Keluar dari sekolah

1426 Kata
Hari ini terasa berbeda. Clarissa yang biasanya bersemangat ketika pulang dari mengajar. Kini terlihat murung. Selesai meletakkan sepatu di rak. Ia langsung pergi ke kamarnya. Bu Astri yang sedang menyiram bunga. Terheran heran dengan sikap Clarissa yang tiba tiba ngeloyor tanpa mengucapkan salam padanya. Ia hanya mencium tangan Bu Astri sekilas, lalu pergi begitu saja. Biasanya, anak sulung nya itu, langsung tanya, masak apa Bu? Makan bareng Rissa yuk, Apa nggak capek? Siang siang gini masih ngerjain kerjaan rumah? Istirahat yuk. Anak sulung nya yang selalu perhatian, kini terlihat cuek, bahu rampingnya melorot, seperti menanggung beban berat. Dan wajahnya tampak lesu, tidak bersemangat. Ada apa sama dia? Batin Bu Astri. Ia segera menyudahi kegiatan menyiram bunga. Lalu masuk ke dalam rumah. Clarissa ternyata tidak ada di meja makan seperti biasanya. Bu Astri menduga Clarissa berada di kamarnya. Karena kamar itu tertutup rapat, bahkan terkunci. Tok tok tok …. Bu Astri mengetuk kamar Clarissa "Rissa, makan dulu nak. Kamu pasti lapar kan? Ibu udah masak ikan pindang bumbu balado kesukaanmu." Tidak ada jawaban apapun. Namun, tidak lama kemudian, Clarissa keluar kamar. Tanpa suara, dia lalu ke dapur. Dengan ogah ogahan, menyendok nasi, kemudian menyiram nasinya dengan kuah sayur asem. Tidak lupa sebuah ikan ia taruh di atas nasinya. Bu Astri memperhatikan Clarissa yang sedang makan. Selama ini, Clarissa lah yang menjadi tumpuan ekonomi keluarga. Dengan gajinya yang pas Pasan. Clarissa tidak pernah mengeluh harus menghidupi keluarganya. Clarissa melarang ibunya kerja, walaupun itu sekedar menyetrika baju tetangga. Alasan nya, tubuh ibunya yang sangat lemah dan mudah kambuh, sakit jantungnya jika kelelahan. Membuat Clarissa melarang ibunya kerja sedikitpun. Terkadang, jika Jasmin punya uang lebih, ia juga ikut memberi ibunya uang. Tapi tetap saja, Clarissa lah yang paling berat kehidupan nya. Setelah tubuh dan hatinya dilukai oleh mantan suaminya, 2 tahun lalu. Dan Johan mantan suami Clarissa, telah masuk penjara karena kasus KDRT. Bu Astri masih merasa bersalah. Hingga sekarang, ia menyesal, telah mengizinkan Johan menikahi Clarissa. Dan sekarang, yang bisa ia lakukan untuk Clarissa hanyalah, merawat, dan mencurahkan kasih sayang nya untuk Clarissa dan Jasmin. Berharap, kelak keduanya, menikah dengan seseorang yang tulus mencintainya. "Rissa, kamu kenapa nak? Apa yang kamu pikirin?" Tanya Bu Astri khawatir. Melihat wajah Clarissa yang selalu tertekuk dan tidak ceria "Nggak ada apa apa. Masalah ini nggak penting kok" Elak Clarissa. Ingin berbohong, namun tidak sanggup. Apalagi wajah nya benar benar tidak mendukung untuk berbohong. Clarissa enggan menatap ibunya, khawatir jika ibunya bisa melihat kesedihan di matanya. "Kalau emang nggak penting, kenapa kamu diam aja? Ceritakan sama ibu nak, siapa tahu ibu bisa bantu" Bu Astri meletakkan segelas air di samping piring Clarissa, ia lalu duduk mendekat ke putrinya. Clarissa meminum airnya. Setelah itu, ditaruhnya gelas itu di meja. Hati gundahnya belum juga sirna, walau telah ia tenangkan, dengan segelas air. Clarissa kemudian, menarik nafas nya panjang, lalu menghembuskan nya melalui mulut. "Vino bu. Dia udah aku anggap kayak anak ku sendiri" Clarissa akhirnya tidak sanggup lagi menyimpan beban pikirannya. Tangan lentiknya menekan kedua matanya, berharap air mata tidak tumpah dari sana. "Iya, ibu tahu sayang, tempo hari kamu udah cerita sama ibu dan Jasmin. Kalau kamu menyukai Vino" "Aku sedih ibu, Vino hari ini pindah sekolah. Hatiku sakit, aku nggak bisa lagi lihat wajah nya" Ucap Clarissa, sambil menghapus setetes airmata yang lolos dari mata beningnya. "Dia mendadak pindah? Kenapa tiba tiba sekali? Dia kan baru sebulan di sekolahmu" Bu Astri, menarik kepala Clarissa bersandar pada bahu rapuhnya. "Rissa juga nggak tahu bu, kenapa dia tiba tiba pindah. Aku nggak bisa lupain dia ibu. Aku udah terlanjur sayang sama dia. Bahkan, Rissa tadi, sampai nggak bisa fokus ngajar, gara gara Vino nggak ada. Vino … hu …." Tangisan Clarissa terasa hampa. Karena malaikat kecilnya tidak akan mendengarnya. Bu Astri tidak tega mendengar suara tangisan Clarissa yang menyayat hati. Di belai nya penuh kasih rambut panjang Clarissa. Mencoba menenangkan hati nya yang gundah. Ia sadar, tidak bisa berbuat apa-apa, karena Clarissa bukanlah orang tuanya, ataupun kerabat Vino. Sehingga, ia tidak punya hak apapun terhadap Vino. "Ibu tahu, kamu sangat mencintai Vino. Tapi, mau bagaimana lagi, kamu bukan apa apanya dia. Ibu punya usul, gimana kalau kamu buat anak aja? Biar nggak terlalu mikirin Vino" Mendengar jawaban ibunya, Clarissa mengerucutkan bibirnya "Apaan sih bu. Emang nya mudah buat anak? Kayak bikin kue aja" "Maksud ibu, gimana kalau kamu nikah lagi? Ibu yakin, banyak kok laki laki yang baik di luar sana. Lupakan kelakuan b***t mantan suami mu yang kejam itu. Sekarang, carilah suami yang baik dan pengertian. Sholat istikharah juga, biar benar benar tahu, apakah calon mu itu benar benar orang yang terbaik untuk kamu" "Tapi aku masih takut bu" Clarissa menyembunyikan wajahnya di bahu ibunya. Bayangan bayangan Johan yang dulu sering melampiaskan marahnya pada Clarissa ketika sedang marah, membuat Clarissa bergidik takut. Kelakuan Johan memang sangat brutal. Awalnya semua terlihat baik baik saja. Pekerjaan Johan sebagai karyawan di sebuah perusahaan terkenal, membuat gajinya bisa dibilang lumayan. Dia mengenal Clarissa, ketika tidak sengaja sering bertemu di halte bus. Karena sering melihat Clarissa yang cantik sedang menunggu bis, Johan pun menepikan mobil, lalu memberikan Clarissa tumpangan, ke tempat kerjanya. Baru satu bulan mereka kenal. Johan langsung melamarnya. Pernikahan Clarissa ternyata awal bencana buruk dalam hidupnya. Selama hidupnya, baru kali ini, Clarissa mengalami yang namanya di pukul, di tendang, tangan nya di sulut api rokok, dan masih banyak lagi kekejaman yang ia dapatkan dari Johan. Namun, Demi menjaga keharmonisan keluarganya, Clarissa memendam semua masalahnya selama 1 tahun pernikahan mereka. Puncaknya ketika Johan marah karena cemburu. Dia mengatakan bahwa di perut Clarissa bukan lah darah dagingnya. Clarissa pun sudah menjelaskan semua, bahwa Johan salah faham. Tapi sia-sia, mata hati Johan sudah tertutup. Dengan tanpa perasaan, ia menendang kuat perut Clarissa yang sudah memasuki umur kehamilan 8 bulan. Dan setelah menendang, Johan lalu keluar dari apartemen mereka. karena tendangan keras itu. Clarissa seketika itu juga, langsung mengalami pendarahan hebat. Dengan menangis, Clarissa keluar dari apartemen. Orang-orang yang melihat keadaan Clarissa segera membawanya ke rumah sakit. bayi Clarissa akhirnya keluar lebih awal. Akibat tendangan dari sang ayah. Bayi Clarissa bermasalah dengan pernafasan nya, jantungnya yang belum sempurna mengalami kebocoran. Setelah Clarissa merengek rengek ingin melihat dan menyentuh bayinya. Akhirnya dokter mengizinkan Clarissa melihat dan menggendong bayinya. Tapi, baru saja menggendongnya satu menit, Clarissa langsung jatuh pingsan. Ia tidak kuat dan tidak tega melihat nafas bayinya yang terengah-engah. d**a kecilnya juga mengembang dan mengempis dengan gerakan cepat. Besar bayinya yang hanya sebotol air mineral, di tambah lagi dadanya yang bernafas sangat cepat. Membuat Clarissa tidak kuat melihat bayinya menderita. Dan akibat perbuatannya itu, Johan dilaporkan ke Polisi oleh keluarga Clarissa. Johan pun masuk penjara. Dan ketika Clarissa melihat nafas Vino yang sesak, membuat ia teringat dengan sosok anaknya yang sangat lemah. Dan sejak itu, cinta Clarissa untuk Vino, tumpah ruah begitu saja. Ia merasa melihat ada anak nya di dalam tubuh Vino. "Gimana nak? Mau kan nikah lagi? Kemarin Bu Sri, nanyain kamu loh. Katanya, anak nya yang sudah menduda, dan punya anak satu tertarik sama kamu" "Entahlah bu, aku masih belum ingin memikirkan nya" Selain teringat dengan kelakuan Johan. Clarissa juga ingat dengan kelakuan Calvin yang melecehkan dirinya. Clarissa semakin merasa, bahwa hidupnya pasti benar-benar sial, mungkin takdirnya memang harus bertemu pria jahat dan dan tidak bermoral. Clarissa berpikir, apakah lebih baik menjalani sisa hidupnya seorang diri saja? Menghabiskan sisa hidupnya dengan ibu tercintanya. Dan hidupnya akan lebih lengkap, jika ada Vino di sisinya. Vino ku, ibu merindukan mu sayang. Clarissa terisak. Bu Astri lalu memeluk tubuh Clarissa "Sudah sayang, jangan menangis lagi. Kamu masih belum mau menikah? Baiklah, ibu tidak akan memaksamu. Tapi, kalau bisa pikirkan lamaran dari Bu Sri nak, ibu kenal betul dengan keluarga dia. Bu Sri dan suaminya adalah orang penyabar, dan anak anak nya setahu ibu, tidak ada yang neko neko. Mereka itu penurut, dan tidak pembangkang. Apalagi Deni yang ingin menikahimu. Dia duda, karena istrinya meninggal waktu melahirkan anaknya. Dan anaknya sekarang masih umur 2 tahun. Kamu pasti sangat mudah menaklukan hati anak nya Rissa, dan setahu ibu. Kalau mau cari pasangan duda, carilah yang di tinggal mati, bukan pisah karena cerai, karena jika pisah karena cerai, kita nggak tahu, siapakah yang tidak beres di antara keduanya" "Dan aku janda cerai bu” Ucap Clarissa sedih. "Tapi, semua orang di desa tahu nak, kamu lah yang jadi korban, jadi pertimbangkan baik baik usul ibu ya nak. Udah jam setengah dua nih, buruan sholat dhuhur. Nggak baik, mengulur ulur waktu Sholat" "Iya bu," Ucap Clarissa patuh. Ia lalu menyimpan sedihnya. Bangun dari duduknya dan segera ke kamar mandi. Ia harus segera sholat Dhuhur. Bersambung ….
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN