RENCANA ANDINI

1040 Kata
Bab 8 RENCANA ANDINI "Agung, kamu kemana saja? Setiap Ibu kesini, kok gak pernah ada?" tanya Ibu Agung. Beliau langsung berangkat ke rumah Agung saat tahu Agung ada di rumah. "Agung nginap di rumah teman, Bu! Agung bosen di rumah sendirian!" "Kenapa harus di rumah teman? Di rumah Ibu kan bisa." "Ada apa Ibu nyari Agung?" "Memangnya Ibu butuh alasan untuk menemui kamu? Kayak mau ketemu pejabat saja," ujar Ibu Agung sewot. "Gak gitu, Bu. Hanya heran saja. Gak biasanya," kilah Agung. "Ibu kan kuatir. Kamu gak ada nyiapin apa-apanya. Lagipula, itu si Dini pergi lama banget kok ya kamu izinin?" omel Ibunya. "Biarin aja lah, Bu. Biar dia istirahat. Lagian, aku juga gak keberatan." "Ibu sebenarnya masih gak rela kamu nikah sama dia. Kamu itu ganteng, punya jabatan lagi. Harusnya, bisa dapat uang lebih baik dari si Dini itu." "Mau bagaimana lagi, Bu!Agung kan, jatuh cintanya sama dia. Ini masalah hati, Bu. Gak bisa dipaksakan." "Gak tahu lah, Gung! Ibu pusing!" Agung terdiam sejenak. "Bu …," panggil Agung. "Apa?" jawab Ibunya sewot. "Ehm … Agung mau minta tolong, boleh?" tanya Agung ragu. "Minta tolong apa?" Ibu Agung menatap anaknya curiga. **************** BEBERAPA HARI KEMUDIAN "Gung, istrimu belum pulang?" tanya Ibu Agung tiba-tiba muncul. "Hari ini pulang, Bu. Mungkin sebentar lagi." "Assalamualaikum," ucap Dini. "Panjang umur, kamu! Baru juga dibicarakan!" Dini segera mencium punggung tangan suami dan Ibu mertuanya. "Ibu sudah lama?" "Barusan. Bawa apa kamu?" "Ini lauk untuk makan siang, Bu. Tapi, maaf. Tadi belinya hanya sedikit. Dini gak tahu kalau Ibu ada di sini." "Ya, udah. Siniin!" ujar Ibu sambil merebut bungkusan sayur tersebut. "Jangan dibawa semua, Bu! Nanti kami makan apa?" "Jangan pelit! Udah, kamu masak sana. Jadi perempuan kok kerjaannya keluyuran." "Dini gak keluyuran, Bu. Dini juga sudah dapat izin dari bang Agung." "Jawab terus, ya, kalau dibilangin. Udah, Ibu mau pulang. Bikin Darah tinggi Ibu kumat saja!" Bang, sayurnya…." Dini mengadu kepada suaminya. "Udah, itu biar dibawa Ibu. Kamu masak saja sana!" ujar Agung. "Tapi, aku capek, Bang!" "Itu sudah jadi tugas kamu! Jadi, jangan mengeluh!" ************* "Din, bagaimana rencana lo selanjutnya?" tanya Amira. Hari ini, mereka bertemu lagi. "Aku belum tahu. Untuk saat ini, aku harus bekerja lebih giat lagi. Kalau suatu saat pernikahan kami harus berakhir, secara finansial aku sudah siap dan hak asuh Rasyid bisa jatuh ke tanganku." "Kenapa mesti nunggu nanti, sih? Sekarang aja lo gugat cerai dia. Lo gak usah kuatir, gue pasti bantuin lo kok." "Gak, Mir. Aku gak mau diremehin mereka. Kamu tahu sendiri kan, bagaimana watak mereka? Jadi, aku harus bisa mandiri." "Oke. Gue dukung apapun keputusan lo. tapi, lo yakin kan, ingin berpisah dengan Agung?" "Aku belum tahu, Mir. Tapi yang jelas, aku tidak bisa memaafkan penghianatan," ucap Dini sendu. "Kalo menurut gue, daripada lo sakit hati, lebih baik pisah aja. Gue punya tawaran menarik buat lo." "Tawaran menarik? Apaan?" "Sebenarnya, gue mau buka butik dalam waktu dekat ini. Rencananya, butik gue nanti bukan hanya menjual pakaian jadi, tapi juga menerima pesanan sesuai keinginan pelanggan. Jahitan lo kan, bagus. Lo juga bisa desain baju. Bagaimana kalau kita kerja sama?" Sejak SMA, Dini memang suka mendesain baju. Walau otodidak, tapi hasil karyanya lumayan bagus. Amira pernah melihat buku yang berisi koleksi desain Dini. "Kerja sama? Maksudnya?" "Gue yang nyiapin modal dan lokasi, lo yang di lapangan. Tenang saja, nanti kita cari karyawan. Jadi, kerjaan lo gak berat-berat amat." "Lokasinya sudah dapat? Dimana?" "Sudah. Di ruko dekat pasar itu. Di situ kan rame banget. Banyak cafe-cafe anak muda juga." "Boleh juga, sih. Tapi, aku gak yakin." "Gak yakin kenapa?" "Aku kan gak pernah buat baju-baju mahal gitu. Selama ini, aku cuma jahit baju orang-orang sekitar rumah." "Gue yakin kamu pasti bisa. Kan, elo pernah buatkan gue gaun pesta. Dan itu dipake nyaman banget. Gue yakin, kamu pasti bisa." Dini masih berpikir. "Bagaimana? Ayolah, itung-itung bantu gue, deh! Karena cuma lo, teman yang bisa gue percaya." "Ya, sudah. Aku mau. Tapi, aku nanti datang setelah bang Agung berangkat ke kantor, dan pulang sebelum jam pulang kantor, ya!" "Sip, kalo itu bisa diatur. Terimakasih," ujar Mira sambil memeluk Dini. "Kapan rencana pembukaan?" "Minggu depan. Semua sudah siap, kok. Tinggal merapikan barang-barang saja. Karena sekarang sudah dapat orang yang bisa handel itu butik, jadi gue bisa tenang. Tadinya, gue masih bingung. Secara, kan gue bantuin bokap di kantor. Jadi, gak bisa menghandel butik itu sendiri. Mau lihat lokasinya dulu gak?" "Boleh. Ayo!" Mereka segera berangkat menuju lokasi. "Bagaimana menurutmu?" tanya Amira setelah sampai. "Bagus. Lokasinya juga strategis. Pasti laris." "Amin." "Masuk, yuk!" Ternyata, di dalam desain interiornya juga sudah selesai. Desainnya menarik. Pilihan warnanya soft, tatanannya simpel, dan memberikan kesan elegan, tapi tampak kekinian. "Ini kamu sendiri yang desain tempatnya?" tanya Dini kagum. "Gaklah! Gue mana bisa? Ha …. Semua gue serahkan sama ahlinya. Gue tinggal terima beres saja. Gimana? Keren gak?" "Keren banget! Aku suka! Pasti, pengunjung pun betah kalo masuk kesini!" "Bener banget! Harapan gue, butik ini bukan hanya menjangkau anak muda, tapi juga ibu-ibu sosialita. Ayo, ke dalam! Gue tunjukin sesuatu!" Merek berjalan beriringan masuk ke dalam. Mira masuk ke salah satu ruangan. "Ini nanti jadi ruang kerja lo! Ntar, gue tambahin boks disana buat tempat bermain Rasyid dan tempat tidur kecil untuk tidur!" "Aku punya ruangan sendiri?" "Iyalah. Kan, lo bosnya disini. Gue hanya sesekali aja cek lokasi! Ayo, ke sebelah sana!" Amira membawa Dini ke ruangan lain. Setelah pintu terbuka, terlihat ruangan yang begitu mewah. "Ini ruang apaan?" tanya Dini. "Ini ruangan untuk menerima tamu yang mau pesan desain baju! Biasanya, mereka dari kalangan atas. Jadi, harus diistimewakan." "Apa ini gak berlebihan? Ruangannya terlalu mewah." "Gak. Mereka akan semakin merasa dihargai jika berada di ruangan mewah seperti ini, dan itu merupakan keuntungan besar buat kita. Karena mereka akan semakin sering kesini. Bukan mustahil, mereka akan membawa teman-temannya." "Konsepnya udah benar-benar matang, ya?" "Iyalah! Ini kan, cita-cita gue dari lama. Cuma, baru kesampaian sekarang aja." "Ini sudah selesai semuanya?" "Belum, tinggal finishing saja kok. Dua hari lagi, kita kesini lagi, ya. Kita tata barang-barangnya, sekalian buka lowongan cari karyawan." "Sip!" ************ Tok … tok … tok …! Dini bergegas membuka pintu. Tidak biasanya sore begini ada tamu. "Bang Agung!" ucap Dini lalu mencium punggung tangan suaminya. "Dia siapa, Bang?" lanjut Dini saat melihat suaminya tidak pulang sendiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN