Bab 6
KEMBALINYA RIFAI
"Kenapa? Jangan pelit kamu! Kamu kan membeli itu pakai uang anakku, jadi Ibu lebih berhak daripada anak panti itu!"
"Lagi pula, ini kue mahal. Mereka tidak pantas makan beginian. Mereka itu pantasnya makan gorengan pinggir jalan!" ejek mbak Niken.
"Bu, jangan dibawa semua, ya! Tolong sisakan sedikit! Lagipula, aku beli pakai uangku sendiri, hasil menjahit!"
"Gak bisa! Ini makanan Ibu bawa semua! Ayo, Ken! Kita pulang!"
Dini hanya bisa mengelus d**a melihat mereka tanpa bisa berbuat apa-apa. Dia segera berangkat agar tidak kemalaman sampai di sana. Dia akan membeli oleh-oleh lagi di terminal.
**********
"Tok… tok.... tok…! Assalamualaikum. Bu, Bu Hilda!"
"Waalaikumsalam!" jawab seseorang dari dalam rumah.
"Dini! MasyaAllah! Kok malam-malam ke sini? Agung mana?" tanya Bu Hilda, Ibu panti.
"Dini kangen sama Ibu, jadi tadi izin main ke sini. Tapi bang Agung gak bisa ngantar, lagi banyak kerjaan di kantor!" jawab Dini.
"Ayo, masuk! Kasihan, anakmu kedinginan di luar! Tidurkan di kamar Ibu saja! Nanti kamu tidur sama Ibu juga, ya! Ibu juga kangen sama kamu!"
Dini tersenyum. "Iya, Bu!"
Mereka beriringan menuju kamar Bu Hilda. Dini segera menidurkan putranya di kasur.
"Dia lelap sekali. Sepertinya, dia benar-benar kecapekan!" ujar Bu Hilda.
"Iya, Bu! Perjalanannya kan, memang jauh! Untungnya, dia gak rewel selama di jalan!" jawab Dini.
Bu Hilda tersenyum.
"Dia memang anak yang pintar!" ujar Bu Hilda, lalu mencium pipi Rasyid.
"Kamu sedang ada masalah dengan Agung?" lanjut Bu Hilda.
"Tidak ada, Bu!"
"Bener?" tanya Bu Hilda memastikan.
"Iya, Bu! Beneran!"
"Din! Ibu merawat kamu sejak masih bayi! Jadi, Ibu paham betul sama kamu. Kalau memang kamu tidak mau cerita, ya sudah. Ibu cuma berpesan, jangan bawa masalah rumah tanggamu keluar. Kalau ada masalah, segera diselesaikan agar tidak berlarut-larut. Ya sudah, kamu segera istirahat. Pasti capek! Ibu mau ngecek anak-anak dulu!"
Dini mendengarkan nasehat Ibu panti. Beliau benar. Tidak seharusnya dia lari dari masalah. Tapi, yang dia lakukan saat ini bukan lari. Dia hanya ingin menenangkan diri. Jika sudah siap dengan keputusannya, dia akan segera kembali.
************
Tok… tok. tok…!
Pagi-pagi buta, pintu kamar Dini diketuk,bahkan sudah mirip gedoran.
Dini membuka pintu kamar. Begitu pintu terbuka, Aisyah langsung memeluk Dini.
"Dini! Aku kangen banget sama kamu!" ujar Aisyah. Dia adalah sahabat Dini selama di panti. Mereka seumuran dan memiliki nasib yang sama yaitu sama-sama tidak ada yang mengadopsi hingga dewasa.
Bedanya, kini Dini sudah menikah. Sedangkan Aisyah, lebih memilih mengabdikan diri di panti ini.
"Ais! Aku juga kangen banget sama kamu! Kok tahu aku di sini?"
"Ibu yang kasih tahu! Semalam, Ibu tidur di kamar aku. Katanya, kasihan kamu kecapekan. Jadi, beliau tidak mau mengganggu!"
"Duh, aku jadi gak enak! Nanti malam,aku tidur di kamar kamu saja, ya!"
"Siiip! Mana Rasyid?"
"Tuh, masih tidur. Ini masih terlalu pagi."
"Ya udah, yuk, bantuin aku masak! Rasyid titipkan ke Bu Asih saja! Aku kangen, pengen masak bareng kamu!"
Bu Asih adalah salah satu pengasuh senior di sini. Beliau sudah ada sejak Dini masih kecil.
Mereka ke dapur bersama-sama. Memasak untuk adik-adik panti sudah mereka lakukan sejak SMP.
**************
Setelah menyelesaikan tugas, mereka bercengkerama sambil di bawah pohon mangga. Sementara Rasyid, dia terlihat gembira bermain dengan teman seusianya.
"Kamu ada masalah?" tanya Aisyah.
"Gak ada, Ais! Semua baik-baik saja, kok! Aku hanya kangen sama kalian dan suasana tempat ini!"
"Yakin?"
"Yakinlah! Tenang saja! Kabar kamu bagaimana? Belum ada rencana keluar dari panti ini?"
"Sepertinya belum. Aku masih betah. Lagian, kasihan Ibu kalau aku tinggal. Bu Asih juga sudah tua. Tenaganya sudah berkurang."
"Tapi kan kamu juga harus memikirkan masa depanmu!"
"Masa depanku ada di sini, Din! Aku tidak bisa meninggalkan mereka!"
Mereka terdiam cukup lama, tiba-tiba ada sebuah mobil berhenti di halaman.
Seorang pria tampan keluar dengan mengenakan kacamata hitam.
"Mas Rifai!" teriak Aisyah.
Pria itu tersenyum sembari membuka kacamatanya.
"Halo, Ais! Halo, Din! Apa kabar? Lama tak jumpa!" Pria itu mengulurkan tangannya.
Dini tertegun. Dia tidak percaya, setelah sekian lama, dia akhirnya bertemu dengan pria itu.
Tangan pria itu masih mengambang.
Aisyah menyenggol lengan Dini. Dini tergeragap.
"Ha...halo, Mas Rifai!" ujar Dini sambil menerima uluran tangan Rifai. Mereka berjabat tangan cukup lama.
"Ekhm….. ekhm….!" Mereka segera melepas jabat tangannya.
"Ais, ini aku bawakan sembako dan alat tulis untuk anak-anak! Kamu bawa masuk, ya!"
"Dih, aku diusir nih? Okelah, aku pergi ja!" ujar Aisyah sambil manyun. Mereka menggelengkan kepala.
"Gak berubah, ya, kelakuan temenmu itu!" ujar Rifai.
"Jangan lupa, dia itu teman kamu juga!" Mereka tertawa bersama.
"Mas Rifai kapan pulang ke Indonesia?" tanya Andini.
"Sudah beberapa bulan yang lalu. Hal pertama yang kulakukan saat tiba adalah datang kemari. Sayang, yang dicari sudah gak ada."
Dini tersenyum samar.
"Jalan takdir tak ada yang tau, Mas!"
"Mana suamimu? Aku mau kenalan."
"Bang Agung gak bisa ikut. Lagi banyak kerjaan di kantor."
"Jadi dia ngantar kamu saja trus balik?"
Dini tersenyum.
"Gak. Aku pulang naik bis."
"Jarak rumah kamu dan panti ini sangat jauh. Bagaimana dia bisa tega melepasmu pergi sendirian?" omel Rifai.
"Aku bukan anak kecil lagi, Mas! Aku sudah biasa bepergian sendiri," jawab Dini sewot.
Rifai tertawa terbahak. Sejak dulu, dia senang sekali melihat wajah seperti itu. Menggemaskan.
"Apa kamu bahagia?"
"Maksud Mas Rifai?"
"Apa kamu bahagia dengan pernikahanmu?"
"Tentu saja."
"Apa kamu yakin?" tanya Rifai memastikan.
"Apa aku terlihat seperti sedang menderita?" tanya Dini balik.
"Hanya kamu yang tahu jawabannya. Cuma, satu pesanku, kalo ada masalah, jangan sungkan untuk cerita sama aku," ujar Rifai sambil ngeloyor pergi. Dini hanya memperhatikan dari belakang.
Rifai seolah tahu isi hati Dini yang gundah. Untuk saat ini, Dini belum siap menceritakan masalahnya. Biarlah, dia pendam seorang diri. Dia hanya ingin berbagi kebahagiaan.
Dari dulu hingga sekarang, sikap Rifai tidak pernah berubah. Dia tetap peduli dan tak akan membiarkan Dini bersedih, apalagi sampai menitikkan air mata.
Dini memperhatikan Rifai yang sedang bercanda dengan anak-anak. Dia terlihat bahagia sekali. Memang, sejak dulu, Rifai menyukai anak-anak. Bahkan, dia sigap melindungi, menggendong, dan menghibur adik-adik panti yang sedang menangis.
Dini tersenyum. Dia jadi teringat, masa-masa awal kedekatan mereka. Kisah yang tak mungkin Dini lupakan.
*****
20 tahun yang lalu
"Hu … hu … hu …!" Terdengar suara anak kecil menangis. Rifai berusaha mencari asal suara itu. Ternyata, suara itu berasal dari taman belakang panti.
"Kamu kenapa nangis?" tanya Rifai.
"Aku diejek teman-temanku. Kata mereka, aku anak haram. Jadi, aku dibuang di panti. Anak haram itu apa, Mas?" tanya Dini.