Sudah satu bulan ini, Clarissa mengajar tanpa semangat. Cahaya mentari yang baru saja ia dapatkan, dalam sekejap telah meninggal kan dirinya. Kini Clarissa bagai hidup di malam hari yang dingin. Perasaan yang teramat pedih, selalu memeluk hatinya yang dingin. Malam malam nya, di dalam setiap doanya. Clarissa menjerit di dalam hati. Memanggil manggil nama Vino, agar kembali padanya. Vino nya telah pergi meninggalkan dirinya selama satu bulan.
Clarissa semakin tidak berdaya, ketika tidak bisa menghubungi Vino. Beberapa kali, Clarissa sengaja lewat depan rumahnya, tapi sayang, Clarissa tidak pernah melihat sosok Vino yang sangat ia rindukan. Rumah itu begitu ketat pengamanan nya, sehingga tidak mudah, ketika ingin masuk dan sekedar menemui Vino.
"Udah dong Ris, jangan mikirin Vino terus, masih banyak anak lain di sekolah yang mesti kamu perhatiin juga" Dewi, menarik kursi plastik, mendekat ke arah sahabatnya, lalu duduk di samping Clarissa.
"Vino beda Wi, dia anak broken home. Waktu dia nangis dan butuh perhatian, papanya malah ngasih dia mainan dan barang barang mewah. Makanya dia tumbuh jadi anak yang manja, semua keinginannya harus di penuhi, nggak punya sopan santun. Aku kasihan sama dia Wi. Aku nggak tahu, kenapa aku nggak bisa berhenti, mikirin dia" mata Clarissa selalu berkaca kaca, ketika melihat wajah imut Vino di layar ponselnya. Ia membelai pelan, wajah Vino yang ada di ponselnya.
"Ris, kamu belum kenal sama Dinda anak nya mas Deni kan? Dia juga lucu loh, dia masih kecil, dan butuh perhatian juga. Coba deh, kamu dekat sama mas Deni, siapa tahu kalian cocok. Kamu pecinta anak anak, sedangkan mas Deni, dia mencari wanita penyayang anak, apalagi dia itu orang nya baik dan kalem. Aku yakin deh, kalian pasti cocok" Dewi sang tetangga Deni berusaha menjodohkan mereka. Tentu saja atas permintaan Deni.
"Iya deh, kapan kapan, aku akan coba kenal sama dia" Clarissa terpaksa mengiyakan permintaan sahabatnya itu, yang berulang kali menjodohkan dirinya dengan Deni.
"Nah gitu dong sayang, move on dari Vino. Berhenti mikirin dia, yang nggak mungkin kamu miliki. Udah jam 1 siang nih, pulang yuk?" Dewi senang, akhirnya Clarissa menyetujui permintaan nya, mau berkenalan dengan Deni. Langkah selanjutnya yaitu, mengatur jadwal Clarissa dan Deni agar bisa bertemu.
Setelah mendapat jawaban yang memuaskan, Dewi bangun dari duduknya. Lalu menuju mejanya, membereskan mejanya, kemudian memasukkan barang barang nya ke dalam tas.
Wajah Dewi sumringah, sebentar lagi dia akan dapat uang dari Deni. Denii berjanji, akan memberinya uang, jika Clarissa mau menemui dirinya.
Tok tok tok ….
Pintu ruang kantor di ketuk oleh pak Bambang, sang satpam sekolah.
"Assalamualaikum … Bu Rissa ada?" Pak Bambang berdiri di ambang pintu.
"Ya pak, ada apa?" Clarissa menghampiri pak Bambang, tasnya sudah ia sampirkan di bahu rampingnya. Hari ini, tidak ada jadwal memakai baju seragam guru. Sehingga Clarissa memakai baju dress kesukaan nya yang panjangnya selutut.
"Ada dua orang berbaju serba hitam, mencarimu di depan sekolah, sepertinya mereka adalah bodyguard ayahnya Vino, ayo cepat!" Pak Bambang tidak bisa melupakan bodyguard Calvin. Karena memang tidak ada orang tua murid, yang membawa serta bodyguard nya ketika mendaftarkan anaknya sekolah. Pak Bambang berjalan kembali ke kantor pos nya, yang ada di dekat gerbang sekolah.
Clarissa dan Dewi lalu berjalan membuntuti pak Bambang, wajah Clarissa bertanya tanya, mengapa bodyguard Calvin mencarinya?
Seorang pria memakai kaos hitam dan celana panjang hitam, berdiri tak sabar menyandar di gerbang sekolah, dan segera menoleh, ketika pak Bambang datang. Rissa lalu menghampiri pria itu.
Pria itu menatap wanita cantik di depan nya, setelah pak Bambang mengatakan dia lah Clarissa, wanita yang sedang dia cari. Pria itu mengulurkan tangannya pada Clarissa.
"Anda Bu Clarissa? Saya Teguh, salah satu bodyguard tuan Calvin," Ucap pria itu, wajahnya serius.
"Iya, ada apa?" Wajah Clarissa terlihat tidak senang, ketika mendengar nama Calvin disebut. Ia sudah melupakan nama j*****m itu.
"Begini, tuan Calvin meyuruh anda ke rumah sakit. Vino sedang sakit" Ucap pria berlengan kekar itu.
"Vino sakit? Dia sakit apa? Sudah berapa hari dia sakit?" Pertanyaan Clarissa bertubi tubi. Hatinya langsung di lipitu perasaan sedih, ketika mendengar nama itu sedang sakit.
"Vino sudah seminggu ini sakit panas. Sekarang, bisakah anda ikut saya? Sejak semalam dia belum bangun sama sekali. Dan dia terus memanggil manggil nama anda" Teguh membuka pintu belakang mobil, mempersilahkan Clarissa masuk.
"Aku naik motor aja, di sini nanti tidak ada yang jaga motor saya" tolak Clarissa, ia berjalan ke arah motornya tergesa gesa.
"Silahkan naik mobil Bu Clarissa, biar Andre yang membawa motor anda, saya akan mengantar anda ke rumah sakit dengan cepat. Ndre tolong bawa motor Bu Clarissa" Teguh menyusul Clarissa ke motornya.
Tanpa penolakan, Clarissa lalu naik ke marcedes hitam itu "Wi, aku duluan ya?" Ucap Clarissa pada Dewi. Dia melambaikan tangannya.
"Ok" jawab Dewi singkat, bibirnya melongo. Barusan ia berhasil menjauhkan Clarissa dari Vino. Namun, mengapa kini mereka berdekatan lagi?
********
Wut wut wut ….
Sebuah helikopter Sikorsky blue navy perlahan turun di atap gedung Kingworld. Di sisi helipad berdiri beberapa orang yang siap menyambut kedatangan bos besar mereka, yang baru saja kembali dari Malaysia.
Tidak lama, pintu helikopter di buka dari dalam oleh Hari, sekretaris Calvin. Setelah Hari turun, Calvin lalu turun dari helikopter mewahnya. Di ikuti 2 bodyguard nya. Yang siap melindunginya dari lawan bisnisnya yang bermain kotor. Dan dari beberapa wartawan menjengkelkan yang selalu ingin tahu kehidupan pribadinya.
Dengan langkah kaki mantap. Calvin masuk ke dalam gedung. Terik panas matahari jam 2 siang, yang sejenak ia rasakan. Berganti dengan hawa sejuk dari pendingin ruangan di lift pribadinya.
"Pak Hendra dari pabrik cabang yang ada di Sulawesi, sudah menunggu anda di ruang meeting di lantai 12" Lapor Adi sang asisten pribadi Calvin, ketika berada di dalam lift. Hari ini dia tidak ikut ke Malaysia, karena mengurus keperluan Calvin yang lain.
"Selain perusahaan yang ada di Sulawesi, ada lagi yang lain?" Tanya Calvin, berharap ada informasi lain yang selama ini coba ia hindari.
"Barusan, Teguh telpon. Bu Clarissa sudah ada di rumah sakit"
"Apa teguh memaksanya menjenguk Vino?" Calvin melirik Adi.
"Tidak bos, bahkan Bu Clarissa, selalu menangis ketika melihat Vino"
"Bagus" Calvin menganggukkan kepalanya, puas atas laporan Adi. Sebelumnya, Ia mengira, Clarissa tidak akan mau menemui Vino, setelah apa yang pernah dia lakukan pada Clarissa.
Di lantai 20. Tempat kantornya berada. Calvin lalu keluar dari lift, menuju ruang kerjanya, di ikuti oleh asisten, sekretaris, bodyguard dan dua orang pemimpin divisi Humas dan pemasaran yang akan ikut rapat dengan Calvin sebentar lagi.
Di dalam ruangan nya, Calvin melepas kemeja dan jas nya yang sudah bau keringat. Menggantinya dengan kemeja dan jas bersih yang sudah disiapkan oleh Adi.
"Kalian sudah menyiapkan berkas untuk rapat?" Tanya Calvin pada dua orang pemimpin divisi. Tangan nya sibuk mencari dokumen yang diam diam dia siapkan sendiri.
"Sudah pak, saya sudah menaruhnya di tempat meeting. Di Sana sudah ada wakil saya" Ucap salah seorang pemimpin Divisi.
Akhirnya Calvin menemukan dokumen yang ia cari. Diam diam, ia menyelidiki pabriknya yang ada di Sulawesi. Ia curiga dengan kinerja pemimpin perusahaan di sana. Calvin curiga, bagaimana bisa mesin canggih keluaran terbaru yang di produksi hanya di sana, sudah di contek perusahaan baru. Calvin tidak akan memberi ampun bagi siapa saja yang telah mengkhianatinya.
Calvin berjalan tergesa gesa ke pintu. Ia sudah tidak sabar memberi hukuman bagi para pengkhianat. Bukti di tangan nya sudah cukup kuat. Untuk menyingkirkan ulat bulu yang telah mengganggu perusahaan. Usaha yang susah payah ia besarkan, setelah di tinggal oleh ayahnya dalam keadaan sekarat.
"Tunggu bos, anda belum makan siang" Adi meletakkan baki berisi beberapa makanan di atasnya, dan sebuah s**u rendah lemak di atas meja sofa.
Calvin yang belum sempat makan, segera menghampiri makan siangnya. Ia hanya mengambil sebuah sandwich, kemudian meminum susunya. Baru seteguk ia meminumnya, Calvin langsung menaruh susunya.
"s**u apa ini? Kenapa baunya seperti kambing?" Hardik Calvin pada Adi.
"Maaf bos, s**u anda habis. Saya lupa membeli nya. Tapi, katanya s**u kambing ini manfaatnya sangat baik untuk kesehatan bos" Wajah Adi pias, ternyata bos nya bisa membedakan rasa susunya.
"Gara gara kau, aku tidak makan siang Adi. Ingat! Aku tidak mentolerir kesalahan ke dua" Ancam Calvin tidak main main. Ia lalu berbalik. Keluar dari ruangan nya, dan segera ke lantai 12. Untuk melakukan meeting.
"Ba-baik bos" Jawab Adi, terbata. Ia lalu mengikuti Calvin ke tempat meeting.
*****
Baru saja Clarissa masuk kamar rawat Vino. Air matanya langsung menitik. Hatinya terenyuh, saat mendengar bibir mungil Vino memanggil Clarissa dalam tidurnya. Rupanya Vino pun mengalami hal yang sama dengan dirinya. Mereka sama sama saling merindu.
Perlahan Clarissa berjalan ke ranjang Vino, ia lalu duduk di samping ranjang. Digenggamnya lembut tangan kecil yang lemah itu "Vino, bangun sayang, ibu di sini," Lirih Clarissa. Ia berharap, suatu saat nanti, Vino memanggil dirinya dengan sebutan ibu.
Clarissa menggenggam erat, tangan kecil milik Vino. Tangan mungil itu terasa hangat dalam dekapan tangan nya. Tidak terasa, hampir satu jam sudah, Clarissa duduk seorang diri di kamar rawat Vino. 2 bodyguard yang tadi menyusul dirinya. Mereka memilih berjaga di luar kamar.
Air mata Clarissa terus berderai. Hatinya hancur melihat Vino yang selama ini ada di dalam setiap hela nafasnya, tertidur lemah tidak berdaya. Bahkan suhu tubuhnya masih tinggi. Berulang kali ia memanggil namanya dan mencium tangan Vino. Tapi Vino masih saja tidak bergerak.
Mata Clarissa tertahan pada jam yang menempel di dinding. Jam menunjukkan pukul 2 siang. Dan Clarissa teringat, ia belum sholat dhuhur.
"Vino, ibu tinggal sebentar ya? Ibu mau sholat dulu" Clarissa menggenggam erat tangan Vino, seolah tak rela tangan mungil itu lepas dari dekapan hangat tangan nya. Clarissa lalu mencium dahi Vino.
Ajaib, tiba tiba jemari Vino bergerak gerak dalam genggaman tangan Clarissa "Vino? Kamu sudah sadar sayang?" Mata Clarissa terbelalak tak percaya. Bibirnya tersenyum melihat mata Vino perlahan terbuka.
"Bu guru?" Suara Vino lemah. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya. Tidak yakin, di depan nya adalah wanita yang selama ini ia rindukan
"Iya sayang, ini Bu guru. Syukurlah, kamu sudah bangun" Bibir Clarissa tersenyum, Vino pun ikutan tersenyum " Bentar ya, ibu mau sholat dulu" Clarissa hendak pergi, namun tangan Vino menahan nya.
"Bu guru, jangan tinggalin Vino lagi" Bibir Vino sudah menyebik hendak menangis.
"Ibu nggak kemana mana sayang. Cuma mau ke toilet aja. Habis itu sholat di kamar" Clarissa membuka helaian Surai Vino, lalu mengecupnya sayang. Vino akhirnya mau melepas genggaman tangan nya.
Clarissa lalu ke kamar mandi. Setelah itu, sholat dhuhur di kamar. Untunglah kamar VIP Vino, sudah dilengkapi dengan mukena dan sajadah. Jadi Clarissa tidak perlu pergi ke luar kamar untuk melakukan sholat.
Selesai sholat. Clarissa menyuapi Vino makan. Makanan itu sudah tersedia di atas meja. Dan tentu saja, Vino hanya mau makan satu suap saja, nasi dingin itu.
Clarissa lalu menelpon ibunya, bahwa ia sedang ada di rumah sakit. Dan mungkin pulangnya agak malam. Bu Astri pun memakluminya. Apalagi ia tahu betul. Bahwa setiap malam Clarissa menangisi Vino.
"Biar cepat sembuh, habis ini makan lagi ya sayang?" Clarissa memperhatikan Vino yang sedang melihat Video di ponsel Clarissa.
"Nggak mau, nasinya nggak enak" Vino menggelengkan kepalanya. Ia lalu menaruh ponsel Clarissa, kurang tertarik dengan isi ponsel Clarissa yang membosankan.
"Vino nggak mau sembuh?" Wajah Clarissa khawatir.
"Nggak mau, nanti kalau aku sembuh. Bu guru pasti ninggalin aku lagi" Rajuk Vino. Bibir Vino menyebik lagi, hendak menangis. Melihat Vino hendak menangis, Clarissa lalu naik ke atas ranjang. Di peluknya tubuh kecil itu. Dan hati Clarissa merasa damai, setiap kali merasakan tubuh Vino dalam dekapan nya.
"Ibu juga nggak mau kehilangan kamu sayang. Ibu sayang kamu, Vino" Bisik Clarissa dengan suara bergetar. Berusaha menyembunyikan tangis nya. Bukan dirinya yang meninggalkan Vino. Tapi Calvin lah yang ingin Vino meninggalkan Clarissa.
"Aku boleh panggil Bu guru, Ibu?" Vino merenggangkan pelukan Clarissa. Wajah nya penuh harap menatap wanita cantik di depan nya.
"Tentu saja, panggil aku ibu sayang. Kamu adalah anak ibu, Vino" Air mata pun jatuh di pipi Clarissa, ia sangat bahagia. Di peluknya lagi tubuh mungil itu, dan menangis terisak.
"Ibu …," Vino memeluk pinggang Clarissa.
"Ya sayang?" Clarissa menatap pria kecil dalam dekapan nya. Dan Vino hanya menggelengkan kepalanya, Menyembunyikan wajahnya di pelukan Clarissa.
Rupanya Vino pun tidak percaya, akhirnya ia punya seorang ibu, sosok yang selama ini tidak pernah ia bayangkan, bisa memilikinya. Ibu barunya sangat baik dan lembut, dan penuh dengan kasih sayang.
Bayangan ibu yang jahat dan kasar sangat jauh berbeda dengan Clarissa. Selama ini, dia selalu mengira, sosok ibu adalah perempuan jahat dan tidak berperasaan, seperti yang selalu di katakan papa dan Daddy nya.
Krucuk ….
Perut Vino tiba-tiba berbunyi. Membuat Clarissa merenggangkan pelukan nya. Di tatapnya pria kecil dalam pelukan nya itu.
"Vino lapar kan?" Todong Clarissa, ia menowel hidung kecil Vino yang mancung.
"Aku lapar. Tapi nggak suka makan itu, nggak enak!" Vino menunujuk makanan nya yang masih utuh di atas meja.
"Gimana kalau kita beli di luar aja?" Bujuk Clarissa.
"Tapi yang enak ya Bu?" Suara itu terasa indah di telinga Clarissa. Ia tidak menyangka, bisa sebahagia itu. Hanya karena Vino memanggilnya ibu.
"Iya sayang" Ia lalu keluar kamar. Menyuruh bodyguard, mencarikan Vino kursi roda.
Vino senang, bisa jalan jalan dan keluar ruangan. Walaupun awalnya Teguh melarang. Namun berkat keahlian Clarissa, membujuk Teguh. Ia akhirnya berhasil mengajak Vino keluar kamar. Alasan nya hanya karena, agar Vino bahagia, dan bahagia itu membuat Vino bisa cepat sembuh.
Di luar. Teguh dan Andre, selalu membuntuti kemanapun Clarissa membawa Vino pergi. Mereka lalu pergi ke kantin rumah sakit. Membelikan Vino semangkuk soto daging. Clarissa juga menyuruh Teguh dan Andre ikut makan.
Awalnya Teguh menolak untuk makan bersama, namun Clarissa meyakinkan semua akan baik baik saja. Teguh dan Andre pun akhirnya ikut makan di kantin bersama sama. Ternyata mereka bertiga sangat nyaman bisa berbincang bincang bersama, sambil menikmati semangkuk soto di sore hari.
Sebelum kembali ke kamar. Clarissa membelikan sebuah balon untuk Vino. Balon itulah yang mempertemukan Vino dan Clarissa. Membawa kenangan termanis, bagi Clarissa.
Clarissa lalu menitipkan Vino pada teguh. Ia membelikan Vino sebuah balon warna hijau, warna yang di minta oleh Vino.
Clarissa membeli balon itu pada seorang pria tua bersepeda. Wajah nya yang sayu, langsung tersenyum bahagia, dan mengucapkan terima kasih ketika Clarissa membeli balon nya. Bahkan ia mendoakan kebahagiaan Clarissa. Clarissa pun senang, dengan doa tulus sang kakek. Dan ia mengucapkan Amin.
Selesai membeli balon. Clarissa lalu kembali ke kamar Vino, dengan melewati taman rumah sakit yang asri. Taman itu indah, di penuhi berbagai macam bunga dan pepohonan rindang.
Vino duduk tenang di kursi rodanya. Ia bercerita banyak hal tentang sekolah barunya yang tidak ia suka. Dan ingin kembali ke sekolah Clarissa.
Tiba tiba, Tanpa sengaja, balon Vino lolos dari tangan nya. Balon itu terbang ke atas. Dan tersangkut di salah satu pohon. Vino pun menangisi balon nya yang terbang.
Beruntung mereka sedang lewat di bawah pohon, ketika balon Vino terlepas. Sehingga balon Vino tersangkut di dahan pohon yang tidak terlalu tinggi. Dahan itu memang tidak terlalu tinggi. Namun cukup tinggi untuk Clarissa yang lumayan pendek.
Clarissa lalu meloncat loncat menggapai balon Vino. Tapi sia sia, tubuh nya terlalu pendek untuk menggapai balon itu.
Andre, salah satu bodyguard Calvin, yang bertubuh jangkung hendak menolong Clarissa. Sebelum ia maju, tiba tiba langkah kakinya di hentikan oleh seseorang.
Tangan kekar seseorang menahan lengan Andre. Pemilik tangan kokoh itu, lalu maju mendekat ke arah Clarissa yang masih melompat lompat. Kaki jenjang dan indah Clarissa kadang sampai terlihat pahanya. Karena dress selututnya yang ia pakai, ikut melompat lompat ke atas ketika Clarissa melompat.
Hup ….
Sepasang lengan kokoh yang mempunyai tubuh atletis tiba tiba mengangkat tubuh Clarissa agak tinggi.
Clarissa yang terkejut menjerit panik, tidak menyangka, seseorang dengan mudah mengangkat tubuh nya tinggi-tinggi. Dan yang membuatnya panik, lengan itu menyangga b****g nya. Dan kepala pemilik tangan itu berada di selakangan kaki Clarissa. Clarissa menoleh ke bawah. Tubuhnya membeku, ketika melihat pria yang tengah menggendongnya.
"Pak Calvin?" Pekik Clarissa tertahan. Ia menahan bibirnya agar tidak berteriak, menahan bibirnya agar tidak memaki pria yang telah melecehkan dirinya di hadapan Vino.
"Turunkan aku" Clarissa memukuli lengan kekar Calvin. Ia tidak suka Calvin menyentuh tubuhnya seenak jidat Calvin.
"Ambil dulu balon Vino!" Perintah si tukang perintah itu.
Clarissa pun tidak punya pilihan. Tangan nya lalu menggapai balon Vino, yang kini terjangkau oleh Clarissa.
Setelah melihat balon itu di ambil Clarissa. Perlahan Calvin menurunkan tubuh wanita dalam dekapan nya. Clarissa tidak menyangka, gerakan perlahan Calvin yang menurunkan tubuhnya. Membuat jarak mereka sangat dekat. Bahkan tubuh mereka menempel erat satu sama lain. Dan yang membuat Clarissa semakin tidak nyaman, ketika dadanya perlahan menggesek wajah dan d**a Calvin.
Ketika kaki Clarissa menyentuh tanah. Buru buru ia melepaskan pelukan Calvin, dan menjauh dari tubuh pria yang telah mengatainya, bahwa Clarissa adalah w************n.
Tanpa berkata apapun, Clarissa lalu membalikkan badannya. Menyerahkan balonnya ke Vino dengan senyuman sealami mungkin. Ia harus berpura pura tidak terjadi sesuatu di antara ke duanya.
Bersambung ….