Bab 4
KETAHUAN
Kring … kring….
Ponsel Andini berdering.
"Halo!"
"Halo, Din! Dih, yang udah jadi mama muda, lupa sama temannya!" ujar Amira.
"Mira! Apa kabar? Maaf, ya, belakangan jahitanku banyak banget! Jadi, gak bisa kemana-mana!"
"Iya, percaya gue! Yang udah jadi penjahit sukses!"
"Gak gitu juga, Mir! Kemarin-kemarin ini memang sedang deadline. Ada apa, Mir? Tumben nelpon?" lanjut Dini.
"Lo hari ini ada waktu gak? Ketemuan, yuk! Udah lama banget kita gak ketemu."
"Aduh, jangan sekarang, ya! Ini lagi deadline juga! Besok saja bagaimana?"
"Ya udah! Jam sebelas, ya! Di kafe lesehan biasanya!"
"Oke, sip!" jawab Dini.
Amira adalah sahabat Andini sejak SMA. Meskipun dia berasal dari keluarga berada, tetapi dia tidak sombong.
Andini yang pintar, sering membantu Amira dalam belajar. Begitu sebaliknya, Amira pun sering membantu Dini saat dia mengalami kesulitan keuangan.
Keesokan harinya, setelah menyelesaikan semua pekerjaan rumah, Dini bersiap-siap untuk menemui Amira. Dini lebih memilih naik ojek online daripada naik angkot. Saat sampai di lokasi, ternyata Amira sudah menunggu.
"Halo, Mir! Maaf, telat! Udah lama nunggunya?" tanya Andini setelah cipika-cipiki.
"Gak kok! Gue juga barusan datang! Halo, Ganteng! Duh, makin imut saja!"
"Iya, dong! Makanya, cepetan nikah! Biar punya sendiri!"
"Belum dapat yang cocok!"
"Bukan karena belum ada yang cocok, tapi kamunya tuh terlalu pilih-pilih."
"Harus, dong! Nikah itu sekali seumur hidup. Jadi, harus benar-benar selektif.
"Iyalah, suka-suka kamu aja."
Dini mendudukkan Rasyid di dekatnya. Dia meletakkan mainan dan cemilan didekat Rasyid. Anak itu asyik dengan mainannya, sementara Amira dan Dini ngobrol santai.
"Din, kok lo kurusan, sih? Gak dikasih makan apa sama si Agung?" oceh Amira.
"Ish … kamu itu kalo ngomong tetap aja, asal jeplak!" omel Dini.
Yang diomelin malah tertawa ngakak.
"Beneran lho, Din! Lo tambah kurus!" Amira masih keukeuh dengan opininya.
"Gak lah! Biasa ja!"
"Mertua sama ipar lo apa kabar?"
"Mereka baik dan sehat tanpa kekurangan suatu apapun."
"Bukan itu maksud gue. Maksudnya, mereka masih suka ngrecokin lo gak?"
"Ya … gitu deh! Kayak biasanya!"
"Lo gak pernah cerita sama Agung tentang kelakuan mereka?" tanya Amira penasaran.
"Dulu … iya. Tapi sekarang, sudah gak pernah. Buat apa? Toh, bang Agung lebih membela mereka," jawab Dini sendu.
"Duh … lo jadi orang kok sabar banget, sih! Kalo gue nih, udah gue bejek-bejek tuh orang!"
Dini tertawa.
" Kamu bisa aja. Kamu gimana kabarnya? Betah kerja kantoran?" Dini mengalihkan pembicaraan.
"Betah gak betah ya dibetah-betahin. Mau gimana lagi. Kalo bukan gue, siapa lagi yang bakal nerusin," jawab Amira sambil manyun.
"Jangan gitulah! Di luar sana, banyak lho yang ingin ada di posisimu! Gak perlu bingung kesana-kemari mencari pekerjaan, dapat posisi bagus lagi!" nasehat Dini kepada sahabatnya.
"Iya, gue paham. Hanya kan, tidak sesuai dengan passion gue. Jadi, kadang sering merasa jenuh."
"Ya … kamu sabar aja. Lama-lama pasti terbisa kok!"
"Iya, Din. Terimakasih, ya, lo selalu dukung gue, selalu ngasih semangat ke gue!"
Dini tersenyum menanggapi.
Din, itu kayaknya laki lo, deh! Benar gak, sih?" ujar Amira sambil menunjuk meja yang tidak jauh dari mereka.
Dini menoleh. Dia terkesiap. Bukan karena melihat suaminya makan siang di tempat yang sama, tapi melihat siapa yang bersamanya. Seorang wanita cantik dengan pakaian kantor ketat, sepertinya wanita kantoran, sedang bergelayut mesra di lengan suaminya. Tanpa sadar, air matanya menetes.
"Kamu yang sabar, ya, Din! Maaf, gara-gara gue ngajak ketemuan, lo harus lihat hal ini!"
"Gak, Mir! Kamu gak salah! Justru, aku berterimakasih karena akhirnya aku tau perbuatan suamiku. Ternyata, selama ini aku begitu bodoh!" ujar Dini sambil terisak. Mira memeluk sahabatnya. Setelah agak lama, Dini sudah agak tenang.
"Terimakasih, ya, Mir! Kamu ada disaat aku rapuh!"
"Sama-sama. Kita, kan, temenan dah lama. Jadi, gak usah sungkan. Terus, apa rencana lo? Kalau lo mau ngelabrak itu pelakor, gue siap bantu kok!"
"Gak,Mir! Aku gak mau mempermalukan diri sendiri. Biarkan saja dulu! Aku gak mau ada keributan!"
"Tapi, lo beneran gak papa?"
"Iya, aku gak papa kok. Aku hanya syok saja. Ternyata, kesetiaan dan pengabdianku selama ini sia-sia!" Dini menitikkan air matanya lagi.
Agung yang tidak menyadari keberadaan istrinya, tetap melanjutkan makan siangnya dengan Siska.
"Yang, nanti sepulang kerja, main ke kostku dulu, ya?" rayu Siska.
"Tentu, Sayang! Apa sih yang gak buat kamu!" jawab Agung sambil tak segan mengecup kepalanya.
"Kapan, sih, Yang, kamu mau nginap di tempatku?" ujar Siska sambil manyun.
"Ntar kalo sudah resmi, dong!"
"Trus, kapan mau ngresmiin aku?"
"Sabar, ya! Mas kan, harus ngomong sama istri Mas dulu!"
"Kalo seandainya istri Mas gak ngizinin, bagaimana?"
"Dia pasti kasih izin, kok. Tenang saja."
"Kalo dia keukeuh gak ngizinin dan Mas harus milih, Mas mau milih siapa?"
Agung tertawa terbahak.
"Kok malah tertawa, sih, Mas?" ujar Siska manyun.
"Gimana gak tertawa? Pertanyaan kamu itu lucu."
"Lucunya gimana?"
"Orang buta pun, kalo disuruh milih antara kamu dan Dini, pasti milih kamu lah! Apalagi Mas!"
"Beneran?"
"Iya, Sayang. Kamu tenang aja, oke? Udah, sekarang ayo makan! Bentar lagi jam istirahat selesai!"
Mendengar hal itu, hati Dini semakin teriris. Dia menangis terisak.
"Kita pergi dari sini saja, yuk!" ajak Amira. Dia tidak tega melihat sahabatnya menangis.
"Jangan dulu! Nanti bang Agung lihat! Untuk sementara, aku mau pura-pura tidak tahu dulu! Aku ingin tahu, sejauh mana dia akan membohongiku!"
Setelah menghabiskan makan siangnya, Agung dan Siska segera meninggalkan tempat tersebut dan kembali ke kantor. Sementara, Dini dan Mira masih di tempat yang sama.
"Din, lo kalo mau nangis, nangis aja! Jangan ditahan!"
Dini menangis tersedu. Hatinya benar-benar hancur.
"Apa salahku, Mir? Selama ini aku sudah berusaha sabar. Menghadapi bang Agung, Ibu, mbak Niken, bahkan Shelly. Tapi, apa yang aku dapat? Dia menghianati aku."
Amira terus memeluk sahabatnya hingga dia tenang. Untungnya, Rasyid tidak rewel.
"Din, gue anter pulang, ya!" ujar Amira setelah Dini agak tenang.
"Gak usah,Mir. Aku naik ojol saja. Nanti malah ngrepotin," tolak Dini.
"Ngrepotin apanya? Justru, gue malah kuatir kalo biarin lo pulang sendiri dalam keadaan kayak gini. Ayo!"
Akhirnya, Dini pun mengalah. Saat berjalan keluar, Dini kurang fokus sehingga menabrak seseorang.
Brak ….
"Maaf, Pak! Saya tidak sengaja!" ujar Dini
"Makanya, lihat-lihat dong, kalau jalan!" ujar wanita yang bersama pria tersebut.
Dini mendongak. Dia merasa familiar dengan suara wanita itu.
"Kamu …."
Mereka berucap bersamaan.