BELANG SISKA

1127 Kata
BAB 3 BELANG SISKA "Ngerusak mood saja!" ujar Agung, lalu beranjak pergi berangkat ke kantor. Dini mengelus d**a. Selalu begitu. "Kapan kamu akan berubah, Bang! Aku lelah!" Tok… tok… tok…! Dini bergegas berjalan ke depan. "Oh, Bu Hajjah! Mau ambil jahitan, ya! Silahkan masuk, Bu! Sebentar, saya ambilkan!" "Iya, Mbak Dini!" "Ini, Bu! Silahkan di cek dulu!" "Gak perlu! Saya percaya kok! Jahitan kamu itu memang bagus! Saya yakin pasti cocok! Rasyid mana? Kok gak kelihatan?" tanya Bu Hajjah Salamah sambil celingukan. "Rasyidnya belum bangun, Bu!" "Oalah, ya sudah! Ini ongkos jahitnya! Dan, ini ada makanan untuk Rasyid!" "Aduh, jadi merepotkan, Bu! Terimakasih banyak, Bu!" "Iya, sama-sama. Ya sudah, saya pulang dulu!" "Iya, Bu! Silahkan!" "Dini!" Belum sempat Dini menutup pintu rumahnya, mertua dan iparnya tiba-tiba datang. "Bu Hajjah kesini tadi ambil jahitan?" tanya mertuanya. "Iya, Bu!" jawab Dini sambil beranjak masuk. "Eh, Din! Itu apaan yang kamu pegang? Aku lihat!" ujar Niken. "Oo … ini makanan dari Bu Hajjah untuk Rasyid." Niken mengambil dari tangan Dini dan membukanya. "Jangan, Mbak! Itu untuk Rasyid!" cegah Dini. "Wuih … makanan enak, nih! Udah, buat aku saja! Makanan seperti ini cocoknya dimakan Rino. Bukan anak kamu yang kampungan itu!" ujar Niken. "Mbak, tolong kembalikan! Itu untuk Rasyid!" "Dini! Gitu aja kamu permasalahan! Udah, biar dibawa Niken. Rasyid buatkan telur ceplok saja," omel mertuanya. Niken tersenyum penuh kemenangan. "Dapat uang berapa tadi dari Bu Hajjah?" tanya mertuanya lagi. "Em … itu tadi ...em …." "Ngomong yang jelas. Berapa?" teriak Ibu mertuanya. "Ish … Ibu kelamaan," ujar Niken. Dia meletakkan makanannya di meja, lalu menggeledah saku baju Andini. "Mbak! Mbak mau apa? Jangan begini." "Udah, diem kamu!" bentak Mertuanya. Niken terus melakukan aksinya. Tak berselang lama, dia tertawa kegirangan. Dia menemukan sesuatu. "Lihat ini, Bu! Wuih … lima ratus ribu!" ujar Niken sambil memamerkan uangnya. "Mbak, kembalikan uangnya! Itu untuk beli bahan dan belanja!" rengek Andini. "Siniin uangnya!"ujar Ibu Agung sambil merebut dari tangan Niken. "Bu, bagi dong! Kan, aku yang temuin!" ujar Niken. "Bu, tolong kembalikan uangnya!" "Gak. Ini uangnya Ibu ambil semuanya. Awas, jangan coba-coba cerita sama Agung!" ancam mertuanya. "Bu, setidaknya, jangan di dibawa semua," ujar Dini memelas. "Nih! Buat kamu segitu saja cukup! Ayo, Ken! Kita pulang!" ujar mertuanya sambil melempar uang dua puluh ribuan. Dini memandang uang itu dengan memelas. Rencananya, uang itu akan dia gunakan untuk membeli beras yang sudah menipis dan baju untuk Rasyid. Sebagian bajunya sudah kusam dan kekecilan. Dini menghela napas. Kenapa dia tidak pernah berani melawan mertua dan iparnya? Batinnya. Dini kembali ke dapur meneruskan pekerjaannya. Mumpung Rasyid masih tidur, dia ingin segera menyelesaikan pekerjaannya. "Bunda … bunda …." Terdengar teriakan dan tangis Rasyid saat pekerjaan rumah Dini baru saja selesai. "Aduh ... anaknya Bunda yang ganteng sudah bangun! Mandi dulu, yuk! Habis itu, kita sarapan!" Rasyid tersenyum senang. Dia mandi sambil berceloteh. "Kamu adalah penyemangat Bunda, Nak!" Setelah selesai mandi dan sarapan, Dini mendudukkan Rasyid di tikar dekat mesin jahit dan meletakkan mainannya di situ. Rasyid memang anak yang manis. Dia jarang sekali rewel. Dia bisa betah duduk seharian di situ menemani Ibunya menjahit sambil bermain. *********** "Mas Agung, jalan yuk! Bete jam segini di kost sendirian!" ujar Siska manja setelah jam pulang kantor. "Ekhm….. ekhm!" dehem Ricky. Kebetulan, meja kerja Ricky berada di dekat meja Agung. "Kenapa lu, Rick!" "Gak tau, nih! Tenggorokan gue gatel! Gue cabut dulu!" "Gimana, Mas?" Agung berpikir sejenak. "Ayo! Mau kemana, nih?" "Ke mall di Permata Hijau, ya? Kemarin, aku lihat ada tas bagus! Pengen beli! Mumpung lagi diskon! Habis gajian juga!" ujar Siska sambil cengengesan. Mereka berkeliling mall hingga puas. Sepanjang jalan, Siska bergelayut manja di lengan Agung. Siska pun asyik memilih-milih tas. "Mas, ini bagus yang mana?" tanya Siska sambil menenteng dua buah tas. "Dua-duanya bagus," jawab Agung. "Aduh … Mas! Gue bingung!" "Kalo bingung, ambil dua-duanya saja!" "Gak bisa! Uangku mana cukup!" "Udah, ambil aja! Yuk, ke kasir!" Agung menarik lengan Siska menuju kasir. "Mbak, bungkus yang ini ya! Berapa?" "Totalnya tujuh juta, Pak!" Agung mengeluarkan kartu kreditnya. Setelah selesai melakukan pembayaran, mereka beranjak keluar. "Terimakasih, Mas! Udah dibayarin! Gue jadi ngerasa gak enak!" ujar Siska malu-malu kucing. "Udah, santai saja. Mau beli apa lagi? Ntar gue beliin" tanya Agung. "Beneran, Mas?" tanya Siska kegirangan. "Tentu saja! Ayo!" Siska benar-benar bersemangat. Kapan lagi coba,bisa belanja sepuasnya tanpa bingung mikirin bayar. Akhirnya bukan hanya membeli tas, Siska juga membeli beberapa buah pakaian dan sepatu. Dan, sebagai pria sejati, Agung benar-benar membayar semua belanjaan Siska. Setelah puas belanja,mereka makan di cafe dekat mall, lalu beranjak pulang menuju kost Siska. "Terimakasih, ya,Mas! Udah dibayarin! Padahal, aku bisa bayar sendiri!" ujar Siska sambil memeluk Agung, Agung pun membalas pelukan Siska. "Jangan terimakasih doang, dong!" "Terus maunya apa?" Agung mengecup bibir Siska. Dan lagi, mereka melakukannya! " Bagaimana kalau istrimu tahu tentang kita?" tanya Siska setelah mereka selesai melakukannya. "Sudah, gak usah dipikirkan! Kita jalani saja apa adanya sekarang!" Siska tersenyum penuh arti. Dia sudah bisa mendapatkan Agung, walaupun statusnya hanya selingkuhan. Pelan-pelan, dia akan menyingkirkan istri sah Agung. Siska yakin, dia pasti bisa. Agung beranjak bangun dari tidurnya. "Mau kemana, Sayang?" tanya Siska sambil bergelayut manja. Melihat itu, Agung tersenyum dan memberi kecupan kecil untuk Siska. "Ini sudah malam, Sayang! Gue harus pulang!" jawab Agung. "Gak pengen nginep sini aja?" tanya Siska. Agung terkekeh. "Jangan sekarang, ya! Gue janji lain kali akan menginap!" "Beneran? Janji, ya?" "Iya, gue janji," ujar Agung sembari mengecup kening Siska. Agung segera pamit dan pulang. Setelah Agung pulang, Siska segera meraih ponselnya. Banyak panggilan dan pesan dan masuk. Dia tampak menelepon seseorang. "Siska, kemana saja sih kamu? Susah sekali dihubungi dari tadi," omel seseorang di seberang sana. "Maaf, Mi. Masih sibuk tadi. Bagaimana? Ada tamu buat gue malam ini?" tanya Siska. "Iya. Udah, cepeten ke sini. Ini tamu spesial dari tadi nungguin lo. Dia gak mau sama yang lain," ujar wanita yang biasa dipanggil Mami oleh Siska. "Oke, mi. Gue meluncur kesana sekarang." Setelah mandi dan bersiap sebentar, Siska sudah meluncur ke tempat mami. "Mami …!" panggil Siska begitu memasuki ruang tamu. "Siska! Sini!" jawab Mami sambil berteriak dari pojok ruangan. "Mana,Mi, tamunya?" tanya Siska. "Udah di atas. Kamu langsung naik sana." "Siap, Mi." ********** "Sis, kenapa sih, kamu gak fokus disini saja? Daripada kerja kantoran. Udah capek, gajinya dikit lagi," ujar Mami setelah Siska selesai melakukan tugasnya. "Gak bisa, Mi. Gue juga pengen punya kehidupan yg normal. Gue pengen nikah dan punya keluarga." "Emang ada yang mau sama wanita panggilan kayak kamu? Memangnya kamu tidak takut, kalau nantinya sakit hati saat dia dan keluarganya tahu latar belakangmu?" "Gue yakin bisa atasi itu. Gue akan bikin dia cinta mati sama gue." "Ya … terserah kamu sih, yang penting, saat ada tamu, kamu siap dipanggil." "Siplah kalo itu, Mi. Jangan kuatir. Selama belum kawin, gue siap. Yang penting, jangan terlalu sering."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN