Bab 5
KELICIKAN SISKA
"Shelly, dia siapa?" tanya Dini heran sambil memandang pria yang bersama Shelly tersebut. Pria setengah baya dengan perut buncit.
"Udah deh, Mbak. Gak usah tanya-tanya. Awas, kalo sampai cerita sama Ibu dan Bang Agung," ancam Shelly. Bergegas dia menggandeng pria tersebut masuk ke dalam kafe.
Dini memandang mereka sebentar, lalu beranjak pergi diikuti Amira. Di dalam mobil, Dini masih memikirkan adik iparnya.
"Din, lo masih mikirin adik ipar lo itu?" tanya Amira.
"Iya, Mir. Kamu curiga gak sih, sama pria itu? Aku jadi mikir yang gak-gak."
"Kayaknya kita sepemikiran, deh! Lo tadi merhatiin kan, itu pria sudah setengah baya! Mana pake gandengan mesra lagi!"
"Duh Mir! Aku harus gimana sekarang?" Dini ketakutan.
"Kalo menurut gue sih, mending lo gak usah ikut campur. Daripada kena semprot? Kan, Lo sendiri yang susah."
"Masak aku biarin aja, gitu?"
"Memang harusnya begitu. Biar keluarga mereka tahu dengan sendirinya. Lo gak usah ikut campur. Lebih baik, lo fokus sama kelakuan laki lo itu."
Dini menghela napas. Dia memikirkan kata-kata Amira. Dini merasa yang dikatakan Amira benar, lebih baik dia tidak ikut campur. Saat dia mengatakan kebenaran itu, belum tentu mereka percaya. Yang ada, dia sendiri yang akan dipojokkan seperti biasa. Sesampainya di rumah, Dini segera membersihkan diri dan memandikan Rasyid. Setelah itu, dia memasak untuk makan malam.
Malam ini, Dini hanya masak menu sederhana saja. Toh, biasanya Agung tidak makan di rumah karena belakangan Agung sering pulang telat.
"Din, kamu masak apa?" Tiba-tiba mertuanya sudah muncul di ruang makan.
"Hanya masak itu, Bu!" jawab Dini sambil menunjuk meja makan.
"Makanan apaan itu? Gak ada yang lain?" omel mertuanya.
"Gak ada, Bu. Belakangan bang Agung sering lembur. Jadi, jarang makan di rumah."
"Ya udah, deh! Ibu beli makanan saja! Gak level makan begituan! Bagi duitnya!" ujar mertuanya sambil menengadahkan tangan.
"Lho, ibu kan sudah dapat jatah sendiri dari bang Agung?" tanya Dini.
"Udah, gak usah cerewet. Uang Ibu untuk keperluan lain. Mana, bagi duitnya?"
"Maaf, Bu. Uang Dini sudah habis untuk belanja."
"Kemarin, kan kamu habis bayaran jahitan Bu Aminah. Ayo jangan pelit kamu!" Mertuanya masih terus memaksa.
"Maaf, Bu. Uangnya sudah terpakai."
"Dasar pelit! Awas aja, akan Ibu aduin kamu sama Agung!" ujar mertuanya seraya melangkah pergi.
Dini tak menanggapi. Dia lebih memilih segera mengisi perutnya, lalu beristirahat.
****
Pukul 23.00 WIB
"Baru pulang, Bang? Akhir-akhir ini, Abang sering lembur?" tanya Andini.
"Iya. Kantor sedang ada masalah. Jadi, beberapa karyawan harus kerja lembur, termasuk Abang!"
"Ow…, begitu! Mau makan dulu, Bang?"
"Gak. Sudah makan tadi di kantor. Abang mau langsung mandi saja! Capek!" ujar Agung sambil ngeloyor pergi ke kamar.
Setelah mandi, Agung pun langsung naik ke tempat tidur. Sebenarnya, Andini begitu merindukan sentuhan suaminya. Sudah lama mereka tidak melakukannya. Tetapi, setelah melihat kejadian tadi, Dini menjadi mual. Bisa saja,hubungan mereka sudah jauh, mengingat Agung tidak pernah meminta haknya lagi. Tanpa terasa, air matanya menitik lagi. Hatinya masih begitu sakit. Dini cepat-cepat menghapusnya. Dia tidak ingin suaminya tahu kalau dia menangis.
***********
Tring………
Tengah malam, ponsel Dini berbunyi. Ada pesan berantai. Dini yang merasa terusik, akhirnya terbangun. Dilihatnya sang suami masih pulas. Ada pesan masuk dari nomor tak dikenal. Dini membuka pesan yang memiliki gambar profil wanita berpakaian kurang bahan tersebut.
Matanya membeliak tak percaya. Di sana terpampang foto-foto dan video tak senonoh suami dan wanita di cafe tadi. Ternyata, wanita itu licik juga. Dia sengaja mengirim foto-foto dan video tersebut agar Dini dan Agung bertengkar. Syukur-syukur, mereka akan langsung bercerai.
Namun, Dini tak akan terpancing. Kalaupun dia nantinya akan bercerai dengan Agung, dia tidak mau bercerai dalam keadaan nelangsa. Dia harus bisa membuktikan, walaupun bercerai dengan Agung, dia bisa hidup layak, bahkan lebih baik.
Dini segera mengambil gawai Agung dan memasukkan nomor tersebut ke ponsel suaminya. Beruntung, ponsel suaminya tidak dikunci. Nomor tersebut sudah tersimpan dengan nama kontak Siswandi. Dini menscroll chatnya. Ternyata, ada banyak chat mesra di sana. Dini benar-benar merasa hancur. Dia tak menyangka, suami yang dia perjuangkan, telah menorehkan luka yang begitu dalam. Air matanya mengalir deras.
"Kenapa kamu lakukan ini, Bang? Apa salahku? Selama ini, aku sudah mengabdikan seluruh jiwa dan ragaku. Dan, ini balasanmu?" Dini menangis dalam diam.
Setelah cukup lama dan sedikit tenang, Dini menscreenshot chat mereka dan mengirim ke ponsel Dini. Siapa tahu, suatu saat diperlukan. Setelah selesai, dia segera menghapus jejak dan mengembalikan ponsel Agung ke tempat semula.
***************
"Kamu habis nangis?" tanya Agung saat sarapan.
"Gak, kok! Hanya kecapekan saja!"
"Jangan bohong kamu! Kita menikah sudah lama! Jadi, aku tahu, mana yang habis nangis, mana yang kecapekan!"
"Sebenarnya, aku kangen sama Ibu panti. Kalau boleh, aku ingin berkunjung ke sana!" ujar Dini.
"Panti itu jauh. Aku gak bisa ngantar. Kamu kan tahu, kantor sedang sibuk sekarang. Aku setiap hari harus lembur."
"Aku bisa berangkat sendiri. Yang penting, kamu sudah memberiku izin."
"Berapa lama kamu di sana?"
"Rencana satu minggu."
"Lalu, jahitan kamu?"
"Aku akan menyelesaikan semuanya pagi ini. Kalau diizinkan, nanti siang aku berangkat."
"Pergilah!"
"Terimakasih, Bang!"
"Hem."
Dini sudah memutuskan, dia ingin menenangkan diri dulu di panti. Di sana, dia bisa bercengkerama dengan Ibu panti dan para pengasuh. Ada beberapa temannya juga yang mengabdikan diri di sana. Lagi pula, Rasyid pasti senang bertemu banyak teman.
Dia tidak banyak membawa barang. Hanya sedikit pakaian dan oleh-oleh untuk mereka. Setelah pekerjaannya selesai, Dini mengantar jahitannya kepada pemiliknya. Dia tidak ingin pergi meninggalkan tanggungan. Setelah semua beres, dia segera bersiap.
"Mau kemana kamu?" tanya Ibu mertua yang tiba-tiba muncul bersama mbak Niken.
"Dini mau menengok Ibu panti, Bu!"
"Kamu itu memang pantasnya tempatnya di sana! Dah, gak usah balik-balik sini lagi!" ujar Niken.
Dini menanggapinya dengan senyuman.
"Ini kan, rumah suamiku, Mbak! Ya wajar, dong, kalau saya ada di sini!" jawah Dini.
"Kamu sudah izin sama Agung?" tanya Ibu mertuanya.
"Sudah, Bu! Tadi pagi, sebelum Bang Agung berangkat kerja. Bang Agung sudah memberi izin, hanya saja tidak bisa mengantar. Karena di kantor sedang banyak pekerjaan."
"Kamu bawa apa itu?"
"Itu buah-buahan dan kue untuk anak-anak panti, Bu!"
"Kamu menghambur-hamburkan uang anakku untuk mereka? Enak saja! Lebih baik, ini semua untuk Ibu!"
"Jangan, Bu!"