Mati Rasa

899 Kata
Tulisan ini, hanyalah fiktif belaka. Tidak bermaksud menjatuhkan laki laki atau perempuan. Pemikiran di ambil dari karakter tokoh yang mempunyai masa lalu pahit, sehingga membuat tokoh mengalami trauma, dan terbawa hingga mereka dewasa. ___________________________________ Brak …. Clarissa membanting kasar pintu hitam ruang kerja Calvin. Hingga kayu jati itu bergetar, merambat hingga ke diniding di sekitarnya. Meninggalkan Calvin yang berdiri membeku di dalam ruang kerjanya. Sudah lima menit, sejak kepergian Clarissa. Namun Calvin terus saja membersihkan jemari kekarnya menggunakan tisu, hingga tisu itu mengelupas, dan mengotori tangan nya. Calvin tidak sadar, jika jemarinya sudah bersih dari lendir milik gadis cantik yang keluar dari ruang kerjanya dengan penuh amarah. Hingga suara ketukan di pintu mengejutkan Calvin. Tok tok tok …. "Tuan Calvin. Tuan Bagas baru saja pulang dari kerja. Sekarang dia sedang mandi" Suara Pak Nazar, sang ketua pelayan, membuyarkan lamunan Calvin. "Setelah Bagas mandi, suruh dia segera kemari!" Perintah Calvin dari dalam. Ia lalu duduk di sofa lebar. Tempat ia mengerjai Clarissa si guru Calvin. "Baik tuan," Jawab Pak Nazar singkat. Setelah itu, terdengar langkah kaki pak Nazar yang meninggalkan ruang kerja Calvin. Calvin mengacak acak kesal rambut coklatnya yang tebal. Ia bingung pada dirinya sendiri. Calvin tidak mengerti, mengapa jantungnya terasa aneh ketika melihat tubuh Clarissa yang hampir telanjang ketika bajunya tertiup angin. Dan tubuh indah itu, membuat mata Calvin tidak mau beranjak. Entah mengapa matanya bisa terpaku oleh pemandangan tak terduga tersebut. Bukan nya ia bodoh, dan tidak berpengalaman mengenai tubuh wanita. Calvin sudah sering melihatnya. Mulai dari wanita malam yang menggodanya, sampai supermodel yang bertubuh tinggi nan seksi. Pernah di lihat Calvin tanpa memakai sehelai benangpun. Para pemilik tubuh itu, menggoda Calvin dengan berbagai gaya. dan tanpa malu malu, meliuk liukkan tubuhnya di depan Calvin. Mereka berlomba lomba menggoda Calvin, agar pria kaya raya itu b*******h dengan tubuhnya. Sukur sukur jika pria tajir melintir itu bisa jadi suaminya. Bukan nya tergoda. Akhirnya, Calvin malah mengusir wanita itu, dari hadapan nya. Kalau dia tidak mau pergi. Maka Calvin lah yang pergi. Calvin tidak mengerti, mengapa ia mati rasa pada tubuh wanita. Calvin sudah berkali kali berusaha, membuat dirinya b*******h dengan mereka. Namun semua sia sia. Kejantanannya masih saja tidak ber reaksi melihat tubuh bugil wanita. Calvin yakin, tubuh mati rasanya, pasti ada hubungan nya dengan masa lalunya yang menyakitkan. Dulu, bahkan hingga sekarang, ia masih sangat membenci ibu tiri dan kakak perempuan tirinya yang kejam pada dirinya. Tapi sepertinya, ada yang berbeda dengan Clarissa. Awalnya, Calvin menganggap Clarissa lumayan juga, dia bisa mengambil hati Vino. Tapi, akhirnya ia curiga dengan motif Clarissa mendekati Vino. Clarissa pasti, sebenarnya ingin mendekati Calvin, bukan mendekati Vino. Hari gini, mana ada wanita menyukai anak orang lain dengan tulus. Pasti ada motif tersembunyi di balik sikap baiknya pada Vino. Clarissa pasti hanya ingin medekati Calvin. Dan ketika sudah mendapatkan pria kaya seperti Calvin. Clarissa pasti seperti perempuan yang lain. Ia akan bersikap seperti benalu yang tidak berguna. Selalu meminta, dan menggerogoti uangnya. Perempuan memang tidak berguna, mereka hanya bisa membuat anak, lalu dengan alasan belanja keperluan anak, mereka akan memeras laki lakinya. Begitulah isi pikiran perempuan. Pikir Calvin. Tapi ada yang lain di hati Calvin saat melihat tubuh Clarissa. Perempuan itu memang tidak tinggi seperti model, tidak juga sangat pendek. Dia sedang sedang saja. Tapi sikap malu malu Clarissa ketika tubuhnya terbuka. terlihat agak berbeda dengan wanita yang selama ini menggodanya. Dan sikap malu malunya justru membuat jantung Calvin berdebar tidak karuan. Tubuh Clarissa sangat indah. Belum pernah, Calvin melihat d**a seindah milik Clarissa. d**a itu terlihat putih halus dan besar, saling berjubel di dalam bra nya. Calvin penasaran, seperti apakah rasa p******a itu dalam genggaman nya. Perutnya yang rata membuat tubuh Clarissa benar benar memukau. Dan celana dalam Clarissa yang kecil, tidak bisa menutupi bokongnya yang sangat indah dan mulus. Hingga tangan Calvin tidak tahan lagi, jika tidak menyentuhnya. Akhirnya Calvin memaksa menyentuhnya. Oh, luar biasa nikmat bongkahan itu. Putih, halus dan mulus, membakar tangan Calvin, lalu menjalar ke seluruh tubuhnya. Belum pernah Calvin melihat bongkahan seindah itu. Selama ini yang dia nikmati, rasanya kasar dan tidak sehalus milik Clarissa. Hanya dengan melihat milik Clarissa, tubuh Calvin terasa aneh, dia kepanasan, gairahnya memuncak tak terkendali. Tapi Calvin tidak mungkin melampiaskannya pada Clarissa si perempuan. Ia pantang dengan wanita. Selain mereka tidak berguna seperti benalu. Mereka juga pembawa masalah, membuat Calvin selalu teringat dengan wajah ibu dan kakak tirinya yang telah melecehkan dirinya sejak Calvin kecil. Calvin yang merasa penasaran dengan tubuh wanita, sekaligus ingin menghukum Clarissa yang sudah jelas motifnya, ingin menguasai Calvin, dengan cara mendekati Vino. Calvin lalu mengerjai Clarissa, ia memainkan kedua kemaluan milik Clarissa. Dan ia pun tahu, dimanakah titik lemah wanita. Dan penilaiannya tidak salah. Clarissa ternyata tidak jauh berbeda dengan w************n yang mendekatinya. Clarissa sudah tidak perawan. Cih, sok suci kau Clarissa. Batin Calvin. Calvin harus menghapus Clarissa dari ingatannya. Harus selalu mengingat kan hatinya. Bahwa Clarissa sama saja dengan p*****r nakal. Dan besok, ia harus menjauhkan Vino dari Mak Lampir itu, yang berpura pura menjadi guru terhormat. Besok Calvin harus memindahkan sekolah Vino. Ia harus segera membicarakan nya dengan Bagas. Dan Bagas yang di tunggu Calvin akhirnya datang. Bagas masuk ke ruang kerja Calvin dengan bibir mengerucut merajuk. Tangan kekarnya pun menyilang di depan d**a bidangnya. Dan ketika Bagas sudah berdiri di depan Calvin. Calvin lalu menarik tangan Bagas, hingga dia terjatuh tertidur di atas sofa. "Kau harus melayaniku sekarang juga Bagas. Aku sudah tidak tahan lagi" Bersambung ….
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN