Telpon Dari Vino

1000 Kata
Krik krik krik …. Suara jangkrik jangkrik kecil berirama membentuk simfoni lagu alam. Bersahut sahutan, berlomba-lomba, dan bersaing, menunjukkan alunan melodi siapa kah, yang terbaik. "Gimana Jas, udah beli buku belum?" Tanya Clarissa, ia menoleh sekilas pada adiknya, mata beningya lalu kembali menatap layar laptop di depan nya. Jasmin lalu berjalan cepat ke kamarnya. Mengambil tas sederhananya yang di belikan Clarissa. Dengan cekatan, tangan nya menggeledah, isi tasnya yang sedikit. Ia lalu kembali ke ruang keluarga dengan memeluk sebuah buku tebal di dadanya. "Aku udah beli buku mata kuliah ku kak, ini dia" Jasmin menaruh bukunya di samping laptop Clarissa. Wajah manisnya berseri bahagia, memandangi buku barunya. Buku yang ia idam-idamkan sebulan terakhir. Jasmin memeluk ceria bahu kakaknya. "makasih ya, kakak ku yang baik. Gara gara kamu, aku nggak jadi di hukum sama dosen killer itu. Bu Hanum itu kuno banget deh. Sekarang kan zaman digital. Ilmu bisa di cari dari mana aja. Nggak harus dari satu buku itu aja. Di internet justru lebih beragam bukunya. Bukunya pun gratis. Tinggal download aplikasinya, buku gratis sudah ada di tangan" Jasmin lalu duduk di samping ibunya, yang sedang menonton sinetron di TV. "Bu Hanum bukan kuno sayang. Dengan membeli buku itu, artinya kamu menghargai penulis buku yang sudah susah payah menyusun nya. Lagi pula buku asli lebih aman sayang. Sewaktu waktu, tinggal di buka, dan nggak perlu buka aplikasi dulu. Mata juga lebih sehat" Bu Astri menepuk lembut bahu Jasmin. "Memang benar sih kata ibu, tapi kan di internet lebih murah. Hehe …." Jasmin memeluk tubuh ibunya, lalu menyandarkan kepalanya manja, di bahu ibunya. "Dasar nggak mau modal" Bu Astri mengelus sayang rambut putri bungsunya. Tring tring tring …. Ponsel Clarissa berdering tak sabar. Nomer baru tertera di layar ponsel nya. "Assalamualaikum …." Ucap Clarissa. Tangan nya berhenti beraktifitas di atas laptop. "Waalaikumsalam. Ini Bu Rissa?" Suara bariton memanggil nama Clarissa mantap. Pemilik suara itu pasti seksi, se seksi suaranya. Pikir clarissa. "Ya, saya Clarissa, siapa ini?" Clarissa menegakkan tubuhnya. Penasaran, siapakah pemilik suara seksi itu. "Saya papanya Vino. Dia mau bicara. Vino ini bu …," "Tunggu, Pak Calvin! Saya mau bicara" Potong Clarissa. Nafasnya tercekat, jantungnya berdetak lebih cepat. Takut jika Calvin tidak mau mendengarkannya. Ia ingat, bagaimana sikap arogan Calvin. Dia blak blakan menghina Clarissa. Tidak peduli, lawan bicaranya tersinggung atau tidak dengan ucapan nya. "Ya, ada apa?" Akhirnya …. Hati Clarissa lega. Pria itu, tadi siang, sangat susah di hubungi. Sama sulitnya, ketika ingin menelpon seorang presiden. "Karena bapak tadi siang tidak hadir di sekolah. Bisakah besok Anda meluangkan waktu pergi ke sekolah? Saya wali kelas Vino, ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan pada anda langsung" "Saya sudah tahu, apa yang mau kamu tanyakan Bu Rissa. Faris tadi sudah membawa surat pemberitahuan dari sekolah" Suara itu dingin, seolah tidak tertarik dengan pembicaraan Clarissa. Atau apa yang akan diucapkan nya. "Saya memang ingin membahas itu. Tapi, sebagai wali kelas nya Vino, ada hal lain yang ingin saya tanyakan langsung pada bapak" "Apa yang ingin kau tanyakan? Katakan sekarang!" Suara itu terlalu percaya diri, dan seperti tukang perintah. "Saya tidak leluasa jika berbicara di telpon. Tolong, besok datang lah ke sekolah, ini demi Vino" "Maaf, aku tidak bisa membuang waktuku untuk jalan jalan ke sekolah" Suara itu sangat tegas, dan terdengar tidak suka di bantah. Huh sombong sekali, sok sibuk! Batin Clarissa. "Tapi, bukankah Anda datang ke sekolah waktu mendaftarkan Vino?" Todong Clarissa. "Aku hanya tidak mau, dia terlihat seperti anak yatim. Dan gara gara itu, aku terlambat mengikuti rapat direksi perusahaan" "Bagaimana kalau saya datang ke rumah anda?" Clarissa menggigit bibirnya sendiri, takut jika Calvin menolaknya mentah mentah. "Kau mau kesini? Silahkan saja. Besok, akan ku usahakan pulang jam 3 sore" Suara itu sudah tidak terdengar menghormati Clarissa sebagai guru. Bahasanya terlalu bebas. Seperti atasan yang berbicara dengan bawahan nya. Keheningan sesaat terasa kaku bagi Clarissa, ia tidak tahu lagi, apa yang harus ia katakan. "Kalau sudah tidak ada yang mau kau tanyakan, aku akan memberikan telpon ini pada Vino" "Iya" Jawab Clarissa singkat. "Selamat malam Bu Rissa" Oh, suara itu manis sekali, batin Clarissa. Ia jadi merindukan wajahnya. "Selamat malam Vino, kamu lagi ngapain?" "Baru selesai ngerjain PR" Suara itu sangat imut, karena tidak bisa mengucapkan kata R dengan benar. Vino masih cedal. "Wah pintar sekali, udah ngerjain PR. Ngerjain nya sama siapa?" Clarissa tidak yakin, jika ia dibantu oleh papanya. "Sama Faris" Benar kan? Lagi lagi Clarissa membatin. "Bu guru boleh Video call sama kamu? Mau cek PR Vino, ada yang salah nggak ya?" Clarissa hanya mencari alasan. Sebenarnya, yang ingin ia lihat bukan lah buku Vino, tapi wajah Vino. Yang kini mulai merasuki kalbu Clarissa. " Iya boleh" Tut …. Telpon terputus. Clarissa lalu memencet nomer vino. Sebelum ia memencet tombol hijau. Vino sudah memanggilnya dahulu. "Hai Vino …." Clarissa melambaikan tangan nya ceria. Bibirnya tersenyum cantik. Dan Vino membalas senyuman Clarissa dengan sebuah senyuman manis. Baru kali ini Clarissa melihat senyum manis itu. Senyuman itu semakin indah, dengan lesung Pipit yang menghiasi kanan dan kiri pipi gembil Vino. "Mana PR Vino?" Tanya Clarissa, dan Vino menunjukkan buku PR nya. Clarissa lalu memeriksanya. "Wah, betul semua. Ternyata Vino pinter banget ya? Hore …. berikan tepuk tangan untuk Vino. Tiba tiba, Ibu nya dan Jasmin ada di belakang Clarissa. Mereka lalu ikut memberi tepuk tangan meriah untuk Vino. Dan bibir mereka pun tertawa tawa. Vino pun ikutan tepuk tangan. Untung kamera Vino di taruh di tripod. Sehingga ia bisa leluasa bertepuk tangan bersama dengan Jasmin, dan Bu Astri. Beberapa saat kemudian. Setelah merasa cukup puas memberikan tepuk tangan untuk Vino. Dua anggota keluarga Clarissa yang suka ikut nimbrung bicara ketika Clarissa menelpon, duduk kembali ke tempat asalnya. Dan tawa mereka perlahan mulai hilang. Kini tinggal Clarissa dan Vino yang tertawa berdua. Dan tawa Clarissa pupus saat melihat Calvin menyilangkan tangan nya di d**a kekarnya. Kedua kaki panjanganya menyangga sebuah laptop apel kesukaannya. Bibirnya mengatup erat. Ia seperti menahan emosi, karena suara berisik dari telpon Vino. "Udah malam nih Vino, udah dulu ya telpon nya? Habis ini, jangan lupa makan malam" "Iya Bu Rissa. Assalamualaikum …." "Wa'alaikumsalam
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN