Pelecehan

2862 Kata
Hari sudah sore. Matahari bergeser semakin ke barat. Cahayanya yang hangat, melebur dengan angin, berhembus sejuk . Rambut Clarissa melambai lambai tertiup angin sore. Wajah nya terlihat cantik dan segar setelah mandi dan berdandan sedikit sebelum berangkat ke rumah Vino. Clarissa senang bukan main. Vino yang sebelumnya tidak pernah berhenti membuat onar. Sekarang benar benar berbeda. Hari ini dia terlihat lebih kalem. Tidak ada lagi mata yang memandang dengan tatapan sombong, dan merasa dirinya yang paling benar. Dan dengan satu perintah dari Clarissa, Vino langsung menurut. Tapi itu hanya untuk Clarissa, tidak untuk Dewi. Vino tetap cuek dengan Dewi. "Ah ngarep deh, Vino bisa berubah dalam waktu sehari" Gerutu Dewi di dalam kantor. Ia menjejalkan buku bukunya ke dalam tas. Bersiap hendak pulang. "Memang nya kenapa sama dia?" Tanya Clarissa. "Dia nurutnya sama kamu aja Ris, tadi waktu pulang. Vino memang berubah sih, mau cium tangan kamu, tapi giliran cium tangan aku, dia ngeloyor aja, kayak aku nggak ada" Dewi mencangkluk tasnya. "Dia butuh waktu Wi. Aku percaya, kalau kita terus lembut sama dia, Vino perlahan pasti bisa berubah. Menurutku, Kayaknya kenakalan dia gara gara minta di perhatikan deh Wi" Clarissa dan Dewi berjalan berdampingan melewati halaman sekolah. "Kok kamu tahu?" Dewi mengernyitkan alisnya. "Hari ini, Vino udah nggak berulah lagi, setelah aku selalu perhatian sama dia" "Kalau aku sih nggak telaten, kalau harus merhatiin satu anak aja. Vino bagianmu aja deh Sa. Aku nggak sanggup kalau harus bersikap kayak kamu. Oh ya, nanti kamu jadi ke rumah Vino?" "Jadi lah! Ayo dong Wi, ikut aku ya? Temani aku kesana" Rengek Clarissa, ia memegang penuh harap lengan Dewi yang sudah di atas motornya. Clarissa sebenarnya agak takut jika harus ke sana sendirian. Menghadapi papa Vino yang kelihatan nya galak, membuat nyali Clarissa semakin menciut ketika waktu semakin dekat. "Maaf Sa, hari ini aku ada acara selametan di rumah ku. Seharian ini, Aku udah nggak bantu karena ngajar. Masak nanti mau aku tinggal lagi? Gini aja, gimana kalau ke rumah Vino di mundurin besok aja? Besok aku nggak ada acara" Wajah Dewi cerah. Karena mendapat ide baru. "Nggak bisa Wi, Hari ini, papanya Vino pasti sudah berusaha meluangkan waktunya pulang kerja lebih awal. Kalau tiba tiba aku mundurin besok, bisa bisa aku nggak punya kesempatan nemuin dia dong" Wajah Clarissa menekuk lesu. Ia tidak bersemangat karena, harus pergi ke rumah Vino seorang diri. "Aku minta maaf ya Sa, kali ini aku benar benar nggak bisa bantu kamu. Semangat Rissa! Nanti kamu ketemu sama pria ganteng. Aku titip salam aja buat dia. Katakan, kalau mau main ke rumahku. Pintuku selalu terbuka untuk dia" "Hm …. Dasar kamu Dewi. Seneng banget kalau bahas cowok ganteng. Besok kamu pasti nyesel deh " Clarissa melepaskan tangan nya di lengan Dewi. Memberi jalan untuk sahabatnya. "Jangan gitu dong Sa, aku juga bingung nih" "Iya iya maaf, kamu bantu ibu mu aja" Clarissa tersenyum, berbesar hati. Ia harus rela ke rumah Vino sendirian. Perjalanan Clarissa menuju rumah Vino, berjalan lancar. Tidak terasa, ia telah sampai di alamat rumah Vino. Dari depan, seperti tak ada tanda tanda ada sebuah rumah. Yang terlihat hanyalah sebuah dinding yang tinggi. Dinding itu lebar dan juga panjang. Sebuah gerbang megah warna silver, berdiri kokoh di antara dinding yang panjang. Tidak ada siapapun di sana. Hanya ada sebuah bel intercom terpasang di sana. . Setelah memencet dan mengatakan namanya pada satpam penjaga bel intercom gerbang. Satpam tersebut mempersilahkan Clarissa masuk. Satpam itu terlihat terkejut ketika melihat Clarissa, melihat wanita cantik, bagai melihat hantu di siang bolong. Dengan mengendarai motornya lagi. Clarissa masuk ke dalam. Sebuah rumah megah dengan pilar pilar besar berdiri percaya diri menopang rumah megah itu, yang berwarna putih dan abu abu. "Bu guru" Sebuah suara indah memanggil nama Clarissa. Baru saja, ia turun dari motor. Vino sudah muncul dan berlari lari menuruni tangga. Menghampiri Clarissa. Wajah kecil itu sudah membuat mata Clarissa perih oleh air mata. Ia senang bisa melihatnya Dengan senang hati, Vino mencium tangan Clarissa. Lalu mengajaknya masuk. Rupanya Calvin belum pulang. Vino mengajaknya ke ruang bermain nya. Memamerkan betapa banyak mainannya. Clarissa terheran heran. Kamar besar itu di penuhi mainan berbagai jenis. Semuanya mahal dan bermerek. Sebuah lemari besar berdiri gagah di dalam kamar, di dalamnya, di penuhi mainan robot berbagai jenis. Menurut nya, kamar itu tidak seperti kamar, lebih mirip dengan toko mainan. Clarissa gelisah, jam sudah lewat setengah jam. Namun Calvin belum menunjukkan batang hidungnya. Dari tadi ia hanya main main dengan Vino. Para pembantu Vino yang semuanya laki-laki selalu terkejut ketika melihat kehadiran Clarissa yang cantik. Clarissa terlihat cantik dengan dress selutut nya yang berwarna pastel. Rambutnya panjang, lurus, dan halus, tergerai cantik menutupi lehernya yang jenjang, putih, dan halus. Wajahnya cantik bagai bidadari, terlihat lembut dan anggun. Tubuhnya pun terlihat indah dengan p******a yang membusung seksi. Perutnya langsing, dan semakin indah, ketika turun meliuk ke bawah. b****g Clarissa yang berisi, terlihat seksi, berpadu dengan kaki Clarissa yang putih, halus, dan ramping. Para pelayan pria pun keluar dan masuk ruangan Vino, dengan berbagai alasan. Mereka selalu sok akrab dengan Clarissa. Dan melarang Clarissa terkejut, karena hanya ada pria di dalam rumah itu. Oh, pantas, dari tadi aku nggak melihat wanita sama sekali. Batin Clarissa. Hari semakin sore, Waktunya mandi bagi Vino. Vino pun mandi dengan bibir cemberut, karena harus berpisah dengan Clarissa. Setelah mandi, Vino buru buru ke ruang keluarga, karena Clarissa berada di sana. "Vino udah makan?" Tanya Clarissa. "Nggak mau. Aku disini aja sama Bu guru" Sikap keras kepala Vino muncul. "Tapi makan juga penting sayang" Clarissa lalu mencari Faris, sudah waktunya bagi dia mengurus makan Vino. Dan Clarissa kecewa. Ternyata Faris baru saja pulang. Katanya perutnya sakit. Clarissa lalu ke dapur. Ternyata berbagai menu makanan sudah siap. Tersaji di atas meja. Clarissa tahu, bagaimana cara membujuk makan anak kecil. Untung saja dapur Calvin sangat modern dan sangat lengkap. Clarissa lalu membuat makanan Vino seperti sebuah Bento. Bekal makanan imut khas milik orang Jepang. Clarissa menghias Bentonya dengan sangat imut. Nasinya ia hias seperti kepala kelinci. Sayur capcai ia jadikan sebagai rambut si kelinci. Dan di putari dengan telur puyuh, dan sosis berbentuk cumi cumi. Clarissa tidak memasak makanan itu. Ia mengambilnya dari meja, dan menatanya dengan cantik di atas piring Vino. Vino yang melihat makanannya berubah jadi lucu, memekik bahagia. Bahkan ia tertawa dan bertepuk tangan riang. Dan tanpa di paksa, ia mau makan makanannya. Bahkan sayurnya ia lahap hingga tak bersisa. Sang kepala pelayan yang berumur 50 tahun sampai terheran heran dengan Vino. Ia bercerita pada Clarissa. Baru kali ini, Vino mau makan tanpa ada paksaan. Biasanya, Vino hanya mau makan setelah berdebat dengan Faris. Makan nya pun dengan di suapi. Diam diam, Calvin ternyata sudah pulang. Dari tadi, ia mengamati Clarissa yang bisa meluluhkan hati Vino. Menurut nya, Clarissa ternyata lumayan juga. Calvin lalu muncul, ia sudah berpakaian rumah. Kaos warna putih dan sebuah celana selutut warna hitam di kenakan Calvin. Dan Calvin terlihat luar biasa tampan dan mengagumkan. Ototnya tercetak indah di balik kaosnya. Dan lengan nya yang kekar, membuat Clarissa berdecak kagum di dalam hati. Tubuhnya yang menjulang tinggi, membuat ia terlihat semakin seksi. "Papa …. Lihat, ini Bu guru, dia sudah datang dari tadi" Vino berlari menuju Calvin. Dan Calvin menangkapnya, lalu menggendong nya dengan satu tangan. "Kamu sama pak Nazar dulu ya? Papa mau ngomong sama Bu guru" Calvin menyerahkan Vino pada pak Nazar, sang kepala pelayan. Vino memang penurut jika di hadapkan pada setiap perintah Calvin. "Mari ikut saya Bu Clarissa" Calvin lalu berjalan mendahului Clarissa. Membawanya ke suatu ruangan. Sepertinya itu ruang kerja milik Calvin. Ruang yang cukup pribadi, design ruangan itu, menunjukkan seperti apa kepribadian pemiliknya. Di dalam ruang kerja Calvin, ada sebuah patung harimau sedang mengaum. Patung itu terbuat dari harimau asli yang di awetkan. Di letakkan di dalam lemari kaca. Buku buku tebal tertata rapi di dalam rak buku yang besar. Rak besar itu, sudah di penuhi buku buku, milik Calvin. Nuansa abu-abu dan hitam yang berasal dari wallpaper dinding, membuat kesan maskulin namun misterius. Semisterius sikap Calvin yang sangat percaya diri. Calvin mempersilahkan Clarissa duduk di sofa nya yang besar dan luas. Warna coklat yang maskulin dan manly. Sangat cocok untuk pria sejenis Calvin. Calvin lalu duduk di sofa single nya. Kaki panjangnya menyilang percaya diri. "Katakan apa yang ingin anda sampai kan Bu Clarissa" Suara bariton Calvin menguasai ruang kerja nya. "Sebelumnya saya minta maaf, sebagai orang tuanya, bisakah bapak menceritakan apa yang terjadi di rumah? Sehingga membuat Vino bertingkah luar biasa di sekolah. Dia sangat berbeda dengan teman nya. Vino selalu mengajak teman-teman nya bertengkar. Dan ketika lawan nya sudah menangis, ia tertawa bahagia, lalu pergi meninggalkan nya. Dan ketika di suruh minta maaf, dia tidak pernah mau. Dia tidak punya rasa takut sama siapa saja" "Oh ya? Tapi Vino takut dengan ku" Bibir Calvin tersenyum remeh. "Saya bersyukur kalau dia masih punya rasa takut. Tapi, bisakah anda lebih perhatian pada Vino? Saya yakin tingkah nakalnya hanya ingin di perhatikan. Apakah anda selalu pulang sore?" "Tidak, aku selalu pulang malam. Aku harus bekerja keras, agar hidup Vino bahagia" "Kalau anda selalu pulang malam, itu artinya anda jarang memperhatikan Vino. Kebahagiaan Vino bukan pada uang yang banyak pak. Uang memang penting, tapi kebahagiaan Vino itu segalanya Pak Calvin. Dia membutuhkan anda, bukan uang anda" Clarissa duduk tegak, berusaha meyakinkan Calvin yang bersikap dingin. Calvin tidak peduli dengan pendapat Clarissa. "Masalah aku pulang malam, anakku yang bertingkah seperti jagoan, dan anak ku yang butuh perhatian, itu bukan urusan anda Bu Clarissa" Wajah Calvin memerah. Namun suaranya tetap rendah terkendali. "Tapi pak Calvin, bisakah anda membuang ego anda demi Vino? Aku kasihan sama dia. Yang di butuhkan Vino sekarang adalah, perhatian dan kebahagiaan dari orangtua nya. Kalau dia sudah tidak punya ibu, seharusnya anda sudah tahu konsekuensinya. Anda harus bersikap seperti seorang ibu dan …," Ucapan Clarissa terhenti, karena Calvin tiba tiba berdiri. Lalu menghampiri Clarissa. Wajahnya merah, dan rahangnya mengatup erat, emosi tersimpan di kedua matanya yang kelabu. Calvin lalu membungkuk di depan Clarissa. "Beraninya kau menceramahiku Clarissa? Lancang sekali menyebut ibu di hadapanku" Tangan Calvin mencengkeram leher Clarissa. Tidak terlalu erat, namun cukup membuat Clarissa bergetar takut. "A-Aku tidak menceramahimu, aku hanya memberitahu bagaimana cara memperlakukan Vin …., Akh…" Suara aneh keluar dari bibir indah Clarissa. Matanya melotot, dan bibirnya menganga, berusaha mencari udara yang telah habis di dadanya. Calvin mencengkeram leher Clarissa erat "Sekarang aku tahu motifmu yang sebenarnya Clarissa. Awalnya ku kira kau seorang guru yang terhormat. Tapi, nyatanya, kau sama saja dengan p*****r yang menggodaku. Katakan saja terus terang, kalau kau menginginkan aku. Kalau ingin mendekati ku katakan saja dengan jujur. Jangan bawa bawa Vino dalam misi kotormu. Dasar jala** murahan" Suara Calvin rendah dan dalam, menghujam ke hati Clarissa hingga perih. Mata Clarissa meneteskan air mata. Tangan nya pun mencakari tangan Calvin yang mencekik lehernya. Clarissa putus asa, ia tidak tahu, kapan Calvin akan melepas cengkraman tangan nya. Plakk …. Tiba tiba tangan Clarissa menampar wajah tampan Calvin keras. hingga meninggalkan jejak merah di pipinya. Refleks Clarissa menamparnya agar tangan Calvin melepas cengkraman nya yang menykitkan. Mendapat serangan tak terduga dari Clarissa. Otomatis, Calvin melepas cengkraman tangan nya. Dan memegang pipinya yang terasa panas. "Anda salah faham pak Calvin. Saya bukan wanita rendahan seperti itu. Kau …, kau …," pria b******n. Calrissa hanya bisa menelan kembali kata kata kotor itu. Clarissa berdiri. Lebih baik ia meninggalkan pria kurang ajar itu, daripada dihina dan direndahkan oleh Calvin. Dengan sedikit berlari Clarissa membuka salah satu pintu di kamar itu. Wushh …. Udara kencang menerpa ruang kerja Calvin yang berada di lantai dua. Clarissa malu, ternyata ia salah pintu, yang di bukanya ternyata pintu ke sebuah balkon. Sialnya angin yang sangat kencang itu membuat baju Clarissa terbang ke atas. Baju longgarnya tidak berdaya tertiup angin kencang, terbuka hingga p******a. Tubuh Clarissa yang indah dan hanya tertutup bra dan CD nya saja terpampang indah di depan mata Calvin. Buru buru Clarissa masuk kembali ke dalam kamar, di dalam, Clarissa berusaha merapikan bajunya yang awut-awutan. Pipinya yang bersemu merah tidak bisa ia sembunyikan. Ia malu bukan kepalang. Setelah malu karena salah pintu, ternyata angin kencang pun ikut mengerjainya. Angin itu semakin membuat Clarissa semakin terpojok oleh rasa malu. Ingin rasanya, ia tenggelam ke dalam tanah. Menenggelamkan dan menyembunyikan rasa malu yang teramat sangat di seluruh sisi tubuhnya. Clarissa merasa bagaikan jatuh, tertimpa tangga pula. Gadis cantik itu, mengedarkan pandangan matanya. Menebak nebak seksama. Tinggal tersisa dua pintu. Manakah pintu yang membawanya keluar kamar yang menyesakkan dadanya itu. Ia tidak tahan lagi berada di ruangan itu. Setelah mendapatkan penghinaan dari Calvin. Mengapa rasa malu yang menggila harus menghampiri dirinya. Setelah mantap dengan pilihannya, Clarissa menghampiri pintu pilihan nya. Ia tidak peduli Calvin yang sedari tadi hanya memperhatikan dirinya. Namun sebelum tangan nya menggapai pintu itu. Tiba tiba tangan kanan Calvin menempel di dinding menghalangi kepergian Clarissa. Clarissa tidak kurang akal, ia lalu berbalik. Tapi lagi lagi tangan Calvin menghalangi tubuh Clarissa. Tubuh kecil Clarissa kini berada di bawah Kungkungan tubuh athletis Calvin yang lebih besar dan tinggi. "Jujur saja kenapa hah? Katakan terus terang kalau kau sedang menghodaku" Suara Calvin serak dan dalam. "A-Aku tidak menggodamu" Clarissa salah tingkah, karena Calvin terus memperhatikan bibirnya yang lumayan penuh dan berwarna pink. "Bohong! Jujur saja Clarissa. Aku tahu dengan benar tanda tanda wanita yang menaksir diriku. Aku tahu benar, karena sudah banyak wanita yang ku tolak. Bagiku kau dan wanita wanita yang lain sama saja. Kalian menjiikkan dan membuatku muak. Kaki ini. Apa kau kira aku akan tergoda dengan kakimu hah?" Tiba tiba Calvin memegang paha Clarissa, tangan kasarnya seperti sedang mengelus kulitnya, namun sangat perlahan. Plak …. Lagi lagi Clarissa menampar pipi Calvin keras. Hingga tangan nya sendiri pun terasa panas. "Kau? Berani sekali menampar ku lagi. Apa kau tidak tahu siapa aku hah? Aku bisa memasukkan mu ke dalam penjara, dan membusuk di sana" Suara Calvin rendah dan dalam. "Aku …, aku tidak takut. Kau sudah menghinaku, minggir!" Suara Calrissa bergetar takut, ia menepis tangan Calvin yang masih berada di pahanya. Di dorongnya kuat kuat, tubuh kekar Calvin yang keras dan berotot. "Dasar jalang murahan, pura pura sok suci …," Plakk …. Ucapan tajam Calvin berhenti, karena Clarissa lagi lagi menamparnya. Hati Clarissa sakit, lagi lagi Calvin menyebut dirinya perempuan murahan. Grepp …. Tiba tiba Calvin mengangkat tubuh Clarissa, lalu melemparnya ke sofa nya yang luas. Dan tanpa sengaja, rok Clarissa tersingkap. Sebelum Clarissa berhasil menutup roknya. Calvin sudah naik ke atasnya tangan nya dengan kasar melepas CD Clarissa. Lalu membuang nya sembarangan. "Aaa … Tolong saya. Mau apa kamu? Lepasin saya!" Calrissa memukuli d**a Calvin yang berusaha menguasai tubuhnya. Calvin tidak peduli dengan teriakan Clarissa. Tangan nya malah meremas b****g halus Clarissa yang putih. Plakk …. Clarissa menampar lagi pipi Calvin. "Singkirin tangan kotor mu!" Teriak Clarissa lagi. Calvin tidak peduli, ia malah mengangkat kaki Clarissa, dan membukanya lebar lebar. Lalu membenamkan tangan kanannya di dubur Clarissa. "Aaaa …. b******n kau Calvin lepasin tangan mu" Air mata Clarissa meleleh membasahi wajah cantiknya. Harga dirinya saat itu langsung terjun bebas ke dasar jurang. Ia benar benar seperti perempuan tak berharga. Calvin telah melecehkan dirinya. Dia mirip seperti mantan suaminya yang kurang ajar, yang tidak pernah menghargai kehadirannya. Namun teriakan nya tidak berarti. Calvin malah bermain main di dubur Clarissa. Jarinya keluar dan masuk di sana, dengan gerakan cepat. Setelah puas bermain di dubur. Tangan Calvin lalu pindah ke kemaluan. Calvin membuka lagi kaki Clarissa yang berusaha menutup. Bahkan kaki ramping nan halus itu tidak berdaya walaupun berusaha menendang tubuh Calvin. Dengan kekuatan besarnya Calvin membuka lagi kaki Clarissa. Dia tidak peduli dengan jeritan dan tangisan perempuan di bawah nya. Calvin membuka rongga kemaluan Clarissa, namun ia terlihat bertanya tanya. Di manakah tangan nya harus terbenam. Calvin tidak melihat lubang itu. Dengan kasar Calvin memasukkan jarinya sembarangan ke dalam. Lalu memainkan tangannya dengan cepat. Plak …. Lagi lagi Clarissa menampar Calvin keras. Tangan Clarissa bergetar lemah. Ia benar benar tidak berdaya dengan kekuatan tubuh Calvin yang menindihnya. "Kalau kau berani menamparku lagi. Aku akan memperkosamu" Ancam Calvin. Tidak peduli dengan tangisan Clarissa. Calvin lalu kembali memainkan tangannya di kemaluan Clarissa. Dan bibirnya tersenyum, saat melihat wajah Clarissa merah karena serangan nikmat di kemaluan nya. Calvin semakin mempercepat gerakan tangannya, dan bibirnya tersenyum puas, saat tubuh Clarissa kaku dan mengejang. Lendir yang berwarna putih pekat pun membasahi tangan Calvin. Calvin lalu bangun, menjauhi tubuh Clarissa. Ia lalu membersihkan tangan nya menggunakan tisu. "Pergi kau jalang. Jangan pernah kau tunjukkan lagi wajah mu di rumahku" Calvin melempar CD Clarissa di wajah nya yang berpeluh. Dengan wajah menahan malu dan penuh kebencian, Clarissa memakai kembali CD nya. Tanpa suara, ia keluar dari ruang kerja Calvin. Dengan jalan terburu buru, Clarissa menuruni tangga. Ia harus menahan air matanya yang hendak menetes kembali. Ia berlari lari kecil menyusuri rumah besar milik Calvin yang tak bermoral. Brugh …. Kepala Clarissa membentur keras d**a bidang. Hingga tubuh Clarissa pun terhuyung ke belakang. Clarissa lalu mengangkat wajahnya. Ia melihat seorang pria tampan berdiri di depan nya. Dia memakai baju dinas PNS. Tangan nya memegang sebuah tas kerja. Dan mata pria itu melihat Clarissa dengan tatapan bermusuhan. Belum sempat Clarissa minta maaf. Pria itu sudah pergi dari hadapan Clarissa Clarissa lalu pulang dengan harga diri yang tercabik cabik. Calvin telah menghina, dan melecehkan dirinya. Ia tidak bisa melupakan kelakuan bejad pria itu. Clarissa sangat membenci Calvin. Bersambung ….
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN