Episode Satu
Ya Rabbi, entah siapa yang tadi aku lihat. Malaikatkah? atau mungkin seorang alim
yang menjelma seperti Malaikat? Entahlah. Tapi yang pasti, hatiku langsung berdetak
kencang tatkala kedua mataku menatap tak sengaja wajah putih bersih nan berwibawa itu
yang sempat melintasi penglihatanku. Sampai sekarang, sosok ‘malaikat’ itu masih
melekat dalam benakku.
Sore tadi, Mama mengajakku kerumah salah seorang sahabatnya yang tengah sakit.
Awalnya aku menolak karena memang editan tulisanku belum selesai aku revisi kembali.
Besok lusa harus segera aku serahkan ke pihak penerbit untuk dipelajari dan untuk
selanjutnya di terbitkan menjadi sebuah buku novel yang siap untuk dibaca.
Aku seorang penulis novel yang memang belum terlalu termasyhur seperti
Habiburrahman El Shirazy, Azimah Rahayu, Helvy Tiana Rossa, dan masih banyak namanama penulis lainnya yang menjadi penulis idolaku sekaligus menjadi inspirasiku dalam
menulis. Dua novelku sudah beredar di pasaran. Yang pertama berjudul Kerlingan Hati
dan yang kedua berjudul Episode Jingga. Alhamdulillah kedua novelku itu laris manis di
pasaran. Dan sekarang, aku sedang menggarap novelku yang ketiga yang judulnya masih
aku rahasiakan. Tapi lagi-lagi karena mamaku tersayang mengajakku pergi menjenguk
temannya yang sedang sakit, jadilah aku merubah semua jadwalku duduk didepan
komputer untuk merevisi ulang novelku, untuk ikut mama pergi menjenguk temannya.
Mau bilang apa lagi? toh kalau mama sudah beralasan,”Dinda, nanti kalau sampai penyakit
mama kumat di jalan, bagaimana?”. Hfh…tak tega rasanya kalau sampai penyakit asma
mama kumat ditengah jalan. Semoga saja tidak.
Aku berangkat bersama mama tepat setelah shalat Ashar kami tunaikan. Aku tidak
pernah tahu teman mama yang satu ini. Mama bilang dia itu bernama Ibu Rahayu. Teman
mama semasa kuliah dulu. Aku hanya mendengarkan mama bercerita banyak tentang
sahabatnya itu yang katanya lumayan cantik dan mempunyai seorang suami yang juga
tampan dan seorang anak laki-laki yang menurut mama sangat cocok untuk dijadikan
seorang menantu.
”Bu Rahayu itu punya seorang anak laki-laki. Mama lupa namanya siapa. Tapi yang
pasti dia itu cocoklah untuk dijadikan seorang menantu”
Hfh…aku hanya menghela nafas mendengar celotehan mama yang menurutku hanya
sebuah pengharapan seorang ibu yang menginginkan anak perempuannya segera menikah.
Menikah. Semua gadis yang sudah cukup umur juga pasti berharap ingin segera
mempunyai pendamping hidup yang sesuai dengan kriterianya. Ya…minimal seseorang
yang baik, sholeh, bertanggung jawab, dan dapat menerima keadaan diri apa adanya. Tapi
kalau memang belum jodoh mau diapakan lagi? Aku hanya berharap seorang yang soleh
yang bersedia menjadi suamiku. Tepat disebuah rumah bernuansa minimalis kami turun dari mobil yang aku kendarai
sendiri. Diluar sudah ada seorang perempuan paruh baya yang membukakan pintu rumah
untuk kami. Ibu itu lalu menyuruh kami masuk karena dia sudah tahu bahwa kami akan
datang untuk menjenguk Ibu Rahayu. Sekantong buah-buahan aku serahkan padanya.
Diapun segera mengantar kami memasuki kamar Bu Rahayu.
Di dalam aku melihat seorang ibu yang sudah sedikit tua dengan wajah pucat pasinya
berbaring diatas tempat tidur berselimutkan kain yang sangat tebal. Kepalanya ia tutup
dengan sebuah kerudung pendek. Dialah Bu Rahayu. Senyumnya segera menyambut kami
ketika ia lihat wajah kami nampak dari balik pintu. Mama dan Bu Rahayu segera
berpelukan tatkala keduanya dipertemukan kembali setelah beberapa tahun tidak bertemu.
Tangis kebahagiaanpun membuncah disana. Aku hanya bisa menatap mereka dengan
penuh haru. Beberapa saat lamanya aku menjadi orang yang terasing didalam kamar itu.
Tiba-tiba Bu Rahayu menegurku dengan sapaan yang lembut. Tegurannya itu membuat
aku tersadar dari lamunanku.
”Ini pasti Dinda ya?” Tanya Bu Rahayu.
”I..iya bu..” Jawabku tergagap. Aku segera meraih tangannya dan kucium. Aku
kembali tersenyum padanya.
”Sudah besar ya? Berapa usia kamu sekarang?” Tanya Bu Rahayu lagi yang membuat
aku ragu-ragu untuk menjawabnya.
”Ehm...27 tahun bu” Sahutku tanpa semangat yang membara. Entah mengapa setiap
kali ada seseorang yang menanyakan berapa usiaku, aku selalu menjawabnya tanpa
mempunyai semangat. Mungkin karena sampai sekarang aku belum juga menikah.
”Tahu darimana Lis kalau aku sakit?” Tanya Bu Rahayu pada Mama. Aku menarik
kursi yang disediakan oleh ibu tua tadi sambil mendengar jawaban Mama.
”Dari Rudi. Kebetulan kemarin aku bertemu dia di pasar. Dan dia bilang katanya kamu
sakit. Memang kamu sakit apa sih Yu?” Mama balik bertanya.
”Tahulah Lis. Aku juga bingung sendiri dengan sakitku” Jawab Bu Rahayu dengan
mata berkaca-kaca. Sesaat kutangkap sepertinya ada yang mengganjal dalam hatinya.
Diapun mulai bercerita.
”Beberapa hari yang lalu ada yang menawarkan seorang muslimah padaku untuk
dijadikan istri oleh anakku....”
”Oh iya, mana anakmu itu? Kok tidak kelihatan? Siapa namanya?” Cerocos Mama
memotong pembicaraan Bu Rahayu. Bu Rahayu menghela nafasnya dan menjawab dengan
nada datar. Aku memperhatikannya dengan seksama.
”Anakku itu bernama Yusuf Abdul Fattah. Masa kau lupa sih Lis?”
”Oh iya! Maaf..maaf, namanya juga orang tua. Lanjutkan Yu!” Kata Mama seraya
menyuruh Bu Rahayu untuk melanjutkan ceritanya.
”Aku sempat melihat gadis itu. Wajahnya cantik, perilakunya baik, ahklaknya pun
bagus. Dia berjilbab, sama seperti Dinda” Lanjut Bu Rahayu sambil melirik kearahku
ketika dia menyebutkan namaku. Aku hanya tersenyum dan meneruskan mendengar cerita
Bu Rahayu.
”Setelah aku tawarkan pada si Yusuf, lha kok dia malah menolak. Katanya, kurang
cocok dengan seleranya. Asal kamu tahu saja ya Lis, ini untuk yang kelima kalinya dia
menolak untuk dinikahkan. Kamu tahu sendiri, usianya Yusuf itu tidak beda jauh dengan usianya Dinda. Apalagi coba yang mau dicari dengan umur segitu kalau bukan istri. Aku
sampai stres memikirkannya dan akhirnya aku jatuh sakit. Nah itulah penyebab sakitku
saat ini” Ucap Bu Rahayu menutup ceritanya. Sesekali kulihat dia membenarkan posisi
duduknya yang bersandar pada sebuah bantal.
”Sekarang dia kemana bu?” Tanyaku tiba-tiba saja. Aku juga kaget. Kenapa aku
menanyakan hal itu? Aku sendiri tidak tahu alasannya.
”Sekarang dia sedang menebus obat ibu di apotik. Perginya sih dari tadi, mungkin
sebentar lagi juga pulang” Jawab Bu Rahayu tenang. Suasana kembali lagi seperti semula.
Mama dan Bu Rahayu kembali larut dalam perbincangan masa lalunya, sedangkan aku
hanya dapat mendengarkan mereka berbincang tentang suatu hal yang baru bagiku.
Beberapa saat lamanya waktu berjalan, tiba-tiba dari luar kamar terdengar suara
seorang laki-laki mengucapkan salam dan membuka pintu secara perlahan. Aku, Mama,
dan Bu Rahayu pun segera mengarahkan pandangan kami ke arah suara itu. Perlahan-lahan
pintu itu terbuka dan...Subhanallah! Seorang laki-laki tampan dengan kemeja dan celana
bahannya datang dengan membawa sekantong kecil obat.
Aku berdiri dari dudukku tanpa melepaskan pandanganku dari laki-laki itu. Sesaat
lamanya aku menatap dia yang sedang mencium tangan Bu Rahayu kemudian
mengatupkan kedua tangannya pada Mama. Aku seperti terbius oleh keindahan zahirnya.
Aku tersadar tatkala dia mengucapkan salam padaku dan mengatupkan kedua tangannya
juga padaku.
”Assalamu’alaikum” Ucapnya lembut sambil menunduk.
”Wa..wa’alaikummussalam” Sahutku dengan sedikit tergagap. Aku segera
menundukkan pandanganku dari wajahnya dan kutarik nafasku secara perlahan. Entah
mengapa saat ini jantungku berdebar-debar.
Kudengar Bu Rahayu memperkenalkan laki-laki itu sebagai anaknya yang bernama
Yusuf Abdul Fattah dan dia juga memperkenalkan Mama sebagai sahabat lamanya dan
juga memperkenalkan aku pada Yusuf. Sesaat aku mencuri pandang padanya.
Astaghfirullah! Ucapku dalam hati. Kembali kutarik nafasku dalam-dalam.
Tak berapa lama, laki-laki yang kukenal bernama Yusuf itu meminta diri untuk keluar
dari kamar. Aku tak berani lagi menatap wajahnya. Takut dosa. Aku hanya dapat
mendengar suaranya yang dengan lembut mengucapkan salam. Aku menjawab salamnya
dengan pelan. Tak berapa lama, Mama dan Bu Rahayu mengganti topik pembicaraan
mereka dengan masalah Yusuf.
Aku berusaha mengendalikan perasaanku. Entah mengapa, seperti ada yang berbeda
dalam hatiku setelah aku melihat Yusuf tadi. Aku jadi teringat perkataan Mama.
”Bu Rahayu itu punya seorang anak laki-laki. Mama lupa namanya siapa. Tapi yang
pasti dia itu cocoklah untuk dijadikan seorang menantu”.
Apa mungkin bisa ya? Pikirku sudah mulai ngaco kemana-mana.
Sepanjang perjalanan pulang aku tak bisa memfokuskan fikiranku. Sesampainya
dirumah aku sudah tak memikirkan editan tulisanku di komputer. Yang menjadi pikiranku
sekarang adalah, apakah sosok ”malaikat” itu yang menjadi harapan Mama? Oh....Rabbi,
selamatkan aku dari penyakit hati ini. Teriakku dalam hati.
Adzan Maghrib sudah berkumandang. Aku segera bergegas ke kamar mandi untuk
mengambil air wudhu.