Tiga hari kami berada di hotel. Tak banyak waktu yang kami gunakan untuk
melakukan segala aktivitas yang biasanya dilakukan oleh pasangan suami istri yang sedang
berbulan madu pada umumnya. Jalan-jalan bersama, melihat pemandangan suasana malam
di beranda kamar hotel, atau sekedar sarapan bersama sambil bercerita hal-hal yang indah
yang Bisa membangkitkan keromantisan dalam berumah tangga. Semua itu hanya impian
belaka bagi kehidupanku yang sekarang. Selepas shalat Subuh, Yusuf pergi keluar dan
baru akan kembali setelah waktu dhuha sudah hampir hilang. Sedangkan aku, kuhabiskan
waktuku sendirian di dalam kamar sambil membaca buku atau tilawah qur’an sambil
sedikit menghafalnya.
Tadi pagi Yusuf tak pergi kemana-mana. Dia bilang tugasnya disekolah sudah
menumpuk. Dia tak ingin tidak masuk mengajar lebih lama lagi karena kasihan muridmuridnya. Ya, Yusuf memang seorang guru fisika di Sekolah Menengah Pertama
Labschool di kawasan Kebayoran. Dari sekolahnya sebenarnya mengizinkan dia untuk
libur sampai lima hari, tapi dengan alasan banyak kerjaan yang tertunda kalau dia libur
sampai lima hari, akhirnya dia memutuskan untuk pulang hari ini. Akupun menerima
keputusannya dan berusaha menerima alasannya juga.
Semua barang sudah dikemas dengan rapi. Tak banyak barang yang kami bawa sebab
kami datang kesini langsung dari pesta walimatul ursy. Hari ini kami sepakat untuk pulang
kerumah orang tua Yusuf yang terletak di kawasan Cawang, Jakarta Timur. Setelah dirasa
cukup, kamipun pulang meninggalkan hotel. Tak banyak yang kami perbincangkan selama
dalam perjalanan pulang, bahkan seolah tak ada topik yang enak untuk dibahas bersama.
Suasana didalam taksi benar-benar hening, sunyi, dan senyap. Sesekali supir taksi yang
kuketahui bernama Pah Burhan, berseloroh mengenai cerita-cerita lucu. Aku dan Yusuf
hanya tersenyum kecil lalu kembali diam. Kadang-kadang Yusuf menimpali dan
menyahuti celotehan Pak Burhan itu. Aku jadi tak berselera.Di sekitar kawasan Jalan MT. Haryono taksi yang kami tumpangi berhenti. Bukan
karena mogok atau kehabisan bensin, tapi karena macet tengah menghadang kami. Cukup
lama taksi terjebak oleh kemacetan itu. Ditengah hiruk pikuk kota Jakarta, tiba-tiba saja
Pak Burhan mengeluarkan pertanyaan yang membuatku dan Yusuf saling bertatap muka.
”Oh iya, kalian ini suami istri kan?” Tanyanya sambil melihat kaca spion yang ada di
atas kepalanya. Aku dan Yusuf mengangguk.
”Kenapa memang Pak?” Tanya Yusuf.
”Ah tidak. Saya takut saja kalau kalian ini bukan suami istri tapi kok keluar dari hotel.
Ternyata kalian memang benar-benar suami istri. Syukurlah” Ucap Pak Burhan sambil
sesekali membasuh peluh yang mengalir di pelipisnya. Suaranya menunjukkan sekali
keciri khasannya bahwa dia ini orang Batak.
”Kenapa Bapak bertanya seperti itu?” Tanyaku tiba-tiba.
”Tidak. Tidak kenapa-kenapa. Habis saya perhatikan dari tadi, kalian ini kok hanya
diam-diaman saja tanpa berbicara sedikitpun. Kenapa rupanya kalau saya boleh tahu?”
Tukas Pak Burhan.
Aku dan Yusuf terdiam. Aku mengalihkan pandanganku kearahnya dan diapun begitu.
Lalu kami mengembalikan pandangan kami ke luar. Aku tak tahu jawaban apa yang harus
aku berikan untuk pertanyaan Pak Burhan yang sebenarnya bisa aku jawab dengan
jawaban, ”Kami seperti ini karena suami saya tidak mencintai saya Pak”. Tapi aku hanya
bergumam dalam hati. Pak Burhan kembali bertanya.
”Waduh!! kalian ini kenapa malah diam lagi? Kalau memang saya tidak boleh tahu, ya
tidak apa-apa. Tapi kalau saya boleh saran, janganlah suami istri itu saling diam dan acuh
tak acuh. Tidak baik itu. Kalian itu dipertemukan oleh Allah dan sepatutnyalah kalian
bersyukur akan hal itu. Kalau memang kalin punya masalah, maka selesaikanlah secara
baik-baik. Dibicarakan apa permasalahannya lalu carilah jalan keluarnya secara bersamasama. Dan semua itu butuh komunikasi yang kuat. Tidak diam-diaman seperti ini. Macam
mana pula kalian ini. Saya ini hidup berkeluarga itu sudah hampir 36 tahun, tapi keadaan
rumah tangga saya dan istri baik-baik saja, karena kami selalu membicarakan apapun yang
menurut kami mengganjal dihati. Seperti itulah kalian berdua.” Jelas Pak Burhan panjang
lebar.
Aku yang mendengarnya benar-benar tersentuh. Memang benar apa yang di katakan
Pak Burhan. Segala sesuatunya itu memang harus dibicarakan agar tidak ada kesalah
pahaman. Tapi apa yang mau dibicarakan kalau semuanya sudah jelas kalau keadaan
seperti ini disebabkan oleh ketidak mampuan suamiku untuk mencintaiku. Aku perhatikan
Yusuf hanya terdiam. Mungkin diapun tengah memikirkan perkataan Pak Burhan barusan.
”Kalau saya boleh tahu lagi, sudah berapa lama kalian ini menikah?” Tanya Pak
Burhan lagi mengejutkanku. Kuarahkan pandanganku padanya. Kali ini Yusuf menjawab,
”Baru tiga hari Pak”
”Wah! Wah! Wah! Baru tiga hari rupanya. Pengantin barulah kailan. Kuucapkan
selamat ya? Berarti, ke hotel kemarin itu untuk bulan madu ya? Wah! Bergembiralah
kalian. Berapa ronde sudah kalian mainkan?” Tanya Pak Burhan membuatku bingung.
”Berapa ronde apanya Pak?” Yusuf balik bertanya.
”Ah! Masa kalian tidak mengerti. Itu, ronde kalian bermain cinta. Masa tidak mengerti.
Kaulah anak muda. Pura-pura saja kau tidak mengerti. Tapi maklumlah aku, namanya juga pengantin baru. Jadi masih perlu banyak belajar” Tukas Pak Burhan santai. Aku dan Yusuf
saling berpandangan sesaat lalu kembali terdiam.
Taksi sudah mulai berjalan. Kamipun terlepas dari jebakan macet. Yusuf lebih memilih
diam tanpa mau menjawab pertanyaan Pak Burhan tadi. Aku sendiri memikirkan perkataan
Pak Burhan.
”Namanya juga pengantin baru, jadi masih perlu banyak belajar”
Ya, aku dan Yusuf memang masih harus banyak belajar. Belajar untuk lebih sabar
dalam menghadapi kenyataan hidup, belajar untuk lebih bisa menerima keadaan kami satu
sama lain, belajar untuk bisa lebih bersyukur atas segala nikmat yang diberikan Allah, dan
belajar untuk lebih bisa menghargai dalam mencintai. Belajar, belajar, dan belajar. Itulah
yang sekarang sedang aku dan Yusuf usahakan dalam mengisi hidup ini.
Sesampainya dirumah, aku dan Yusuf langsung disambut hangat oleh orang tua Yusuf
yang kini telah menjadi mertuaku, dan juga orang tuaku yang kini telah menjadi mertua
Yusuf. Mereka begitu bergembira melihat kedatangan kami. Aku peluki Mama dan Papa
dengan penuh kerinduan. Entah mengapa, aku benar-benar merindukan mereka. Tak lupa
aku memeluk Bu Rahayu yang tak lain adalah ibu mertuaku dan mencium tangan Pak
Sardi yang tak lain adalah ayah mertuaku. Hari itu kami habiskan dengan
memperbincangkan hal-hal kecil seputar pernikahan dan bulan madu kami selama tiga hari
di hotel.
Setelah cukup lama di rumah mertuaku, Mama dan Papa memutuskan untuk pulang.
Mulai hari ini, aku telah resmi menjadi bagian dari keluarga Pak Sardi dan Bu Rahayu.
Sebelum mereka pulang, aku memeluk mereka dengan erat sambil menangis di
pelukannya. Sungguh, aku tak bisa menahan tangis haruku ketika mereka memutuskan
untuk melepasku dan menyerahkanku pada Yusuf dan keluarganya. Mereka hanya
menenangkanku dengan ucapan-ucapan yang tidak bisa aku terima dalam hati.
”Sudahlah Din. Kamu ini sudah berkeluarga. Ikutlah apa yang suamimu bilang. Jangan
sampai mengecewakannya ya? Mama dan Papa akan sering-sering menghubungimu. Kami
yakin kamu akan bahagia hidup bersama mereka. Ya?”
Itulah perkataan yang diucapkan Mama sebelum dia pulang bersama Papa. Aku
memandangi mereka dari kejauhan. Semakin lama mereka hilang dari pandanganku. Jauh,
jauh, dan akhirnya hanya tinggal bayangan mereka saja yang selalu aku ingat dalam
pikiranku.
Aku, Yusuf, dan orang tuanya masuk kembali ke dalam rumah. Hari sudah semakin
malam. Ayah mertuaku memutuskan untuk segera tidur. Aku dan Bu Rahayu
membereskan gelas-gelas dan piring kotor untuk dicuci di dapur. Yusuf masih tenang di
depan televisi sambil menonton siaran berita malam. Tak pernah ada senyum yang
mengembang di wajahnya.
Aku membantu ibu mertuaku mencuci piring. Kami banyak berbincang tentang
pengalaman beliau selama berumah tangga dengan Pak Sardi. Dari perbincangan itu aku banyak menemukan pelajaran-pelajaran baru dalam berumah tangga. Bagaimana caranya
membuat suami bahagia, apa yang harus dilakukan seorang istri jika suaminya marah, dan
masih banyak lagi yang ibu mertuaku beri tahukan padaku soal kehidupan suami istri.
Termasuk hal-hal intim yang menurut sebagian orang tabu untuk dibicarakan.
Aku melihat sosok Bu Rahayu begitu terbuka. Begitu ramah dan baik dalam bersikap.
Kelembutannya sebagai seorang ibu tidak mengalahkan sikap ketegasannya dalam
bertindak. Apa yang menurutnya benar, ya maka dibenarkannya. Tapi jika menurutnya
salah, maka diapun tak segan-segan memberikan peringatan pada siapapun dengan tegas
dan baik tapi tidak terkesan menghakimi.
Hal itu aku ketahui ketika dia bercerita tentang Yusuf yang ketika kecil sering
membuat onar dengan teman bermainnya. Suatu ketika, orang tua temannya itu pernah
mengadu pada Bu Rahayu kalau Yusuf telah memukul anaknya itu sampai berdarah.
Sebagai ibu yang adil dan bijaksana, Bu Rahayu memberikan hukuman yang setimpal pada
Yusuf. Dia akhirnya jera dan tidak mengulangi perbuatannya lagi.
Diam-diam aku salut pada ibu mertuaku. Dia sosok yang sekarang ini menjadi
pengganti Mama di kehidupan baruku. Dia pula yang secara tidak langsung dapat
menguatkanku dalam menghadapi masalahku dengan Yusuf.
Tak terasa waktu sudah beranjak malam mendekati dini hari. Aku dan ibu mertuaku
memutuskan untuk segera tidur. Di ruang tamu tidak lagi aku dapati Yusuf disana.
Mungkin sudah masuk kamar. Semua lampu sudah dimatikan. Sebelum masuk
kekamarnya, Bu Rahayu memberikan senyumannya padaku. Aku membalasnya. Aku
masih berdiri di depan kamar Yusuf yang kini juga menjadi kamarku. Kutarik nafasku
dalam-dalam dan kupejamkan mataku. Perlahan kusentuh gagang pintu kamarku dan mulai
kubuka. Tiba-tiba saja dari dalam, Yusuf membukanya dan mendapatiku tengah terkejut
menatap wajahnya.
”Kenapa berdiri saja disitu? Ayo masuk!” Perintahnya padaku. Aku hanya
mengangguk dan mengikutinya masuk ke kamar. Dia merebahkan tubuhnya di atas tempat
tidurnya yang empuk. Lampu yang ada disebelahnya sudah dimatikan. Cahaya yang ada
tinggal dari lampu yang ada disebelah tempat aku tidur. Aku belum mau mematikannya.
Aku membuka jilbabku dan aku duduk di depan cermin. Kusisiri rambutku perlahan
sambil memandangi Yusuf dari balik cermin. Tubuhnya membelakangiku.
Setelah selesai menyisir, aku melangkah ketempat tidur dan bersiap untuk tidur.
Posisiku sama seperti posisi dia membelakangiku. Kumatikan lampu yang ada disebelahku
dan kupejamkan mataku. Suasana malam ini begitu dingin. Selimut yang menutupi
tubuhku dan Yusuf seolah tak bisa memberikan rasa hangat yang lebih pada hatiku yang
semakin membeku. Dalam pejam malamku, aku berdo’a,
”Ya Allah, kuatkanlah aku untuk bisa menghadapi semua kenyataan ini. Amin”