TUNTUTAN SISKA

1009 Kata
Bab 7 TUNTUTAN SISKA 20 tahun yang lalu "Hu … hu … hu …!" Terdengar suara anak kecil menangis. Rifai berusaha mencari asal suara itu. Ternyata, suara itu berasal dari taman belakang panti. "Kamu kenapa nangis?" tanya Rifai. "Aku diejek teman-temanku. Kata mereka, aku anak haram. Jadi, aku dibuang di panti. Anak haram itu apa, Mas?" tanya Dini. "Gak usah dengerin mereka. Kalau mereka mengejek kamu lagi, kamu bilang Mas, ya! Biar Mas marahi mereka." "Beneran, Mas? Janji, ya?" "Iya, Mas janji." Mereka berjanji dengan saling menautkan jari kelingking. "Mulai sekarang, kamu jangan cengeng lagi. Aku akan selalu menjagamu." Mereka tertawa bersama. Dan, semenjak itu, mereka menjadi dekat. Bersama Aisyah, mereka sering terlihat bersama. Dini dan Aisyah saat itu berusia 6 tahun. Sedangkan Rifai, tiga tahun lebih tua. Lima bulan sejak kejadian itu, tiba-tiba datang orang kaya yang ingin mengadopsi Rifai. Dini begitu terpukul. Dia tidak rela kehilangan pelindungnya. Dini sampai demam dan mengigau. Melihat hal itu, Rifai jadi tidak tega meninggalkannya. Rifai meminta izin orang tua angkatnya untuk mengundur kepergiannya sampai Dini sembuh. Melihat hal itu, mereka menjadi tidak tega dan mengizinkannya. "Mas, apa Mas benar-benar akan pergi? "tanya Dini. "Iya, Din," jawab Rifai sambil menunduk. "Mas Rifai jahat! Mas Rifai pembohong! Mas sudah janji akan selalu menjaga aku? Mana buktinya? Mas jahat! Mas jahat!" teriak Dini sambil terus memukul d**a Rifai sambil menangis histeris. Rifai membiarkan Dini melampiaskan kekesalannya. Dia sadar, dia sudah menyakiti Dini. Ibu panti yang menyaksikan hal itu, menangis terisak. Beliau tidak tega melihatnya. Namun, keadaan tidak bisa dirubah. Keluarga itu menginginkan Rifai menjadi anak angkatnya. Semua berkas sudah selesai. Jadi, beliau tidak bisa berbuat apa-apa. Setelah tangis Dini sedikit mereda, Rifai memeluk Dini. Sebenarnya, Rifai pun juga berat meninggalkan Dini. Dia berjanji, akan sering mengunjungi Dini di panti. Dan, dia menepati janjinya. Hampir setiap bulan Rifai ke panti. Orang tua angkat Rifai sangat menyayanginya. Mereka tidak keberatan jika Rifai sering-sering ke sana. Bahkan, orang tua angkat Rifai menjadi donatur tetap panti tersebut. Tapi sayang, saat Rifai lulus SMA, dia meneruskan kuliah di luar negeri. Selesai kuliah, dia meneruskan S2 sambil merintis usaha di sana. Sejak saat itu, mereka kehilangan kontak. Dini yang tidak memiliki ponsel, menghalangi komunikasi mereka, hingga akhirnya benar-benar kehilangan kontak. Rifai baru pulang dari luar negeri beberapa bulan yang lalu. Hal pertama yang dia lakukan adalah mencari Andini di panti. Tapi sayang, dia terlambat. Dia sudah keluar dari panti dan sudah menikah. Meskipun begitu, dia tetap rutin mengunjungi panti di sela-sela kegiatan kantornya. Apapun alasannya, dia pernah tinggal di panti ini. Panti ini menyimpan begitu banyak kenangan yang sulit dilupakan. ************ "Mas, kapan kamu akan nikahi aku? Masak kita akan begini terus?" tanya Siska. Agung bergeming. Dia belum sanggup menceritakan tentang hubungan mereka dan menyakiti Andini. Walau bagaimanapun, dia pernah begitu mencintai wanita itu. "Jangan-jangan, Mas gak serius ya, sama aku?" "Bukan gitu. Kita nikmati saja hubungan kita ini. Toh, kita masih bisa sama-sama, kan?" "Iya, tapi aku juga ingin punya status. Tidak seperti ini terus," ujar Siska sambil cemberut. "Iya, aku pasti menikahi kamu. Tapi, beri aku waktu, ya!" "Janji, ya?" "Iya, Mas janji," ucap Agung sambil mengecup kening Siska. Sebenarnya, Agung berkata seperti itu, hanya untuk menenangkan Siska dan agar wanita itu tidak merengek lagi. Dia belum berani menceritakan hubungan gelapnya dengan Dini maupun keluarganya. Sejak kepergian Dini ke panti, Agung merasa semakin bebas. Dia selalu menginap di kost Siska. Agung pulang hanya untuk berganti pakaian, lalu pergi lagi. "Mas, beneran kamu malam ini mau nginap di kostku?" tanya Siska sambil bersandar di bahu Agung. "Iya, sayang. Seminggu ke depan, Mas akan nginap di sini." "Asyik … berasa kayak punya suami beneran, deh!" Siska bersorak gembira. "Emang udah ngebet banget, ya?" goda Agung. "Ih … Mas ini! Ya beneran, dong! Aku kan, sudah siap lahir batin!" ujar Siska sambil mencubit pinggang Agung. "Au … sakit, Yang!" ujar Agung sambil mengelus pinggangnya. "Abisnya … Mas usil!" Siska merajuk. "Jangan merajuk, dong! Ntar, hilang lho cantiknya!" rayu Agung. "Biarin!" jawab Siska jutek. Yah … kalo dijutekin gini, jadi males deh! Mending, Mas pulang aja kalo begitu!" "Jangan dong! Abisnya, Mas gitu, sih!" Agung terkekeh. "Memangnya gak papa, Mas nginap disini? Mbak Dini gimana? Pasti dia curiga." "Dia sedang gak ada di rumah. Tadi pagi, dia izin mau mengunjungi panti." "Panti?" "Iya. Dia dibesarkan disana." Siska manggut-manggut tanda mengerti. "Kenapa tiba-tiba mau kesana?" Agung mengedikkan bahu. "Tadi pagi, aku lihat mukanya sembab. Saat kutanya, katanya kangen sama panti. Jadi, dia minta izin mau nginap disana seminggu." Siska menyeringai sinis. Sepertinya, dia tahu penyebab Dini tiba-tiba pergi. "Pantinya dimana?" Agung menyebutkan sebuah nama daerah. "Jauh banget! Dia pergi sendiri?" "Iya. Mana mau aku nganterin kesana. Mending disini, bersenang-senang sama kamu," ujar Agung. Siska tertawa senang. "Kalau mau bersenang-senang terus, segera halalin, dong!" "Memangnya kamu mau, menjadi istri kedua?" tanya Agung. "Mas, aku siap kok walaupun jadi yang kedua. Yang penting, hubungan kita sah." "Kalau hanya sah, itu gampang. Kita bisa nikah siri. Yang ribet itu kan, resmi secara hukum, karena harus ada izin dari istri pertama." "Sementara siri dulu gak papa, kok, Mas. Ntar, urusan surat menyurat bisa menyusul. Kalo kita sudah nikah kan, mbak Dini gak mungkin bisa nolak." "Keluarga kamu bagaimana?" "Mereka pasti setuju. Mereka tidak akan menolak permintaan aku." "Nanti, kalau kita menikah, kamu harus resign dari kantor. Secara, aturan kantor kan, tidak boleh menikah dengan rekan sekantor. Bagaimana? Apa kamu siap?" "Aku siap lahir batin, Mas! Jangan kuatir! Aku bisa cari kerjaan lagi!" Cup …. Agung mengecup kening Siska. "Oke. Coba kamu bicarakan dulu dengan keluargamu. Aku akan bicara dengan Ibu." "Beneran, Mas?" tanya Siska antusias. "Iya, Sayang!" "Terimakasih, sayang! I love you! Aku pasti akan jadi istri yang baik buat kamu dan gak akan mengecewakan kamu!" ujar Siska sambil memeluk Agung kegirangan. Keinginannya menjadi istri sah Agung, sudah semakin dekat. Walaupun hanya menikah siri, baginya tak masalah. Perlahan-lahan, dia akan menyingkirkan Dini, sehingga dia menjadi istri Agung satu-satunya. Siska juga ingin segera meninggalkan dunia gelapnya. Selama ini dia bertahan karena untuk memenuhi gaya hidupnya. Gajinya sebagai karyawan magang tidak mungkin cukup, bahkan untuk makan pun masih kurang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN