jari-jarinya, seolah mencari makna tersembunyi. “Kau seperti remaja yang baru dapat nomor gadis cantik,” sindir Dahlia. Ronny hanya tersenyum samar. “Kadang, untuk menaklukkan lawan bisnis, kita harus tahu lebih dari sekadar angka-angka. Wanita itu… berbeda. Dia tidak mudah dibaca.” “Justru itu bahaya.” Dahlia mendengus. “Aku tahu tipe dia. Cantik, penuh pesona, tapi licik. Satu langkah salah, kau bukan hanya kehilangan uang, tapi juga kehilangan kendali.” --- Malam di kediaman Ronny Pukul sembilan malam, Dahlia sudah tertidur. Ronny

