Restoran itu mendadak terasa lebih sempit. Cintia menggenggam gelas kopinya begitu kencang, seolah cairan pahit itu bisa menyembunyikan kegelisahannya. Di hadapannya, Arga menatap tak berkedip. Ada kerinduan sekaligus kemarahan yang bercampur di sorot matanya. “Cin,” ucap Arga perlahan, “kamu sungguh tidak ingat apa pun? Bahkan malam itu, ketika kamu bilang ingin lari dari semuanya?” Cintia pura-pura menoleh ke luar jendela, menatap hujan tipis yang turun di luar. Kepalanya terasa berat, bukan karena ingatan yang muncul, tapi karena rasa takut terbongkar. Ia menekan pelipisnya, berakting seolah nyeri menusuk di kepalanya. “Aku… aku benar-benar tidak ingat, Arga.” suaranya lirih. “Kalau aku paksa, rasanya kepalaku pecah.” Arga panik, setengah bangkit dari kursinya. “Kamu sakit? Harusnya

