MENGAJUKAN GUGATAN CERAI

1110 Kata
BAB 12 MENGAJUKAN GUGATAN CERAI "Entahlah. Aku belum memikirkannya," jawab Rifai. "Dimana Dini sekarang tinggal?" tanya Rifai. "Dini tinggal di ruko butik gue." "Baiklah. Nanti biar aku temui dia langsung. Kasus ini harus segera diproses. Tidak baik jika terus berlarut-larut. Sekarang kita makan dulu, ya! Tadi aku sudah pesan makanan!" Mereka makan tanpa banyak bicara. Amira yang biasanya ceriwis, tiba-tiba menjadi pendiam. Dia larut dalam pikirannya sendiri. "Kamu kenapa? Diam aja dari tadi?" "Aku gak papa kok, Kak!" jawab Amira sambil tersenyum. "Mir, aku balik duluan, ya! Sudah ada janji sama klien! Kapan-kapan kita ketemu lagi!" "Iya, Kak! Hati-hati di jalan!" ujar Amira. "Bye!" Rifai melambaikan tangannya. Amira memaksakan sebuah senyuman, menatap kepergian Rifai. Air matanya menetes kembali. Sekian lama dia berusaha melupakan Rifai. Saat mendengar wanita itu sudah menikah, dia berharap masih ada kesempatan untuknya menggantikan posisi wanita itu di hati Rifai. Tapi sekarang, apa yang harus dia lakukan? Mendukung perceraian Dini, berarti di akan kehilangan kesempatan dekat dengan Rifai. Jika mencegah, dia tidak tega dengan Dini. Dini itu wanita yang baik. Dia berhak untuk bahagia. "Tuhan, apa yang harus aku lakukan?" ucap Amira lirih. ********** Semenjak kepergian Dini, pekerjaan rumah menjadi tanggung jawab Ibunya. Siska tidak pernah mau membantu dengan alasan capek karena baru pulang kerja. "Gung, apa kamu gak bisa cari pembantu? Ibu capek sekali. Setiap hari harus membersihkan rumah kamu dan memasak," keluh Ibunya. "Ya … mau bagaimana lagi? Siska kan setiap hari harus bekerja. Jadi, dia juga capek. Gak mungkin bisa bantu Ibu." "Makanya, kamu carikan pembantu saja. Masak Ibu jadi pembantu di rumah anaknya sendiri," omel Ibunya. "Janganlah, Bu! Daripada uangnya buat bayar pembantu, mending tak kasihkan Ibu saja. Kan lumayan, bisa buat beli gamis baru," rayu Agung. "Bener itu, Gung? Ya udah, Ibu gak papa masak dan bereskan rumah. Tapi, jatah Ibu ditambahi, ya?" "Iya, Bu. Tenang saja." Agung senang sekali karena Ibunya bisa dirayu. Kalau hanya untuk beli gamis baru, Agung hanya perlu mengeluarkan uang tidak lebih dari lima ratus ribu rupiah. Namun, jika harus bayar pembantu, dia harus merogoh kocek cukup dalam. Dia tersenyum licik. ******** "Yang, aku bosen di rumah terus! Jalan-jalan, yuk!" rayu Siska saat mereka sedang asyik nonton TV. Mau jalan kemana?" "Aku mau ke butik baru dekat pasar itu. Kata temanku, barangnya bagus-bagus, tapi harganya miring karena banyak diskon." "Butik?Ibu ikut! Kamu kan sudah janji, Gung, mau belikan Ibu gamis!" sambar Ibunya. "Bu, apa gak sebaiknya Ibu di rumah saja? Ibu pasti capek habis beresin rumah seharian!" ujar Siska. "Memang. Tapi kan, Ibu juga bosen di rumah terus. Sekali-kali, Ibu pengen diajak keluar!" ujar mertuanya. "Ya, sudah, Sayang! Biarin Ibu ikut! Kan, gak setiap hari juga! Ayo, Bu, kita siap-siap!" Ibu Agung senang sekali,begitupun dengan Siska, meski agak sedikit kurang sreg karena mertua ikut serta. Bisa mengurangi jatahku ini, batin Siska. Mereka segera bersiap-siap. Tak lama kemudian, mereka segera berangkat. Butik tersebut letaknya tidak jauh dari rumah mereka, hanya memakan waktu sekitar dua puluh menit untuk sampai di sana. "Selamat malam, Bu! Silahkan lihat-lihat koleksi kami!" ucap Andini. Saat ini, butik sedang ramai. Jadi, dia ikut terjun melayani pembeli. "Ow … sekarang kamu jadi pelayan toko?" tanya Siska sambil bergelayut manja di lengan Agung. Dini tertegun. Dia dan Agung saling berpandangan. "Memang dasar muka pembokat, ya pantasnya jadi pelayan!" ucap Ibu Agung sembari tertawa mengejek. "Makanya, jangan bergaya. Siapa suruh keluar dari rumah?" ejek Agung. "Aku memang hanya seorang pelayan. Tapi setidaknya, disini aku bahagia." "Bahagia dari mana? Lihat penampilanmu? Tidak berubah sama sekali!" ejek Agung lagi. "Kalau kamu mau berubah pikiran dan mau menerima Siska menjadi madumu, aku akan menerimamu kembali," tambah Agung. "Andini tidak akan berubah pikiran," sela Rifai. "Siapa kamu?" tanya Agung. "Perkenalkan, saya Rifai Saputra, pengacara Ibu Andini." "Pengacara? Kamu yakin dia mampu membayar kamu?" ejek Bu Sari, mertua Andini. "Untuk kasus seperti ini, saya tidak perlu dibayar." "Apa dia membayar dengan tubuhnya?" ejek Siska. Plak. Andini menampar Siska. "Jaga mulutmu! Aku tidak serendah itu!" "Kur*ng aj*r!" teriak Siska sambil mengangkat tangannya. Dia ingin membalas tamparan Dini, tapi tangannya ditahan oleh Rifai. "Jangan coba-coba menyakiti Dini!" ancam Rifai. Siska meringis kesakitan tangannya dicengkeram erat oleh Rifai. "Lepasin tangan istri gue!" ujar Agung kepada Rifai. Rifai menghempaskan tangan Siska. "Pergilah! Bawa Ibu dan istri barumu! Tunggu surat panggilan dari pengadilan!" kata Rifai kepada Agung. Agung menatap Dini. "Pikirkan tawaranku tadi!" ucapnya, lalu beranjak pergi. "Siapa yang mengizinkan Mas jadi pengacaraku? Pergilah, aku bisa mengatasi masalahku sendiri," ujar Dini sarkas kepada Rifai. "Kita perlu bicara," ucap Rifai sembari mencekal lengan Dini. "Lepas! Jangan pegang-pegang!" ucap Dini, lalu beranjak masuk ke ruangannya. Rifai mengikutinya. "Kenpa gak cerita?" tanya Rifai setelah duduk di ruangan Dini. "Ini masalah pribadiku. Aku tidak mau melibatkan orang luar." "Orang luar? Kau masih menganggapku orang luar? Apa kamu lupa yang pernah kukatakan dulu? Aku akan selalu menjagamu. Dulu, sekarang, ataupun nanti." Dini mencelos. Dia tahu posisi Rifai di hatinya, dulu. Dan dia mengubur perasaan dalam-dalam saat dia menghilang dan tak pernah memberi kabar. "Apa Ibu tahu masalah ini?" tanya Rifai. "Tidak. Jangan beritahu Ibu! Aku tidak mau beliau kepikiran!" "Baik. Aku tidak akan memberitahu Ibu, tapi biarkan aku membantumu. Siapkan berkas-berkasnya! Besok pagi, aku akan menjemputmu. Kita ke pengadilan agama!" ucap Rifai, lalu hendak beranjak pergi. Sebelum dia benar-benar beranjak, dia menghentikan langkahnya. "Satu lagi, aku tidak menerima penolakan!" ujar Rifai mendahului, sebelum Dini sempat membantah. ********** Keesokan harinya, Rifai menjemput Andini. Mereka bersama-sama ke pengadilan agama untuk menyerahkan berkas. Selama Dini pergi, tanggung jawab butik diserahkan kepada Kartika. Rasyid tidak dibawanya karena sudah ada pengasuh yang menjaganya di ruko. Mereka disana sekitar dua jam. Setelah semua selesai, mereka beranjak pulang. "Mas!" panggil Dini. "Hmm…." Rifai menjawab hanya dengan deheman. "Maaf atas sikapku kemarin," ucap Dini tulus. Rifai tidak menjawab. "Mas...!" panggil Dini lagi sambil merengek. Rifai tak merespon. Dia tetap fokus menyetir. "Mas…!" Rifai tersenyum dikulum. Dia paling tidak tahan jika mendengar rengekan Andini. "Jangan diulangi lagi! Aku tidak suka!" Dini menganggukkan kepalanya. Dia lega melihat Rifai sudah tersenyum lagi. Sejak mereka berangkat dan sekarang mau pulang, Dini hanya disuguhi wajah datar Rifai. Sejak dulu, Rifai memang sangat protektif terhadapnya. Dia tidak akan membiarkan siapapun mengganggunya. Bahkan, saat Dini dihukum Bu Hilda, Rifai dengan sigap membantunya. Bagi Andini, Rifai adalah superheronya. Makanya, ketika dia pergi setelah lulus SMA dan tidak pernah memberi kabar, Dini begitu patah hati. Dia tidak hanya kehilangan cintanya, tapi juga pahlawannya. ********* "Din, lo jadi mendaftarkan perceraian lo itu?" tanya Amira. Hari ini, dia mengunjungi Dini di butik. "Jadi. Kemarin, aku sudah ke pengadilan agama," jawab Dini. "Sama kak Rifai?" tany Amira hati-hati. Dini tersenyum ke arah Amira. "Iya. Mas Rifai maksa mau dampingi," jawab Dini. Amira tersenyum canggung. "Jadi, mas Rifai pria beruntung itu?" imbuh Dini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN