TALAK

1090 Kata
BAB 10 TALAK "Dini! Sini kamu!" teriak Agung. "Ada apa, sih, Bang! Gak usah teriak-teriak! Mau didengar tetangga!" "Kalo kamu gak mau Abang teriak-teriak, ya nurut! Ini kenapa kamar belum dibereskan?" "Maaf, Bang! Itu kamarmu dengan Siska. Jadi, suruh saja Siska membersihkannya!" "Aku itu baru pulang kerja! Capek! Ya kamu lah yang ngerjakan!"sambar Siska. Dini meliriknya sinis. "Betul apa yang dikatakan Siska. Cepat bereskan!" perintah Agung. "Maaf, Bang! Aku tidak mau tahu urusan Abang dengan Siska!" ujar Dini lalu beranjak pergi. "Sial!" umpat Agung. "Yang ... terus ini kamarnya bagaimana?" tanya Siska. "Kamu denger sendiri kan, ucapan Dini. Jadi, kamu saja ya yang membereskan!" ujar Agung lembut. Tentu saja, dengan harapan Siska mau melakukannya. Siska merajuk. "Jangan merajuk, dong, Sayang! Janji, deh! Habis ini kita makan di luar!" "Bener, ya? Awas, lho kalo bohong!" "Suer!" ucap Agung sambil mengacungkan jari tengah dan telunjuknya. *********** Malam itu,setelah makan di luar, Siska dan Agung berbincang-bincang. "Yang, bagaimana kalau Ibu diajak tinggal disini saja?" "Kenapa? Memangnya kamu mau, tinggal serumah dengan mertua?" "Ya … biar mbak Dini gak bisa macam-macam. Sekarang saja, dia sudah berani membantah kamu." "Boleh juga ide kamu." "Iya, dong! Siapa dulu? Siska …." ujarnya sembari tertawa bangga. Keesokan harinya, sebelum berangkat kerja, Agung segera menemui Ibunya dan mengutarakan keinginannya. Dan, ternyata Ibunya menyambut baik keinginan menantunya itu. "Dini! Din …!" teriak Ibu mertuanya. "Ada apa, Bu? Lho, Ibu kesini kok bawa koper? Buat apa?" tanya Dini curiga. "Siska ngajak Ibu tinggal disini. Udah, sana kamu bereskan kamar tamu buat Ibu. Sekalian, kamar Rasyid dibereskan juga. Mau dipake Shelly. Dia mau tinggal disini juga sama Ibu. Kamu, pindah ke kamar belakang!" Dini tertegun memandang Ibu mertuanya yang selonjoran di depan TV. "Ngapain bengong? Cepat sana!" bentak Ibu mertuanya. "Tapi, Bu …!" ujar Dini lirih. "Tapi apa lagi? Udah,sana kerjakan!" perintah mertuanya. "Kamar belakang, kan, sempit, Bu! Banyak barang-barangnya juga!" Ya, diberesin. Gitu aja kok repot! Udah, cepat kerjakan sekarang!" Dini segera merapikan kamar tamu dengan perasaan yang berkecamuk. "Din, buatkan Ibu es jeruk! Setelah itu, rapikan sekalian barang Ibu!" teriak Ibu mertuanya. Dini hanya menghela nafas lelah. Penderitaan babak baru akan segera dimulai. "Sudah selesai beberesnya?" "Sudah, Bu. Tinggal beresin kamar belakang." "Udah, itu nanti saja. Sekarang kamu masak! Ibu sudah lapar." ************ "Ibu, sudah dari tadi?" tanya Siska ramah. "Sudah dari tadi siang. Bagaimana kerjaan kamu? Lancar?" "Lancar kok, Bu. Cuma ya gitu, badan rasanya capek semua," keluh Siska. "Ya sudah, sana mandi. Setelah itu, kita makan sama-sama. Tadi, Ibu suruh Dini masak rendang." "Beneran, Bu?" sela Agung. "Iya. Tapi, itu tadi beli dagingnya pake uang Ibu. Pokoknya kamu harus ganti. Dini itu gak becus belanja. Masak belanja hanya sayur-sayuran dan tahu tempe." "Iya, Bu! Mas Agung pasti ganti. Ibu memang mertua terbaik, deh," puji Siska membuat d**a mertuanya kembang kempis karena bangga. Tak lama kemudian, Shelly datang dengan membawa barang-barangnya. Niken sekeluarga pun turut serta. "Bu, kami ikut makan disini, ya? Di rumah gak ada apa-apa," rengek Niken. "Iya. Ayo, kita makan sama-sama. Itu makanannya sudah siap." Setelah semua selesai makan malam, mereka ngobrol di depan TV. Pelan-pelan, dini mendekati mereka. "Bang! Aku mau ngomong sebentar!" ucap Dini. "Mau ngomong apa?" tanya Agung. "Bang, masak aku sama Rasyid tidur di kamar belakang? Di situ kan pengap. Gak baik untuk kesehatan Rasyid. Lagian, disitu tidak ada dipan dan lemarinya." "Memangnya kalo gak di belakang, mau tidur dimana? Kamarnya kan memang adanya itu. Lagian, kamu harus ngalah sama Ibu dan shelly," jawab Agung. "Tapi, Bang …." "Udah, gak usah ngebantah. Itu, kamu tidur pake kasur lipat saja." "Tapi, Bang …." "Sudahlah, kamu turuti saja!" ujar Agung. Siska terkikik geli. Dia masih tetap bergelayut manja pada suaminya. ******* Pagi hari, setelah menyelesaikan semua rutinitasnya, Dini mulai bersiap. Hari ini adalah grand opening butik milik Amira sehingga butik sangat ramai. Untungnya, Rasyid bukan tipe anak yang suka rewel. Dia diberi mainan dan cemilan pun sudah anteng. Jadi, Dini bisa tenang bekerja. Satu bulan berlalu sejak pernikahan siri suaminya. Hampir setiap hari, dia bertengkar dengan Agung. Bukan hanya itu. Sejak Ibu mertuanya ikut tinggal bersama mereka, hidup Dini serasa bagai di neraka. Dini sudah benar-benar tidak tahan. Tingkah mereka membuat Dini sakit hati. Apalagi Siska sering memanas-manasinya. Janji Agung yang mengatakan akan adil, hanya omong kosong belaka. Nyatanya, sudah sebulan juga Agung tidak menyapanya di kamar. Dia terlalu sibuk dengan istri barunya. Tapi, Dini tidak berkecil hati. Justru, dia merasa beruntung karena Agung tidak meminta hak kepadanya. Karena sejujurnya, Dini pun jijik melihat Agung. Membayangkan tubuh Agung bekas dijamah orang lain, membuatnya merasa mual. *********** "Aaaaa …!" teriak Siska dari arah belakang. Agung bergegas lari menghampirinya. "Sayang! Kamu kenapa?" "Tolongin, Yang! Aku kepleset!" Agung lalu membopong Siska ke ruang tengah. "Mana yang sakit, Sayang?" "Ini! Disini juga!" tunjuk Siska. "Kamu kenapa bisa sampai kepleset?" "Tadi aku mau nyuci baju. Gak tau kalo lantainya licin! Kepleset, deh! Sepertinya, mbak Dini ngepelnya kurang bersih, deh!" adu Siska. "Dini! Sini kamu!" teriak mertuanya. Dini menghampiri dengan malas. "Ada apa, Bu?" tanya Dini. "Ada apa ada apa! Kamu gak lihat keadaan Siska? Ini semua pasti gara-gara kamu!" teriak mertuanya. "Kamu sengaja, ya, mau mencelakai Siska? Lihat, dia jadi terluka gara-gara ulah kamu!" cerca Agung. "Dia yang jatuh, kenapa aku yang disalahin? Salahin aja dia, kenapa gak hati-hati!" "Mana aku tahu kalo lantainya licin? Mbak kan gak bilang!" Siska membela diri. "Mbak sengaja, kan, mau bikin aku celaka? Ayo, ngaku!" lanjut Siska. Dini memutar bola mata jengah. "Benar itu, Din? Kurang ajar kamu!" Plak… Agung menampar Dini dengan keras. Dini memegang pipinya yang terasa panas dan perih akibat pukulan itu. "Kamu keterlaluan, Bang! Ini yang kamu bilang adil? Selama ini, aku sudah berusaha sabar. Aku bertahan dengan semua sikap kamu dan Siska. Tapi kali ini, aku sudah tidak tahan. Lepaskan aku, Bang! Lepaskan aku!" ucap Dini bergetar. Agung terdiam. Dia menyesal sudah menampar Dini. Dia juga bimbang. "Udah, Yang! Ceraiin saja dia! Kan kamu sudah punya aku!" ujar Siska. "Bener, Gung! Dari dulu, Ibu sudah gak cocok sama dia! Udah, ceraikan saja!" sahut Ibunya. "Baik, kalau itu permintaan kamu. Andini Kumala Sari, dengan ini aku jatuhkan talak satu untukmu!" Tes… Tak terasa, air mata Dini pun mengalir. Hatinya sakit sekaligus lega. Dini lekas berdiri dan melangkah ke kamar. Membereskan semua pakaiannya dan putranya. "Terimakasih, Bang, sudah membebaskan aku dari neraka ini. Aku pamit! Assalamualaikum!" ucap Dini. Dini berjalan perlahan. Sambil menggendong Rasyid, kedua tangannya membawa barang. Dia tidak tahu harus kemana. Suaminya pun, membiarkan dia pergi. Dini duduk di halte. Dia berisitirahat sebentar, sembari memikirkan akan tinggal dimana. Hari sudah mulai gelap. Dia harus segera mencari tempat menginap.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN