BAB 9
NIKAH SIRI
"Kenalkan, gue Siska. Istri kedua mas Agung!" serobot Siska.
"Ini maksudnya apa, Bang?" tanya Dini bingung.
"Kita masuk dulu. Kita bicara di dalam."
Setelah mengatakan itu, Agung segera masuk ke dalam rumah diikuti oleh Siska. Mereka duduk bersama di ruang tamu.
"Begini, Din! Apa yang disampaikan Siska memang benar. Dia adalah istri kedua Abang. Seminggu yang lalu, kami menikah siri. Abang janji, Abang akan adil. Jadi, kamu tidak perlu khawatir."
"Kenapa, Bang! Kenapa Abang tega melakukan ini semua? Apa salahku, Bang?" ucap Dini sambil menahan tangis.
"Ya lo ngaca, lah! Mana ada suami yang betah kalo setiap hari disuguhi pemandangan kayak gitu?" ejek Siska sembari melirik sinis ke arah Dini.
"Sudahlah, kamu terima saja. Toh, kami sudah terlanjur menikah. Daripada kami berbuat zina. Lagipula, seorang pria kan, boleh punya istri lebih dari satu," jawab Agung enteng.
"Benar, Bang, tapi gak gini caranya! Harusnya, Abang bicarakan dulu dengan aku! Pernikahan kedua suami itu harus dengan izin istri pertamanya."
"Memangnya, kalau Abang bicara dulu, kamu kasih izin? Gak, kan? Jadi, lebih baik, kamu terima saja Siska jadi madumu."
Eh … mantu Ibu yang baru sudah datang!" ucap Ibu Agung tiba-tiba muncul, lalu cipika-cipiki dengan Siska.
"Ibu sudah tahu?" tanya Dini.
"Ya tau, dong! Malah Ibu mendukung. Secara Siska kan lebih segala-galanya dari pada kamu. Iya kan, Shel?" jawab Niken sinis sembari mencari dukungan dari Shelly, adik Agung.
"Bener, tuh! Malahan, Ibu sendiri yang datang melamar Siska!" sahut Shelly pongah. Memang, saat acara lamaran Dini dulu, Ibu tidak datang karena belum memberikan restu.
Siska tersenyum bangga.
"Tega kalian menyembunyikan semua ini sama aku!" ujar Dini.
"Udah, deh! Gak usah kebanyakan drama! Sana, cepat pergi belakang! Buatkan kami minum dan siapkan makan malam untuk kami semua!" perintah Ibu Agung.
"Tapi, Bu …."
"Udah, deh. Gak usah protes. Sana pergi! Hus … hus …!" ucap adik ipar Dini tak sopan.
Dini pun segera beranjak ke belakang.
"Sis, rencana kamu tinggal dimana?" tanya Ibu Agung.
"Saya sih, terserah Mas Agung saja, Bu!" jawab Siska.
"Rencana Agung, sih, biar Siska tinggal disini sekalian. Kasihan, dia di kost sendirian," jawab Agung.
"Apa? Gak, Bang! Dini gak setuju!" teriak Dini. Dia tak sengaja mendengar pembicaraan mereka saat akan mengantar minuman.
"Apa hak kamu bicara seperti itu?" hardik mertuanya.
"Bu, aku juga menantu Ibu. Istri bang Agung. Aku juga punya hak menentukan siapa yang boleh tinggal disini."
"Kamu tidak punya hak apapun. Rumah ini milik Agung. Dia berhak mengajak Siska tinggal disini," ucap mertuanya.
"Tapi, Bu …."
"Cukup! Jangan membantah lagi! Sana, kembali ke belakang!" perintah mertuanya.
"Dini, kamu dengar tidak apa yang dikatakan Ibu? Cepat, sana ke belakang!" perintah Agung.
Dini menatap suaminya nanar, lalu beranjak pergi.
"Agung, udah, gak usah dengerin istrimu itu. Benar yang kamu bilang, Siska biar ikut tinggal disini saja. Kalian tidur di kamar utama. Itu si Dini suruh pindah kamar belakang saja, atau biar tidur sama si Rasyid," jawab Ibunya.
"Apa gak keterlaluan, Bu? Dini bisa menempati kamar tamu, Bu. Lagian, memang Siska minta di kamar utama yang ada AC-nya," ucap Agung.
"Keterlaluan apanya? Dia itu berasal dari panti asuhan. Jadi, sudah terbiasa hidup susah. Sudah untung kamu tidak menceraikan dia," jawab Ibu.
"Benar itu, Gung! Jangan di kamar tamu juga, kebagusan!" timpal Niken.
"Bener yang Ibu bilang, Bang! Coba kalo seandainya kamu ceraikan dia, mau tinggal dimana coba? Paling balik ke panti lagi," imbuh Shelly.
"Dini itu sudah dari panti asuhan, hanya lulusan SMA lagi. Beda jauh sama Siska. Udah anak orang kaya, berpendidikan, cantik lagi. Wajar kalo diistimewakan. Lagian, kamar belakang itu sudah cukup mewah bagi dia," ujar Niken.
Agung mengangguk-anggukkan kepala tanda setuju. Siska tambah besar kepala. Sementara Dini, dia hanya bisa meratapi nasibnya mendengar pembicaraan mereka. Setega itu mereka sama dia.
***********
Setelah selesai makan malam, Ibu, Niken, dan Shelly beranjak pulang.
"Dini, sini kamu!" panggil Agung dari ruang tengah.
"Ada apa, Bang?" tanya Dini sembari melirik Siska yang sedang asik bergelayut manja dan bersandar di pundak suaminya.
"Mulai hari ini, Siska akan tinggal bareng kita disini. Barang-barang kamu segera kamu pindahkan karena dia akan menempati kamar kita."
"Tidak, Bang! Itu kamar kita! Aku tidak akan menyerahkan sama orang lain. Lagipula, kenapa kami harus satu rumah? Apa Abang tidak mampu menyediakan rumah yang lain?" cerca Dini.
"Siska juga istriku. Dia juga punya hak yang sama denganmu untuk tinggal disini."
"Tapi, tidak harus di kamar kita, kan? Masih ada kamar tamu."
"Cukup! Jangan membantah! Kalau kamu masih ingin tinggal disini, lakukan perintahku!" ucap Agung lantang.
Dini terdiam dan memilih pergi meninggalkan mereka.
"Apa mbak Dini mau pindah kamar, Yang? Aku gak mau ya, di kamar yang gak ada AC-nya," ucap Siska pura-pura merajuk.
"Kamu tenang saja. Dia pasti mau. Mana berani dia menentang ku!" ujar Agung bangga.
Di lain tempat, Dini segera membereskan semua barang-barangnya dan memindahkan ke kamar Rasyid. Dia lebih memilih mengalah.
Setelah selesai, dia segera beristirahat di samping sang buah hati. Dia benar-benar lelah hari ini. Lelah jiwa dan raga.
************
Pagi ini, seperti biasa, Dini melakukan pekerjaan rumah dan memasak. Tak lama kemudian, dua sejoli yang sedang di mabuk asmara keluar dari kamarnya.
"Masak apa kamu?" tanya Agung sembari membuka tudung saji.
"Apa kamu tidak bisa masak yang lebih baik?" bentak Agung. Dini tak menanggapi.
"Yang, aku gak bisa makan makanan seperti ini," rengek Siska.
"Tuh, dengar sendiri kan? Cepat, kamu buatkan makanan yang baru!" perintah Agung.
"Maaf, Bang! Kalau Siska tidak mau, suruh dia masak sendiri," jawab Dini.
"Lancang kamu!" teriak Agung.
"Bang, Siska juga istri Abang. Jadi, dia juga punya kewajiban yang sama denganku," jawab Dini tegas.
"Kur*ng aj*r!" teriak Agung sembari mengangkat tangannya.
"Kenapa gak jadi, Bang! Ayo, Bang! Tampar aku!"
Agung menurunkan tangannya dengan kesal.
"Kamu ini! Pagi-pagi sudah ngerusak mood saja!"
"Udah, Yang! Gak usah marah-marah! Mending kita sarapan di luar saja, bagaimana?" rayu Siska.
"Oke, ayo!" Agung segera beranjak. Sebelum melangkah terlalu jauh, dia berteriak," Dini, jangan lupa rapikan kamar kami!"
Dini tak menanggapi. Hatinya benar-benar sakit. Dia harus banyak belajar tentang ikhlas.
***
"Din, lo belum ambil keputusan tentang hubungan lo sama Agung?" tanya Amira suatu ketika.
Dini menghela nafas panjang.
"Belum, Mir. Aku masih bingung."
"Apanya lagi yang bikin lo bingung? Kan sudah jelas, kalo dia selingkuh. Udah, gugat saja."
"Aku takut, Mir. Bagaimana kalo bang Agung gak terima aku gugat cerai, trus dia mengambil hak asuh Rasyid? Itu yang paling aku takutkan. Aku gak mau kehilangan Rasyid," jawab Dini.
Mira terdiam.
"Din, Rasyid itu masih kecil. Dia pasti diserahkan ke Ibunya."
"Gitu, ya?"
"Iya, temen gue kan pengacara. Jadi, sedikit banyak, gue ngerti lah masalah begituan."
Dini manggut-manggut tanda mengerti.
"Buat jaga-jaga, sebaiknya, mulai sekarang kamu kumpulkan bukti perselingkuhan mereka. Itu nanti akan menjadi senjata kamu dalam sidang perceraian. Aku yakin, kalau terbukti berselingkuh, hak asuh Rasyid akan jatuh ke tangan kamu."
"Kalo bukti perselingkuhan, aku sudah punya."
"Oh, ya?"
Dini lalu menceritakan tentang pesan tengah malam itu.
"Udah, langsung hajar saja. Mau gue kenalin sama temen gue? Kebetulan, dia sudah pulang ke sini sejak beberapa bulan yang lalu untuk meneruskan bisnis advokat bokapnya."
"Ntar, deh. Aku pikir-pikir dulu."
Dini belum berani menceritakan perihal pernikahan siri suaminya dan selingkuhannya itu. Dia takut sahabatnya akan semakin emosi.