12. Gara-gara Cicak

1531 Kata
Malam datang menjelang. Kegelapan menguasai langit. Bahkan cahaya bulan pun enggan muncul. Hanya beberapa bintang gemintang setia menemani gelap gulitanya malam. Di sebuah kamar rawat inap kelas VIP rumah sakit swasta. Clarissa menepuk nepuk lembut b****g Vino, yang tidur dalam pelukannya. Setelah susah payah meyakinkan Vino, bahwa dirinya tidak akan meninggalkan Vino. Vino akhirnya mau tidur. Sejenak, Clarissa mampu tertidur bersama Vino. Perutnya yang sejak sore belum terisi membuat Clarissa bangun dari tidur. Sore tadi, dia hanya menyuapi Vino makan. Ia belum ingin makan, karena belum lapar. Perlahan Clarissa turun dari ranjang. Melalui kaca di pintu, Ia melihat Calvin di luar ruangan, sedang menelpon seseorang. "Iya, nggak pa pa, aku bisa jaga Vino sendiri. Fokus saja pada kerjamu di Jogja. Bye …." Clavin mengakhiri panggilan telpon nya. Ia lalu berjalan menghampiri salah satu anak buahnya, yang berjaga di depan kamar. "Tetap fokus berjaga, kalau kalian lapar. Belilah makan secara bergiliran" Calvin memberikan 2 lembar uang ratusan ribu, pada 2 anak buahnya. Clarissa bertanya tanya, memang kenapa Vino perlu penjagaan ketat? Apakah ada seseorang yang berusaha mencelakai nya? Batin Clarissa. Clarissa sedang mengupas apel, ketika Calvin masuk ke kamar. Dengan ekspresi dingin, Clavin duduk begitu saja di samping Clarissa. Mengambil laptopnya, kemudian mulai mengutak atiknya. Clarissa melirik Calvin yang fokus pada layar laptopnya. "Mau Apel?" Clarissa terpaksa menawarkan apelnya, yang sudah ia iris menjadi beberapa bagian. Rasanya aneh jika makan sendirian, sedangkan orang di sampingnya hanya diam. "Nggak," Jawab Calvin singkat, matanya terus terarah ke layar laptop. Syukurlah kalau dia nggak mau, emang aku cuma basa basi aja kok. Batin Clarissa. Ia lalu memakan apel nya dengan cepat. Lumayan buat mengganjal perutnya yang mulai melilit kelaparan. Tiba tiba tangan Calvin mengambil 2 iris apel yang terakhir. Mata Clarissa memandang aneh tangan kokoh, nan berotot milik Calvin, yang mencomot apelnya, hingga tanpa sengaja, menyenggol jemari lentik Clarissa. Calvin lalu memakan apelnya dengan cepat. "Terserah aku jadi makan apel atau nggak. Itu apel ku sediri" Ucap Calvin cuek, ia merasa, Clarissa masih memandanginya dengan pandangan, yang seolah berkata, dasar plin plan. Clarissa lalu mengambil sebuah jeruk, entah mengapa, sebuah apel Fuji belum juga membuat perut Clarissa kenyang. Pluk …. Tiba tiba sesuatu, jatuh di bahu Clarissa. Refleks tangan nya pun menggerayangi bahunya, dan nyut … tangan Clarissa pun memegang sesuatu yang berukuran kecil, terasa lembut, empuk, dan berdenyut denyut. "Aaa …. Tolong …." Clarissa tiba tiba menjerit, dan menghambur ke arah Calvin, saat sesuatu itu justru masuk ke dalam baju Clarissa. "Kenapa?" Calvin berusaha menjauh, merenggangkan pelukan Clarissa di lengan nya. Ia tidak mengerti, mengapa perempuan yang sedari tadi mendiamkan nya, tiba tiba menempel erat di lengan nya, bagai sebuah koala. "A-ada cicak, masuk dalam baju ku" Gugup Clarissa berkata, ketika ia menempel di tubuh Calvin. Tanpa pikir panjang, ia membuka kancing bajunya. Panik yang menghantui kepala nya, membuat urat malunya terputus. Ia sangat membenci cicak. Gara gara cicak yang masuk dalam sayurnya, ia pernah muntah muntah. Dan waktu baru menganjak remaja, ujung payu daranya yang baru mekar, dan masih sakit sakitnya, Semakin sakit parah, ketika seekor cicak tanpa permisi menggigitnya, hasilnya Clarissa sangat traumatis dengan seekor cicak. "A-apa yang mau kau lakukan?" Calvin pun ikut salah tingkah, ia memandangi lekat lekat, jemari lentik Clarissa yang terburu buru membuka kancing bajunya yang hanya sampai perut. "Pak Calvin t-tolong, ada apa di belakangku? Aaaa …." Clarissa menjerit jerit kecil, takut jika Vino terbangun. Wajahnya cantiknya terlihat panik, dan ketakutan. Badannya pun terus menggeliat menempel di samping Calvin. Calvin menelan ludahnya sendiri, ketika akhirnya baju Clarissa melorot hingga perut. d**a indah wanita itu terlihat nyata, semakin dekat dengan tubuh Calvin, bahkan sesekali daging kenyal yang sebagian muncul dari bra nya yang ketat. Terasa lembut dan hangat menempel di lengan Calvin yang hanya memakai kaus putih pendek. Calvin lalu mengintip ke belakang tubuh Clarissa dan seekor cicak warna putih menempel nyaman di punggung Clarissa yang ramping. Grepp …. Calvin berhasil menangkap cicak laki laki nakal yang betah merayapi kulit Clarissa yang putih, bersih dan terasa halus. Buru buru Calvin membuang cicak itu. Tapi cicak itu sepertinya, tak ingin jauh jauh dari Clarissa. Ia terbuang di samping tubuh Clarissa. "Aaaa … Cicak …. " Clarissa semakin panik, sewaktu melihat cicak berlari mendekatinya. Tanpa pikir panjang, Clarissa menubruk tubuh Calvin hingga Calvin terhempas ke belakang. Bruk …. Tubuh lembut Clarissa menindih tubuh Calvin yang kekar dan keras. Ia tidak menyadari jika wajah Calvin menjadi merah, karena menahan gejolak nafsu yang semakin liar. "Kamu gimana sih pak Calvin? Lempar cicak tuh yang jauh, kalau bisa sampai depan pintu sana. Gara gara lemparanmu yang nggak benar, cicak itu kan lari lagi ke arah ku, aku sangat jijik sama cicak" Protes Clarissa panjang lebar, ia betah berada di atas tubuh Calvin. "Bangun Rissa!" Perintah Calvin, rahang nya mengatup erat. "Nggak mau, ada cicak di sana. Gimana kalau cicak itu merayap lagi di tubuhku? Bapak mau tanggung jawab, kalau cicak itu menggigit ku? Ini juga gara gara kamu. Masa nggak bisa, melempar cicak yang jauh? Apa susahnya melempar jauh jauh?" Ucap Clarissa lagi, ia tidak sadar, jika ia jadi cerewet, gara gara ketakutan. Sifat aslinya yang banyak bicara akhirnya terlihat oleh Calvin. Salah satu pria yang sangat ia benci. Clarissa menelan salivanya sendiri, ketika melihat ekspresi wajah Calvin yang sangat kaku. Bibir Calvin yang tidak lagi bicara, bahkan rahang kokohnya megatup erat. Menurutnya, Calvin seperti menahan amarah. Wajah mereka yang sangat dekat, tangan nya yang bertumpu di atas d**a Calvin, membuat Clarissa menyadari aroma jantan tubuh Calvin. Tapi ia tidak punya pilihan. Ia harus tetap berada di atas tubuh Calvin, agar cicak itu tidak lagi merayapi tubuh indahnya. Clarissa lalu bangun sejenak, mengangkat tubuhnya sedikit, mengintip cicak yang tadi berada di tempatnya, dan nafas Clarissa berhembus lega saat yakin, cicak itu sudah pergi dari tempatnya. Clarissa lalu bangun. "Maaf …, akh …. Clarissa hendak bangun dan minta maaf, tapi sebelum ia menyelesaikan ucapan nya, ia terkejut, karena Calvin tiba tiba mengubah posisi mereka. Clarissa kini berada di bawah Kungkungan tubuh atletis Calvin, wajah pria itu serius. Clarissa bingung, mengapa mata Calvin terus mengikuti pergerakan lidahnya yang berusaha membasahi bibirnya, yang terasa kering. "A-apa yang kamu lakukan?" Clarissa mendorong d**a kekar Calvin agar menjauh, tapi Calvin tetap berada di tempatnya. Ia semakin panik, saat wajah Calvin perlahan semakin mendekat ke wajahnya. Bahkan tangan Clarissa tidak mampu menahan laju tubuh Calvin yang semakin merapat. Mata Clarissa terpejam, dan bibirnya ia tutup rapat-rapat. Sesaat, Clarissa merasa, bibir Calvin sepertinya mencium rambut harumnya, perlahan, bibir itu lalu singgah di telinga Clarissa. "Jangan jangan, kau sengaja ingin menggodaku. Apa dengan d**a mu ini?" Bisik Calvin. Tangan nya lalu merayap di perut Clarissa, perlahan lalu menelusup ke dalam bra. "A-Apa yang kamu lakukan? Singkirin tangan mu, dasar m***m" Kedua tangan Clarissa menarik tangan Calvin yang terasa kasar, meremas remas p******a nya yang lembut dan hangat. Calvin lalu mengangkat tubuhnya dengan sebelah tangan nya, dan tangan nya yang satu, masih berada di d**a Clarissa. Meremas remas nya kasar. Seoalah berkata, bahwa Clarissa memang layak di perlakukan seperti p*****r kelas teri. "Kau pikir aku akan tertarik dengan d**a ini? Aku bahkan pernah melihat d**a yang tiga kali lebih besar dari ini. Tapi sayang, semua tidak ada yang bisa menggodaku. Ingat ini Rissa, aku tidak akan pernah b*******h melihat tubuhmu, sekalipun kau menari di depan ku tanpa sehelai baju, kau memang pantas di lecehkan seperti p*****r kelas teri. dan kelakuan mu ini, sangat mirip dengan jalang murahan, di tepi jalan" Ucap Clavin pedas. Tangan nya masih meremas remas kasar d**a Clarissa. Clarissa menangis, tidak ada suara yang keluar dari bibir pink nya, namun air mata terus mengalir, sambil tangan nya terus menarik tangan Calvin. Hatinya sakit, saat melihat bibir Calvin tertawa meremehkan dirinya. "Maaf, jika aku terlihat menggodamu, tapi sungguh, aku tidak sengaja membuka bajuku. Aku benar-benar sedang ketakutan, ku mohon, lepas kan aku pak Calvin. Hiks …." Ucap Zizi sambil menangis tertahan. Clavin lalu melepas cengkraman tangan nya di d**a Clarissa. Setelah itu, ia lalu bangun "Benahi bajumu, jangan sampai anak buahku ikut melihat d**a jelekmu itu." Clarissa lalu bangun. Tangan nya gemetar, ketika mengancingkan bajunya. Semua ini adalah salah nya sendiri, kenapa ia sampai membuka baju di depan Calvin, hanya karena takut dengan seekor cicak. Calvin duduk memunggungi Clarissa, ia enggan melihat wajah wanita itu, tangan nya lalu mengeluarkan sebungkus rokok dari saku celananya. Dengan tangan kanannya, Calvin menyulut rokoknya menggunakan sebuah korek api. Hufff …. Dengan nikmat, Calvin menyesap dalam dalam, rokok di tangan nya. Lalu tanpa perasaan, membuang asap rokoknya di dalam kamar. Krucuk …. Suara perut Clarissa lumayan keras, hingga membuat Calvin ikut menoleh. "Kau lapar?" Tanya Calvin. Dan dengan wajah bersemu merah, Clarissa menganggukkan kepalanya. Ingin berbohong tapi tidak mungkin. Dan jujur membuat nya benar-benar malu. "Kebetulan, aku juga sedang lapar, ayo cari makan di luar" Calvin berdiri, ia merasa bersalah, ketika tadi melihat air mata Clarissa. Namun Clarissa menggelengkan kepalanya. Ia tidak ingin dekat dekat dengan Calvin. "Ayo ikut dengan ku, kau harus mengisi energimu, jangan sampai kau jatuh sakit, gara gara menjaga anak ku" Calvin menarik tangan Clarissa agar berdiri. Akhirnya Clarissa menuruti ajakan Calvin, ia tidak ingin berdebat panjang, hanya karena makanan. Lagipula perutnya memang sedang menginginkan makanan. Jika tidak ia turuti, sakit mag nya bisa kambuh. Bersambung ….
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN