WANITA DARI MASA LALU

1113 Kata
BAB 11 WANITA DARI MASA LALU "Halo! Mir, kamu lagi sibuk gak?" "Gak, Din. Ada apa?" "Aku mau minta tolong, boleh?" "Andini Kumala Sari, sahabat terbaikku, mau minta tolong apa sih? Kayaknya serius amat." "Bantuin aku cari kontrakan, ya!" "Apa? Kontrakan? Buat apa?" "Buat aku dan Rasyid. Aku sudah ditalak bang Agung." "Apa? Oke...oke…. Sekarang kamu dimana? Gue jemput, deh." "Aku di halte Jalan Melati." "Oke. Tunggu, ya. Gue kesana." Tut. Panggilan dimatikan. Dini menunggu Amira sambil menidurkan anaknya. "Dini!" panggil Amira. "Ayo, sini gue bantu angkat barangnya. Itu Rasyid tidurkan di bangku belakang saja," lanjutnya. "Maaf, ya, Mir. Jadi merepotkan." "Udah, gak usah dipikirin. Kayak sama siapa saja." "Kita cari makan dulu, ya." Dini hanya mengangguk. Sedari tadi pagi, dia memang belum makan apapun. Sembari makan, Dini menceritakan semua yang terjadi. "Daripada cari kontrakan, lebih baik kamu tinggal di ruko saja. Kan, lantai atas gak kepake, tuh." "Gak papa, nih?" "Gak papa. Justru nanti lo lebih mudah kalau mau kerja. Malam ini, lo nginap di tempat gue, besok baru pindah ruko." "Terimakasih, Amira sayang." "Eh, ngomong-ngomong, bu Hilda gak tau tentang masalah lo?" Dini menggeleng. "Aku gak berani cerita. Takut beliau kepikiran. Sementara, biar aku atasi sendiri dulu." "Ya, sudah. Tapi, kalo butuh apa-apa, lo harus cerita ke gue, ya!" "Iya. Terimakasih banyak, ya. Kamu selalu ada buat aku," ujar Dini sembari tersenyum. "Terimakasih aja terus! Sampe lebaran monyet!" ujar Amira. Mereka tertawa bersama. ******** Sudah dua Minggu Andini tinggal di ruko. Tapi, tak sekalipun Agung mencarinya atau menghubunginya. "Din, proses perceraian lo bagaimana?" tanya Mira. "Belum ada panggilan sidang, Mir. Apa jangan-jangan, bang Agung memang belum mendaftarkan, ya?" "Bisa jadi. Ya udah, lo ja yang daftarin. Kelamaan nunggu si Agung. Ntar jam makan siang, lo temenin gue." "Kemana?" "Makan siang. Sama pengacara tampan yang pernah gue ceritain ke elo. Gue udah cerita tentang masalah lo, dan dia bilang, dia siap bantu." "Aduh, kenapa pake pengacara segala? Aku mana mampu bayarnya." "Ya… biar cepat kelar urusannya. Masalah bayaran, gue talangin dulu. Ntar, tinggal potong gaji lo tiap bulan." "Ya udah, deh. Terserah kamu saja." "Nah, gitu dong." "Dilihat dari gelagatnya, kayaknya kamu suka ya, sama pengacara tampan itu?" goda Dini. "Ish … apaan sih, lo!" Wajah Amira memerah. "Syukur deh, sahabatku yang cantik ini sebentar lagi akan melepas gelar jomblo sejatinya," ujar Dini sambil terkekeh. "Gak semudah itu, Din. Perjuangan gue masih panjang dan berat." "Kamu pasti bisa, aku yakin kok! Iya deh, ntar aku temenin. Sekalian, aku pengen kenalan sama pria yang sudah merebut hati sahabatku ini." ******* "Halo, Kak! Maaf, sudah nunggu lama, ya?" tanya Mira pada seorang pria yang sedang menunggunya. "Kebiasaan kamu itu tetep, ya. Ngaret," omel pria itu. Amira terkekeh. "Kak, kenalin nih, temen gue. Dia ini yang pernah gue ceritain ke lo. " Pria itu menoleh. Matanya bersiborok dengan Dini. Mereka sama-sama terkesiap. "Dini." "Mas Rifai." Ucap mereka bersamaan. "Lho, kalian sudah saling kenal?" tanya Amira. Mereka terdiam. "Maaf, Mir. Aku harus pergi. Aku rasa, aku gak perlu pengacara," ucap Dini sambil beranjak pergi. Tapi, Din—." Ucapan Amira terputus. Dini sudah beranjak pergi. Amira ingin mengejarnya, tapi dicegah oleh Rifai. "Gak usah dikejar. Biarin aja." "Tapi, Kak…." "Gak papa. Dia hanya perlu menenangkan diri dulu." "Kakak kenal Dini dimana?" tanya Amira penasaran. Rifai menghela napas panjang. "Dia… wanita dari masa laluku." Amira terhenyak. *********** DELAPAN TAHUN YANG LALU Hari ini adalah hari pertama Amira masuk kuliah. Dia kuliah di salah satu perguruan tinggi ternama di Inggris. Dia terburu-buru masuk ke kelas. Di depan tangga, tanpa sengaja, dia menabrak seseorang. "I'am sorry!" ujar Mira. Buku yang dia pegang berjatuhan. "It's okey!" jawab pria itu sembari membantu Mira memungut bukunya. Pria itu tertegun melihat novel berbahasa Indonesia. "Kamu dari Indonesia?" "Iya, Kak. Kakak juga?" Amira tersenyum. Dia senang sekali bisa bertemu dengan orang dari negara asal yang sama. Pria itu mengangguk. "Namaku Rifai," kata pria itu. "Aku Amira. Senang bertemu dengan Kakak. Maaf, Kak. Aku harus pergi. Kelasku sebentar lagi dimulai. Lain kali kita ngobrol-ngobrol ya, Kak?" "Tentu. Boleh aku minta nomor ponselmu?" tanya Rifai. Mereka pun saling bertukar nomor ponsel. Rifai saat itu sudah semester tujuh dari jurusan hukum. Sementara Amira, baru semester satu dari jurusan ekonomi. Sejak saat itu, mereka menjadi dekat. Rifai mengenalkan kota London kepada Amira. Jika ada kesulitan, tak segan Amira pun meminta tolong kepada Rifai. Empat tahun berlalu. Kini, sudah waktunya Amira pulang. Tetapi, hubungannya dengan Rifai tidak ada perkembangan. Sebenarnya, sejak awal dia sudah jatuh cinta kepada Rifai. Tapi, selama ini, tidak ada tanda-tanda Rifai akan mengungkapkan perasaannya. Amira jadi ragu. Apakah selama ini perasaannya bertepuk sebelah tangan? Setelah wisuda, sebelum bertolak kembali ke Indonesia, Amira nekat mengungkapkan perasaannya. Malam itu, Amira mengajak Rifai makan malam sebagai tanda perpisahan. "Kak, gue mau ngomong." "Ada apa, Mir? Biasanya kamu ceplas ceplos saja, langsung ngomong." "Sebenarnya…." "Sebenarnya apa?" "Sebenarnya, sudah sejak lama aku suka sama Kakak." "Maksud kamu?" "Aku… mencintai Kakak." Rifai terdiam. Cukup lama, mereka hanyut dalam pikiran masing-masing. Hingga akhirnya, "Amira. Kamu wanita yang baik, cantik, dan terpelajar. Kamu pun juga menyenangkan diajak ngobrol. Terus terang, aku menikmati waktu kebersamaan kita. Tapi maaf, aku tidak bisa. Hatiku masih milik orang lain." Amira tak kuasa menahan air matanya. Dia menangis. "Maafkan aku, Mir!" lanjut Rifai. "Siapa wanita itu, Kak?" "Dia wanita dari masa laluku. Setelah menyelesaikan S2 dan semua urusan disini, aku akan segera menemui dan melamarnya." Amira tidak bisa berkata apa-apa lagi. Hatinya begitu sakit mendengar ucapan Rifai. Setidaknya, sekarang dia sudah lega karena sudah mengungkapkan perasaannya. ************ Semenjak kejadian itu, dia kehilangan kontak dengan Rifai. Dia sengaja mengganti nomor ponselnya. Beberapa bulan yang lalu, tanpa sengaja mereka bertemu kembali. Hubungan yang awalnya canggung, sudah kembali seperti semula. Amira sudah bisa menerima keputusan Rifai. Pertama kali, mereka bertemu di cafe. "Hai, Mir!" sapa Rifai. Tanpa sengaja, dia melihatnya sedang makan sendirian di cafe tersebut. "Kak Rifai! Hai juga,Kak! Kakak apa kabar?" "Seperti yang kamu lihat. Sendirian saja? Boleh gabung?" "Iya, Kak. Silahkan! Kakak sudah lama pulang ke sini?" "Lumayan. Sudah sekitar dua bulanan." "Ehm … apa Kakak sudah melamar gadis itu?" tanya Amira sedikit canggung. "Rifai terdiam. Dia menghela nafas panjang. "Aku terlambat, Mir." "Maksudnya?" "Dia sudah menikah." "Maaf, ya, Kak. Gue gak bermaksud…." Amira tidak mampu melanjutkan kalimatnya. Rifai tersenyum. "Sudahlah. Gak perlu dipikirkan. Mungkin, memang bukan dia jodohku." ******* "Jadi, wanita itu, Andini?" tanya Amira hati-hati. Rifai mengangguk. Amira hanya mampu menghela nafas. Kenapa dunia sesempit ini? Pria yang dia cintai ternyata mencintai sahabatnya. Rasanya, nasib sedang mempermainkan dirinya. "Dimana kalian kenal?" tanya Amira. "Di panti asuhan Bu Hilda. Sebelum diadopsi, aku juga tinggal di sana." Mereka terdiam cukup lama. Mereka larut dalam pikiran masing-masing. "Setelah Dini resmi bercerai, apakah Kakak akan mendekatinya lagi?" tanya Amira lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN