Dua hari setelah hari itu, sepulang dari kantor aku memutuskan untuk menjenguk Alifa
di Rumah Sakit Pasar Rebo. Keadaan Alifa belum sempat aku beri tahukan pada Mas
Yusuf. Setelah turun dari angkot berwarna merah, aku langsung masuk kedalam rumah
sakit. Menaiki lift dan menuju lantai lima ruang melati.
Di kamar 603 aku dapati seorang ibu paruh baya tengah duduk di sebelah seorang
perempuan berwajah manis yang sangat ku kenal, Alifa. Mungkin ibu itu adalah
ibundanya. Sambil tertunduk dia membaca surat Yasin dengan suara pelan. Aku memasukikamar itu sambil mengucapkan salam dengan pelan. Ibu paruh baya itu mengangkat
kepalanya kemudian berdiri menghampiriku.
Kucium tangannya sambil berkata.
”Ibu, saya Dinda, sahabatnya Alifa”
”Oh..iya, iya. Terima kasih sudah mau datang menjenguk Alifa” Sahut ibu paruh baya
itu dengan suara agak sedikit serak. Di matanya terdapat butiran-butiran kecil air mata.
Mungkin dia habis menangis. Entahlah.
Sejurus kemudian aku mengalihkan pandanganku pada Alifa. Gadis cantik nan ayu itu
kini terbaring lemah tak berdaya di kasur rumah sakit. Wajah terlihat pucat dan tubuhnya
tampak begitu kurus yang di tutupi dengan selimut tebal. Jilbabnya kini agak sedikit
pendek dari biasanya. Namun dia tetap terlihat cantik bagi siapa saja yang memandangnya.
Setelah menatap Alifa yang hanya bisa memejamkan matanya, aku mulai bertanya
pada ibu paruh baya yang tak lain adalah ibunda Alifa. Dia bernama Bu Ratih.
”Sejak kapan Alifa masuk rumah sakit Bu?” Tanyaku sambil terus berdiri di samping
Alifa.
”Sejak keadaannya semakin parah Nak. Ya...sekitar dua minggu yang lalu. Awal
masuk kesini sih masih bisa makan, minum, shalat, bicara juga masih bisa sedikit-sedikit.
Tapi makin kesini, kondisinya semakin....” Bu Ratih memutuskan kata-katanya. Air mata
yang berusaha ditahannya kini tak dapat lagi terbendung. Aku langsung mengeluarkan tisu
dan kuberikan padanya sambil mengelus-elus bahunya.
”Sabar ya Bu?” Ucapku padanya.
Bu Ratih hanya mengangguk sambil menghapus air matanya. Tanpa terasa kedua
mataku basah. Sejurus kemudian timbul perasaan yang tiba-tiba saja menyusup ke dalam
sukmaku. Aku begitu sedih melihat Alifa terbaring koma.
Sesaat lamanya aku berada disana, tiba-tiba ada seorang dokter cantik yang datang
untuk memeriksakan keadaan Alifa. Dia bernama dokter Melisa. Dokter itu bersama dua
orang perawatnya. Yang satu mengenakan kerudung dan yang satu lagi tidak. Suster yang
mengenakan kerudung memeriksa denyut nadi Alifa lalu menuliskan sesuatu pada kertas
yang dibawanya. Sedangkan suster yang satu lagi hanya berdiri sambil membawa beberapa
obat-obatan di meja dorongnya.
Dokter Melisa memeriksa mata Alifa dengan senter kecil. Dan sesekali dia mengecek
selang infus yang yang menghubungkan cairan infus ke tubuh Alifa. Cairannya sudah
hampir habis dan dia menyuruh suster yang tidak mengenakan kerudung untuk mengganti
cairan infus yang sudah habis dengan cairan infus yang baru.
Setelah memeriksa keadaan Alifa, dokter Melisa berbincang sedikit dengan Bu Ratih.
”Bagaimana dok keadaanya? Apa ada kemajuan?” Tanya Bu Ratih penuh harap.
Dokter cantik itu menggeleng.
”Belum ada perubahan apa-apa. Bahkan keadaannya semakin menurun kalau tidak
secepatnya dilakukan tindakan” Jawab dokter itu tenang.
”Tindakan apa dok?” Tanyaku menimpali.
”Tindakan untuk mencarikan seseorang yang mau berpura-pura menjadi suaminya.
Saat ini dia memerlukan belaian lembut dan kasih sayang dari seorang suami. Maklumlah,
Ibu Alifa ini baru seminggu menikah bukan? Masa-masa itu adalah masa-masa dimana
pasangan pengantin baru sedang mesra-mesranya. Makanya wajar jika dia stres kemudiansakit seperti ini. Selain kondisi fisiknya yang lemah, batinnya juga sangat terguncang
tatkala dia harus menerima kenyataan pahit bahwa suaminya yang baru seminggu
dinikahinya harus pergi dengan kondisi yang sangat tragis” Jelas dokter Melisa sangat
detail. Aku mendengarkannya dengan seksama.
”Lalu bagaimana dengan kandungannya dok?” Tanya Bu Ratih yang tiba-tiba saja
mengejutkanku.
”Kandungan? Jadi...saat ini Alifa sedang hamil?”
”Iya” Sahut dokter melisa.
”Usia kandungannya baru dua bulan. Alhamdulillah janin yang ada dalam
kandungannya tidak mengalami penurunan. Tapi kalau dibiarkan terus seperti ini, saya
tidak bisa menjamin kalau usia kandungannya bisa bertahan lama. Maka dari itu, harus ada
yang mau berpura-pura atau mungkin ada seorang laki-laki yang berkenan menikahinya
dan bersedia menjadi suami keduanya menggantikan suami pertamanya yang meninggal.
Sehingga Ibu Alifa bisa merasakan kembali kasih sayang dari seorang suami yang memang
seharusnya ia dapatkan sejak pertama pernikahannya” Jelas Dokter Melisa kembali.
Aku hanya terdiam tak berbicara apa-apa. Aku dan Bu Ratih mengucapkan terima
kasih tatkala dokter Melisa dan dua perawatnya pergi meninggalkan kami. Aku teringat
ucapan dokter Melisa barusan,
”Tapi kalau dibiarkan terus seperti ini, saya tidak bisa menjamin kalau usia
kandungannya bisa bertahan lama. Maka dari itu, harus ada yang mau berpura-pura atau
mungkin ada seorang laki-laki yang berkenan menikahinya dan bersedia menjadi suami
keduanya menggantikan suami pertamanya yang meninggal”
Aku juga teringat perkataan dokter Melisa yang terus terngiang dalam ingatanku.
”Sehingga Ibu Alifa bisa merasakan kembali kasih sayang dari seorang suami yang
memang seharusnya ia dapatkan sejak pertama pernikahannya”
Alifa memang seharusnya mendapatkan kasih sayang itu, tapi Allah telah mengambil
suaminya dari sisinya. Sedangkan aku? Nasibku sungguh kontras sekali dengan kehidupan
Alifa. Sudah hampir setahun aku menikah namun sampai detik ini aku belum juga
mendapatkan kasih sayang itu. Kasih sayang yang memang seharusnya aku dapatkan dari
seorang suami.
Bu Ratih mengejutkanku dengan tegurannya.
”Nak Dinda”
”Eh...Ya Bu?” Sahutku.
”Kenapa melamun?”
Aku menggeleng.
”Tidak Bu. Ehm..kalau begitu saya pamit pulang dulu ya Bu? Saya do’akan semoga
Alifa bisa secepatnya melalui ujian ini dan semoga Alifa bisa lekas sembuh”
”Terima kasih ya Nak?’ Ucap Bu Ratih.
Aku mengangguk sambil tersenyum padanya.
Sebelum pulang aku sempatkan menyentuh tangan Alifa yang kurus dan pucat itu.
Dalam hati aku berucap padanya,
”Aku akan membantumu, Alifa. Insya Allah”
Setelah berucap sedikit pada Alifa, aku segera pulang dengan terlebih dahulu
berpamitan pada Bu Ratih.”Yang tabah ya Bu? Saya yakin, Allah pasti akan memberikan jalan keluar atas semua
ujian ini. Dan saya pun akan membantu Alifa sebisa saya mampu. Insya Allah.
Assalamu’alaikum”
”Wa’alaikumusslam. Terima kasih ya Nak Dinda?”
Aku tersenyum padanya kemudian keluar menuju lift. Setelah keluar dari rumah sakit,
di dalam angkot merah yang aku tumpangi, tiba-tiba aku mempunyai sebuah rencana yang
mungkin bisa membuat Alifa tersadar dari komanya. Sebuah rencana yang akan aku
jalankan untuk membantu Alifa dan bayi yang tengah dikandungnya.
Setelah sampai dirumah, tak kutemukan Mas Yusuf di setiap sudut rumah. Mungkin
dia masih mengajar di sekolah. Aku beristirahat sejenak kemudian mandi dan shalat
maghrib. Selesai itu aku sedikit tilawah sebentar sebelum tiba-tiba saja rasa cemas itu
menyusup ke dalam d**a. Kemana Mas Yusuf sampai petang begini belum pulang? Tak
biasanya dia pulang mengajar sampai malam seperti ini. Tak memberi kabar atau pun sms.
Kusudahi tilawahku yang baru beberapa lembar. Kuraih ponselku yang tergeletak
diatas tempat tidur lalu kuhubungi Mas Yusuf. Tak ada nada sambung dari ponselnya.
Kemana dia? Sekali lagi aku hubungi dia dan yang menjawab hanya suara operator telepon
seluler.
”Maaf, nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif. Cobalah beberapa saat lagi atau
tinggalkan pesan setelah nada berikut....”
Aku coba berkali-kali tetap tidak bisa. Kuputuskan untuk mengiriminya sms. Semoga
saja ketika ponselnya sudah aktif, dia segera membaca pesanku dan langsung
membalasnya. Sungguh, malam ini aku tak bisa tidur dengan tenang.
Awalnya aku ingin menanyakan keberadaan Mas Yusuf pada mertuaku, tapi
kuurungkan. Aku tak ingin mereka cemas lalu memikirkan hal ini. Aku juga tidak
mempunyai nomor telepon teman-temannya kecuali Mas Bambang.
Ya, aku akan coba menghubungi Mas Bambang dan kutanyakan keberadaan Mas
Yusuf padanya.
”Halo...” Ucap Mas Bambang dari sebrang sana.
Aku menjawabnya dan segera saja aku bertanya padanya perihal Mas Yusuf. Tapi lagilagi aku harus memendam harapku. Mas Bambang sendiri tidak tahu dimana Mas Yusuf
sekarang. Yang dia tahu sepulang dari mengajar pukul dua siang, dan Mas Yusuf langsung
pulang dengan tergesa-gesa.
Setelah mengucapkan terima kasih pada Mas Bambang, aku segera menutup
teleponnya. Yang menjadi pikiranku, mengapa Mas Yusuf pulang dengan tergesa-gesa?
Apakah jangan-jangan, dia sudah mengetahui kondisi Alifa sekarang dan dia pergi
menjengknya?
Ah! Aku tak mau memikirkan hal itu. Biarlah waktu saja yang menunjukkan
segalanya. Dan saat ini, sebaiknya aku ingin tidur dan mengistirahatkan tubuh ini yang
sudah seharian beraktivitas. Pukul satu malam aku terbangun. Ada kehausan yang teramat sangat ketika aku
merasakan sadar dari tidurku. Aku beranjak dari tempat tidurku menuju ke dapur. Setelah
minum untuk menghilangkan dahagaku, aku kembali ke kamar. Duduk di tepi tempat tidur
sambil termenung sendirian. Aku masih memikirkan dimana Mas Yusuf malam ini. Aku
takut terjadi apa-apa padanya.
Sambil menatap photo pernikahanku yang dipajang di meja kecil disamping tempat
tidurku, tiba-tiba aku menangis. Entah apa yang membuatku menangis. Aku ingin shalat
tahajud.
Setelah mengambil air wudhu aku langsung melaksanakan shalat tahajud dan
bermunajat padaNya untuk keselamatan Mas Yusuf dimana pun dia berada. Lalu aku
lanjutkan dengan tilawah Al-Qur’an beberapa lembar. Setelah itu aku menutupnya dengan
shalat witir tiga rakaat.
Kulepas mukenaku dan ku ganti dengan jilbab hitam. Aku berdiri di depan jendela
kamarku sambil membuka sedikit gorden yang menutupinya. Di luar gelap. Jalanan hanya
di terangi dengan beberapa lampu neon yang tersambung oleh rumah warga.
Ku putar kembali ingatanku satu tahun yang lalu. Ingatanku ketika keluarga Mas Yusuf
datang kerumah untuk melamarku, lalu surat dari Mas Yusuf yang kukira surat cinta
ternyata surat yang amat menyakitkanku, dan berbagai sikap-sikap Mas Yusuf yang
sampai sekarang tidak bisa aku mengerti kenapa dia belum bisa menerimaku sebagai
seorang istri. Semua ingatan-ingatan itu membuat mataku basah dan akhirnya aku
menangis.
Aku melangkah ke meja kerjaku. Sambil mendudukan tubuhku di kursinya, kuambil
kembali buku harianku. Tiba-tiba aku melihat sebuah tape recorder yang sudah sejak lama
kutaruh di laci. Didalamnya terdapat sebuah kaset kosong yang aku ingat, kaset itu pernah
aku gunakan untuk mewawancarai seorang narasumber untuk keperluan majalah di
tempatku bekerja.
Kuurungkan niatku untuk menulis di buku harian dan aku putuskan untuk merekam
suaraku di tape recorder itu. Akan kukeluarkan seluruh perasaanku selama ini tentang
hatiku, tentang Mas Yusuf, dan tentang Alifa.
Tape recorder aku nyalakan dan aku mulai bercerita.
“Tuhanku,
Hanya Engkau sajalah yang mengetahui isi hatiku. Hanya Engkau sajalah yang
menjaga hati dan perasaanku sehingga aku bisa kuat dan tegar sampai saat ini.
Tuhanku,
Aku sudah tak tahu lagi bagaimana rasanya mencintai dan dicintai. Hatiku telah
membeku. Satu tahun sudah aku hidup sebagai seorang istri. Hidup tanpa kasih sayang
dan perhatian dari seorang suami yang aku kasihi. Hidup penuh kegamangan dan
kepasrahan dalam menanti cintanya untukku.
Rabbi,
Sungguh aku sangat mencintainya. Sungguh aku sangat menyayanginya. Tapi kenapa
sampai saat ini tak sedikit pun rasa cinta itu ia berikan padaku? Apakah ada yang kurang
dalam pengabdianku padanya selama ini? Apakah ada yang tak diinginkannya dariku
sebagai seorang istri?Sudah cukup sabar rasanya aku menahan semua ini. Menahan rasa cinta yang tak
kunjung terbalas olehnya. Katakan padaku Ya Allah, kapan sekiranya dia mau
membukakan pintu hatinya untukku?
Malam ini aku sendiri. Dan lagi-lagi aku harus mengeluarkan air mataku untuknya
yang sekarang entah berada dimana. Aku lelah Ya Allah. Bahkan untuk tetap
mencintainya saja, kurasa aku sudah tak sanggup lagi. Tapi tak sedikit pun aku berniat
menghilangkan dia dari ingatanku. Biarlah aku menanggung derita ini diatas rasa cinta
yang kuusahakan untuk tetap bertahan.
Ya Allah,
Aku sudah memaafkan segala sikapnya selama ini padaku. Tapi aku mohon, janganlah
Engkau mencatat segala perbuatannya itu sebagai sebuah kezhaliman. Sungguh, aku
sudah memaafkannya dan aku ikhlas dengan semua keadaan ini. Aku hanya ingin Kau
menempatkan dia di tempat yang layak di sisiMu. Aku mohon.
Ya Allah,
Selama aku menjadi istrinya, mungkin banyak kekurangan yang hadir pada diriku
yang tidak ia sukai. Aku mohon, bantulah aku memperbaiki semuanya. Bantulah aku
membahagiakan dirinya, meskipun hal itu amat sangat menyakitkan untukku.
Sekiranya Engkau mengizinkan, biarkanlah aku berbagi cinta pada yang lain.
Biarkanlah aku berbagi hidup pada hambaMu yang lain, yang namanya sudah sejak lama
bertahta di kedalaman relung hatinya. Tegarkanlah hatiku ketika aku harus menyaksikan
waktu membawa suamiku pergi pada bunga yang lain. Kuatkanlah imanku ketika aku
harus berbagi suami pada yang lain, pada Alifa.
Aku hanya berharap satu pahala dariMu. Karena aku tahu, Alifa membutuhkan
seorang suami dan bayi yang ada dalam kandungannya butuh seorang ayah. Jika sosok itu
adalah suamiku, maka dengan segenap hati dan jiwa, aku bersedia.”
Seusai merekam suaraku dalam tape recorder sambil terisak, kusimpan kaset rekaman
dan tape recordernya di dalam laci mejaku. Kuseka air mataku dan aku kembali tidur
dengan perasaan yang masih gundah memikirkan Mas Yusuf.
Pagi hari ketika jam sudah menunjukkan pukul 06.00, pintu rumah ada yang membuka.
Aku yang baru saja keluar dari kamar mandi langsung melangkah ke ruang tamu.
”Dari mana Mas?” Tanyaku pada seseorang yang ternyata adalah Mas Yusuf.
Dia hanya diam sambil membuka kaos kakinya di kursi. Tanpa menjawab
pertanyaanku dia malah berjalan ke kamar. Aku mengikutinya.
”Mas, kamu dari mana aku tanya?”
”Sudahlah!” Bentak Mas Yusuf mengejutkanku.
”Kamu selalu mau tahu saja urusanku”
Aku benar-benar kaget mendengar bentakan Mas Yusuf yang bagai anak panah
menikam jantungku. Aku masih terdiam sementara Mas Yusuf kembali bersuara.
”Yang pasti aku tidak berselingkuh karena hal itu tidak mungkin aku lakukan”
”Ya aku tahu hal itu” Sahutku berusaha untuk tenang.
”Lagipula tak pernah sedikit pun aku berpikir kalau kamu selingkuh. Kita sama-sama
orang yang beriman.Aku hanya ingin tahu dari mana saja kamu semalam sampai tidakpulang? Tidak kasih kabar atau pun sms. Aku telepon hand phone mu tidak aktif. Akhirnya
aku kirim sms. Apa telah kau baca?”
Lagi-lagi dia hanya diam sambil menganggukkan kepalanya.
”Lalu kenapa tidak kau balas untuk memberitahukan dimana kamu berada? Sungguh
aku khawatir dengan keadaanmu. Ingat Mas, walau pun kamu tidak mencintaiku, tapi biar
gimana pun aku ini istri kamu. Jadi wajar jika kamu tidak pulang semalaman tanpa kabar,
akan ada seorang wanita yang membasahi bantalnya dengan air mata dan itu adalah aku.
Katakan Mas, dari mana kamu semalam dan kenapa tidak membalas sms ku?”
Mas Yusuf terdiam sesaat lalu menjawab dengan ragu-ragu.
”Aku...aku habis dari rumah Bule Rinta...”
”Bule Rinta?!” Putusku dengan penuh tanya.
”Ada apa dengan Bule Rinta?”
”Kemarin, dirumahnya ada acara....selametan anaknya yang mau di khitan..” Jawab
Mas Yusuf tenang.
”Selametan? Dirumah Bule Rinta ada selametan?”
Mas Yusuf mengangguk pelan sambil mengganti pakaiannya.
”Kenapa kamu tidak memberi tahu aku kalau dirumah Bule Rinta ada selametan?
Kalau aku tahu kan aku bisa datang. Kenapa kamu tidak memberi tahu aku Mas? Kenapa
kamu pergi sendiri?”
”Ya...ya, karena acara kemarin baru hanya selametan. Nanti kalau acara khitanannya
akan dilaksanakan baru aku kasih tahu” Jawab Mas Yusuf seolah tak bersalah.
”Kamu terlalu Mas” Ucapku sambil menahan tangisku di tenggorokan.
”Kamu anggap apa aku? Apa kata keluarga kamu ketika mereka melihat kamu datang
sendiri? Apa kamu juga ingin membuat mereka jadi membenci aku? Ingat Mas, mereka
tahunya kita saling mencintai. Dan kamu juga harus ingat, aku ini istri kamu. Wanita yang
sudah sah kamu nikahi setahun yang lalu. Aku harap kamu tidak melupakan hal itu.
”Tolonglah Mas. Untuk urusan keluargamu janganlah tertutup padaku. Setahun Mas,
sudah setahun kita menikah. Tapi sejujurnya, aku tidak pernah merasakan bahagianya
menjadi seorang istri. Katakan padaku Mas, apakah ini kesalahanku jika kau tidak
mencintaiku? Apakah ini kesalahanku jika kau menikahiku? Dimana letak kesalahanku
sehingga kau tega menghukumku seberat ini? Dimana Mas?”
Tak terasa air mataku jatuh menetes. Aku tak kuat lagi menahan air mata ini. Aku
menunduk sementara Mas Yusuf hanya diam di tempatnya berdiri kini.
”Mungkin sudah saatnya aku mengatakan hal ini” Ucapku dengan penuh ketegasan. Ku
seka air mataku. Mas Yusuf terlihat penasaran.
”Di dalam biduk rumah tangga kita memang tidak pernah ada cinta yang menghiasi.
Tapi aku berharap tidak pernah ada pula kata perceraian di antara kita. Karena Allah sangat
membenci hal itu. Tapi kalau hal ini dibiarkan, aku tahu hatimu akan sakit selamanya. Jadi
aku mempunyai saran untukmu agar kau bisa hidup bahagia tanpa harus menceraikan aku
karena aku tidak ingin kau menceraikanku.....”
”Apa maksudmu?” Tanya Mas Yusuf penasaran.
Aku terdiam sejenak sambil menghela nafasku. Kutatap kedua matanya.
”Nikahi Alifa......”
”Apa?! Apa maksud perkataanmu?” Tanya Mas Yusuf menghampiriku.”Nikahi Alifa karena kini dia sudah menjadi seorang janda...” Ucapku menegaskan.
”Janda?! Alifa sudah menjadi janda?”
”Ya. Sudah tiga bulan Alifa menjadi seorang janda. Seminggu setelah pernikahannya
suaminya meninggal akibat kecelakaan kereta api. Sekarang kondisi Alifa menurun dan
kini dia dirawat dirumah sakit”
”Menurun?”
”Ya. Kondisi itu disebabkan karena dia tidak bisa menahan stres dan tekanan batin atas
kepergian suaminya. Dan satu-satunya jalan agar dapat menolong Alifa dari koma, adalah
mencarikan seorang suami untuknya yang dapat menggantikan kasih sayang suaminya
yang seharusnya ia dapatkan sejak pertama ia menikah”
”A, aku tidak mengerti apa yang kamu katakan...”
”Alifa butuh kamu untuk dapat mengembalikan semangat hidupnya. Dan bayi yang ada
dalam kandungannya butuh seorang ayah. Waktunya tidak banyak lagi. Kalau terlambat,
maka dokter pun tidak bisa menjamin kalau Alifa bisa selamat dan bayi dalam
kandungannya juga akan bertahan lama”
Mas Yusuf terlihat cemas sekali. Mungkin dia tidak mengira kalau Alifa akan bernasib
seperti ini. Dia tak bisa berkata apa-apa.
”Aku mohon Mas. Terimalah tawaranku ini. Jika kau melakukan hal ini, maka akan
banyak jiwa yang kamu tolong. Kau menolong Alifa dari status jandanya, kau menolong
bayi yang ada dalam kandungannya dari status yatim, kau menolong hatimu dari
kekosongan cinta akan seorang istri, dan kau pun menolongku untuk membahagiakan
suamiku, kamu. Aku mohon” Ucapku dengan penuh harap padanya.
Mas Yusuf melangkahkan kakinya keluar kamar. Entah apa yang dipikirkannya saat
ini. Dia duduk di ruang tamu sambil termenung. Raut wajahnya tampak cemas dan
bingung. Tiba-tiba dia bangkit dari duduknya.
”Tapi tidak semudah itu untuk berpoligami. Lagi pula tidak pernah terpikir sedikit pun
dalam benakku kalau aku ingin menikah lagi. Hanya kamu istriku dan satu-satunya
istriku...”
”Istri yang tidak pernah diperlakukan seperti seorang istri? Istri yang tidak pernah
merasa bahwa dirinya itu seorang istri?”
Mas Yusuf terdiam menatapku. Kulangkahkan kakiku menghampirinya.
”Aku hanya ingin kamu bahagia. Kamu memang tidak bisa menemukan kebahagiaan
itu denganku, tapi kamu masih punya kesempatan untuk bisa hidup bahagia dengan Alifa.
Selain itu kamu juga bisa memberikan kebahagiaan pada Alifa dan bayi yang
dikandungnya. Kamu mengerti kan Mas?”
Aku rasakan mataku basah. Setetes bening tiba-tiba saja mengaliri pipiku.
”Aku harap kamu bisa mempertimbangkan saranku. Ini demi kebaikan kita semua. Aku
yakin jika orang tua kita mengetahui hal ini, mereka pasti akan mengerti. Sepulang kerja
nanti, aku tunggu jawabanmu”
Setelah itu aku masuk ke dalam kamar sambil mengunci pintunya. Aku tak kuat
menahan sesak ini. Di balik pintu aku menangis. Aku begitu sedih. Semua perasaan
bercampur menjadi satu.
”Rabbi....kuatkan aku.......”