Pagi hari yang cerah, Burung pipit bernyanyi riang di dahan pohon Tabebuya. Pohon cantik yang di penuhi bunga berwarna pink itu semakin semarak, dengan adanya anak anak yang bermain dan berlari lari di bawah si Tabebuya.
Pagi hari, di sekolah Taman Kanak kanak Ceria Mandiri. Murid murid sudah berdatangan. Ada yang di antar orang tuanya, ada yang di antar kakek atau neneknya, ada pula yang di antar oleh pengasuhnya. Contohnya seperti Vino Vernando, ia di antar oleh Faris, pengasuhnya.
Vino di antar Faris, naik sebuah motor sport. Clarissa di buat kagum sekaligus heran dengan pengasuh Vino. Pekerjaan nya boleh saja jadi pengasuh, tapi kendaraan nya benar benar kece badai.
Clarissa yang kebetulan baru saja tiba di depan gerbang langsung menyambut murid spesialnya itu. Tapi, seperti biasa, Vino terlihat cuek dengan perhatian yang di berikan Clarissa.
Sudah 2 Minggu, Vino menjadi muridnya, mencuri perhatian nya, dan seluruh guru di TK Ceria Mandiri. Sikapnya yang arogan, sulit di atur, dan tidak mau mendengar ketika di tegur. Membuat ia seolah hidup di dalam botol seorang diri. Dan tidak ada yang bisa menyentuhnya.
Clarissa belum bisa menaklukan hati keras Vino. Belum bisa mengajaknya bicara. Dan belum bisa mengajak nya tersenyum. Tapi Clarissa yakin, Vino sebenarnya sama dengan anak kecil pada umumnya, yaitu membutuhkan perhatian dan dan suka di perhatikan oleh orang lain.
Tet teettt ....
Bel berbunyi 2 kali, tanda waktu untuk beristirahat. Dengan langkah tergesa dan wajah capek. Clarissa menuju kantor. Ingin rasanya ia segera mengistirahatkan tubuh dan pikiran nya, di sana. Tubuhnya terasa lelah, setelah sendirian mengurus anak anak didiknya. Dewi rekan kerjanya sekaligus sahabatnya hari ini tidak masuk. Sehingga, Clarissa terpaksa mengurus semua tugas di kelas.
Namun, baru saja ia mendudukkan bokongnya. Tiba tiba datanglah dua anak didik nya. Dan mereka langsung menghadap Clarissa.
"Bu Rissa, Vino nakal lagi, dia numpahin jajan Meli" Ucap Joni dengan nafas tersengal sengal, Joni dan Raka sama sama berpeluh, keringat sebesar biji jagung meluncur turun dari dahi kedua murid nya.
"Kok bisa? Mungkin Meli yang mulai duluan!" Meli, salah satu murid perempuan nya, yang bertubuh tambun, dan dia terkenal paling sulit di atur.
"Enggak Bu, Meli tadi baru aja Beli jajan di kantin, terus Meli nggak sengaja numpahin sedikit jajan nya di baju Vino. Padahal Meli udah minta maaf. Tapi Vino malah mengambil jajan Meli, terus membuang nya ke lantai" Ucap Raka berapi api, api itu sepertinya sangat panas, karena bisa membuat dahi Raka berpeluh semakin deras.
"Sekarang Vino dimana?" Tanya Clarissa. Ia lalu mengelap keringat kedua muridnya menggunakan tisu yang ada di meja nya.
"Dia tadi di kantin sama Bisma dan Andre Bu. Ayo Bu Rissa, cepat hukum Vino. Anak anak banyak yang takut sama dia, habis, dia nakal banget" Joni tanpa sungkan memegang tangan Clarissa, kemudian menariknya agar Clarissa buru buru mencari si pembuat onar yang baru.
Clarissa kagum sekaligus heran dengan Vino. Baru saja dia sekolah dua Minggu, umurnya pun baru 5 tahun. Tapi dia benar benar hebat, sudah punya 2 anak buah, yang selalu mengikutinya ke mana mana. Dan anak buahnya adalah, mantan anak anak yang sebelumnya terkenal karena ke usilan nya.
Vino bahkan tidak bisa diam. Setiap hari, ada saja, ulah yang di buatnya. Dalam sehari, ia sukses membuat 2 anak menangis. Vino bahkan tidak pandang bulu dengan korbannya. Mau itu anak laki laki atau perempuan, Vino tetap akan membully nya.
Clarissa terkejut, saat baru saja tiba di kantin. Dengan tanpa rasa berdosa. Vino meninggalkan Melly yang menangis. Vino bahkan terlihat tidak takut sama sekali dengan sang security sekolah yang memarahinya dan mencacinya. Dan sebelum dia pergi. Vino menginjak injak Snack Melly yang berserakan di lantai. Lalu dengan sengaja menendang serpihan serpihan Snack itu ke arah Melly. Dan Melly pun menangis semakin kencang.
Buru buru Clarissa menghampiri Melly, menenangkan tangis kencangnya, dan menghiburnya. Bu Tini sang pemilik kantin tidak sempat menenangkan Melly, karena ia sedang sibuk dengan anak anak yang sedang membeli.
Setelah Melly tenang, Clarissa menghampiri pak Bambang si security. Ia menghentikan pak Bambang yang sedang ngoceh ngoceh memaki Vino.
"Sudah lah pak Bambang ..., Jangan memakinya terus, dia masih kecil, masih bisa kita perbaiki" Ucap Clarissa lemah lembut, ia optimis, kalau Vino masih bisa menjadi anak baik. Dan tugasnya mencari di manakah celah itu.
"Tapi Bu Rissa, dia itu benar benar nakal dan keterlaluan. Kemarin, dia sudah membuat Doni menangis, dia menuduh Doni menyembunyikan sepatunya. Padahal sepatunya itu nggak hilang, tapi terselempit di antara sepatu teman teman nya. Tapi tetap saja, dia menuduh Doni lah pelakunya. Vino lalu mengambil paksa sepatu Doni, setelah itu melemparnya ke tembok belakang sekolah. Yang repotkan saya. Karena saya harus mencari cari sepatu Doni di belakang sekolah. Hampir setengah jam saya cari sepatunya dia, tapi nggak ketemu. Gimana bisa ketemu, lha wong sepatu Doni ternyata nyangkut di pohon. aduh Bu ... Capek saya." Keluh pak Bambang, nafas nya berhembus kasar.
"Iya pak, saya paham maksud anda. Tapi bagi saya, anak kecil itu nggak ada yang nakal. Mereka bersikap lebih agresif pasti ada alasannya. Dan alasan yang paling umum adalah sedang mencari perhatian. Beri saya waktu pak Bambang. Saya pasti bisa menemukan cara untuk menaklukan Vino" Ucap Rissa ramah, selama ini, dia selalu mencari solusi atas kenakalan Vino. Tapi ia belum menemukan caranya.
"Saya percaya sama kamu Bu Rissa, tapi jangan lama lama ya? Saya sudah geregeten sama dia. Tangan saya ini sudah gatel, pengen ku unyel unyel pipi tembemnya Vino" Vino memang terlihat imut dengan pipi gembilnya. Tapi di balik keimutan nya. Tersimpan sikap dingin dan arogan. Tidak segan marah bila ada yang mengganggu hatinya. Dan Clarissa penasaran, apa yang menyebabkan sikap Vino seperti itu.
"Ya sudah pak Bambang, sekarang saya pengen cari Vino dulu"
"Oh ya, Monggo Bu Rissa. Saya mau minum es dulu. Gara gara marahin Vino, kerongkongan saya sampai kering."
Pak Bambang lalu duduk di salah satu kursi kantin yang berwarna warni.
Rissa lalu segera menyusul Vino yang lagi lagi berulah. Di depan kelas, Vino mendorong tubuh Tomi hingga ia terjerembab ke lantai. Tapi, untunglah Tomi tidak menangis. Clarissa menghampiri Tomi, lalu membantunya berdiri.
"Anak pintar, nggak menangis ... Tomi udah beli jajan belum?"
Clarissa mengelus pelan rambut Tomi.
"Belum, tadi aku mau ke kantin. tapi aku nggak sempat karena Vino menggangguku bu. Vino nakal, padahal aku nggak nginjak kakinya, tapi dia menuduhku menginjak nya"
"Iya bukan kamu yang menginjak nya sayang, ibu percaya sama kamu. kalau kamu mau beli jajan. Sana beli sekarang, nanti keburu masuk"
"Iya Bu"
Tomi lalu berlari lari menuju kantin. Dan waktu Clarissa berbalik. Vino sudah tidak ada di belakang nya. Vino ternyata sudah masuk ke dalam kelas. Sedangkan Andre dan Bisma yang sedari tadi mengekorinya, kini pergi ke kantin lagi. Rupanya Vino menyuruh mereka untuk membeli jajan di kantin.
"Vino lagi ngapain?" Tanya Clarissa ramah. Senyum cantik tak pernah lepas dari bibir indahnya. Tapi sayang, Vino tak menanggapi ucapan Clarissa seperti biasanya.
"Aku punya permen. Vino mau?"
Clarissa menunjukkan sebuah permen karamel.
"Di rumah, ada banyak"
Dueng ... Clarissa tersenyum malu.
"Tapi ini spesial, ini ada rasa bahagianya lho"
"Bohong!" Ujar Vino, bibir nya mengerucut tak percaya. Clarissa belum pernah melihat senyum terukir di bibir Vino.
"Nggak percaya? Nih ibu guru buka ya?" Clarissa lalu membuka permen nya. Dan setelah memakan nya, Clarissa tertawa terpingkal pingkal.
"Aduduh Vino perutku sakit, aku nggak bisa berhenti ketawa. Tolong pegang tangan ku, biar ibu bisa berhenti ketawa. Ahahaha ...." Clarissa terus pura tertawa terpingkal-pingkal. Hingga Vino mau memegang tangan Clarissa. Dan ketika Vino memegang tangan nya, seketika itu juga, Clarissa berhenti tertawa.
"Untung kamu memegang tangan ibu guru. Aku jadi bisa berhenti ketawa. Ahahaha ...."
Clarissa tertawa lagi karena Vino melepas pegangan tangan nya. Dan semakin tertawa sungguhan, ketika Vino ikut tersenyum kaku.
Kejadian itu terus berulang, ketika Vino melepas tangan nya. Akhirnya Vino tidak malu malu lagi ikut tertawa bersama Clarissa.
"Kapan bu Rissa berhenti ketawa?" Tanya Vino.
"Ketika permennya sudah habis. Nah sekarang sudah habis, makanya ibu sudah tidak ketawa lagi. Vino mau permen kayak punya ibu?"
"Mau" Vino mengangguk mantap.
Clarissa lalu merogoh saku bajunya, pura pura mencari permennya yang memang hanya ada satu buah.
"Aduh Vino, permen Bu guru sudah habis sayang, besok ibu guru bawain, mau?" Clarissa memasang raut wajah menyesal, karena sudah kehabisan permen. Dan Vino mengangguk.
Bel lalu berbunyi. Tanda jam belajar di mulai lagi. Clarissa harus rela tidak beristirahat, demi mendapatkan simpati dari Vino, murid spesialnya. Dan sekarang, ia semakin optimis bisa dekat dengan Vino.
Bersambung .....