Sebelum baca, pliss follow akun ku ya? . . . . Pagi itu, pagi terburuk dalam sejarah hidup Clarissa. Pagi yang akan membawa kenangan pahit dalam sisa hidupnya. Tidak menyadari jika tubuh yang ada dalam pelukannya sudah kaku. Tidak ada nafas hangat yang berhembus dari hidungnya, tidak akan ada lagi nasehat yang keluar dari bibir tua itu. Pak Sabar, tetangga Clarisaa yang meminjamkan mobil, mengantarkan Bu Astri ke rumah sakit. Berulang kali, pak Sabar dan para tetangga menenangkan dua kakak beradik, yang sedang menangis itu. Tapi sia-sia. Clarissa dan Jasmin tetap saja menangis. Di dalam mobil pak Sabar. Tangan Clarissa tak henti-hentinya membelai lembut wajah ibunya yang berada dalam pangkuannya. Berulang kali pula tangannya menggoyangkan bahu ibunya, tapi Bu Astri tidak kunjung m

