BAB 13
SIDANG PUTUSAN
"Apaan, sih!" Amira tersipu malu.
Melihat itu, Dini tertawa lirih.
"Kamu tidak salah pilih. Mas Rifai itu, pria yang baik. Jika dia sudah jatuh cinta, dia pasti akan menjaga wanita itu dengan sepenuh hati."
"Lo benar," jawab Amira.
"Din, apa lo tahu, kalau kak Rifai punya pacar atau seseorang yang spesial, gitu?" tanya Amira. Dia mencoba memancing Dini.
"Waduh, aku gak tau, Mir. Dulu, sebelum dia berangkat ke luar negeri, dia tidak pernah cerita punya pacar atau wanita spesial. Setelah itu,kita kehilangan kontak. Baru ketemu lagi baru-baru ini. Memangnya, dia sudah punya pacar?" tanya Dini balik.
Amira mengedikkan bahu. Sekarang dia paham, Dini pun tak tahu tentang tentang perasaan Rifai kepadanya.
"Gue hanya tanya saja. Siapa tahu sudah punya pacar. Takutnya,ntar gue malah jadi perusak hubungan orang."
"Aku juga gak tahu apa-apa, Mir. Apa aku tanyakan saja, ya?" usul Dini.
"Jangan!" teriak Mira spontan.
"Malu-maluin aja!" imbuhnya.
Dini terkekeh geli.
"Daripada kamu penasaran!?" ujar Dini.
"Gak … gak …. Jangan, deh! Gue punya cara sendiri!" ujar Amira akhirnya.
"Okelah kalau memang itu maumu. Tapi, kalau perlu bantuan, kamu ngomong ya. Aku siap kok jadi comblang. Ha …." ujar Dini sambil tertawa.
"Din, Minggu besok lo ada acara gak?" Amira mengalihkan pembicaraan.
"Gak ada. Ngapain?"
"Ikut gue, yuk!"
"Kemana?"
"Kita nyalon. Rasyid biar diasuh bi Asih."
Bi Asih adalah asisten rumah tangga di rumah Amira.
"Janganlah! Gak enak sama Bu Asih!"
"Gak enak apanya? Orang Bi Asihnya malah seneng, kok! Udah, pokoknya lo harus ikut. Sudah saatnya lo merawat diri. Biar mantan lo itu nyesel dah ngeduain lo."
"Tapi …."
"Gak ada tapi. Minggu jam delapan gue jemput!" ujar Amira sambil ngeloyor pergi.
Andini mendesah pelan. Kalau sifat pemaksa Amira sudah keluar, dia sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
Sebenarnya, dia juga ingin melakukan perawatan. Sesuatu yang tidak pernah dia lakukan saat menjadi istri Agung. Jangankan untuk perawatan, untuk kebutuhan sehari-hari pun dia harus mengirit.
Pekerjaan menjahit yang diharapkan bisa membantu perekonomian, ternyata nihil. Uang hasil menjahit lebih banyak berpindah tangan ke mertuanya.
Setiap dia mengadu kepada Agung, dia tidak percaya. Yang ada, Dini dianggap ingin mengadu domba dia dan Ibunya. Mengingat itu, d**a Dini menjadi sesak.
Dini menghela napas panjang. Dia ingin melepaskan semua beban itu. Dia tidak mau mengingat-ingat masa itu. Lebih baik, sekarang dia fokus dengan hidupnya dan Rasyid.
Hari Minggu pagi, Amira benar-benar menjemput Andini. Setelah menyiapkan semua kebutuhan Rasyid, mereka segera meluncur ke rumah Amira untuk menitipkan anaknya. Setelah itu,mereka segera berangkat menuju ke salon langganan Mira.
Memasuki salon kecantikan, mereka disambut dengan ramah.
"Selamat pagi, Mbak Mira! Mau perawatan apa hari ini, Mbak?"
"Paket lengkap ya, Mbak! Untuk dua orang!"
"Baik, Mbak! Silahkan!"
Mereka berdua memasuki ruangan yang ditunjuk.
"Mir, perawatan lengkap apa gak mahal? Aku mana sanggup bayarnya!" ucap Dini sambil berbisik.
"Hus … cerewet! Udah, lo diam aja! Semua ini gue yang bayar. Pokoknya, lo terima beres!"
Andini akhirnya hanya diam dan melakukan semua perawatan yang dilakukan.
Setelah selesai, Amira meminta mereka merias Andini.
"Mbak, tolong rias teman saya, ya! Yang sederhana saja!"
"Buat apa lagi, Mir?" protes Dini.
"Ssst …! Lo diem aja!"
Satu jam kemudian, Dini sudah selesai dirias.
"Wah ... Din, lo cantik banget!" ucap Amira terkagum-kagum.
"Masak, sih?"
"Iya, beneran! Coba lihat di cermin!"
Dini menoleh ke cermin. Dia tertegun. Dia tidak menyangka, bayangan wanita di cermin itu adalah dirinya.
Amira benar. Dia terlihat cantik. Walaupun hanya dengan pakain sederhana, tidak memudarkan aura kecantikannya.
Sebelum pulang, Amira mengajak Dini berbelanja. Dia membeli beberapa pakaian, tas, sepatu, dan alat makeup.
Setelah menjemput Rasyid, Amira mengantar Dini pulang.
"Din, ini buat apa lo!"
"Semuanya? Banyak banget! Janganlah, Mir! Aku dah banyak ngrepotin kamu!"
"Lo ngomong apa, sih? Udah, deh! Gak usah nolak! Mulai sekarang, lo harus merubah penampilan, biar gak diremehin terus sama mantan lo dan keluarganya!"
"Terimakasih banyak,ya, Mir! Kamu memang teman terbaikku!"
"Emang dari dulu!"
Mereka tertawa bersama.
*********
Dua hari kemudian, Agung sudah menerima panggilan sidang. Seminggu lagi jadwal sidang pertama. Dia mengacak rambutnya frustasi.
"Kenapa lagi lo?" tanya Doni.
"Dini ngajuin gugatan cerai."
"Bukannya itu bagus? Kan, lo bisa segera kawin sama Siska."
"Sebenarnya, gue udah kawin sama Siska, tapi siri."
"Gila, lo! Dini tahu?"
"Ya jelas tahu, lah! Orang kami tinggal serumah!"
"Gak beres ini otakmu! Masak bini muda sama bini tua satu rumah! Jelas perang dunia itu!"
"Si*lan lo!"
"Pak Heru sudah tahu?" Pak Heru adalah pimpinan mereka.
"Belum. Jangan koar-koar dulu lah! Sayang, biar Siska kerja dulu!"
"Emang lo itu makhluk paling licik sedunia! Terang saja si Dini minta cerai! Terus rencana lo apa selanjutnya?"
"Entahlah, gue masih berat lepasin dia."
"Kalo menurut gue, mending lo lepasin si Dini. Kasihan dia. Udah suaminya b***t, mertuanya jahat lagi!"
"Si*lan lo!"
*********
Sidang perceraian berjalan dengan lancar. Dini tidak menuntut apapun, hanya hak asuh Rasyid. Ditambah lagi, bukti perselingkuhan Agung dan Siska. Hal ini semakin memuluskan langkah Dini.
Hari ini adalah sidang putusan. Dini hadir dengan didampingi pengacaranya. Agung juga hadir bersama Siska dan Ibunya.
"Halo, calon janda!"
Dini tidak menanggapinya. Dia terus berjalan menuju ruang sidang.
"Ternyata kamu gatel juga, ya! Belum juga resmi, udah punya gandengan saja," tambah Siska.
"Dapat duit darimana kamu buat bayar pengacara?" tanya calon mantan Ibu mertua sinis.
"Pasti dia bayar pake tubuhnya, Bu. Secara, dia kan hanya pelayan toko."
"Kamu bener, Sis. Untung saja,anakku menceraikan dia. Bikin malu saja."
Rifai menghentikan langkahnya. Dia menatap Dini. Dini menggelengkan kepalanya. Dini tidak mau ada keributan lagi. Mereka segera melangkah menuju ruang sidang.
Agung menatap Dini tak berkedip. Semakin lama, Dini semakin cantik. Wajahnya jadi terawat. Pakaiannya rapi. Dan wajahnya, seperti memancarkan kebahagiaan. Dia cemburu.
Mereka bersama-sama masuk ke ruang sidang.
"Din, kalau kamu mau rujuk, masih ada kesempatan," bisik Agung.
Dini bergeming. Hakim membacakan putusan sidang. Hak asuh Rasyid diserahkan kepada Ibu kandungnya, dan ayah kandungnya harus memberikan nafkah sebesar dua juta rupiah setiap bulan.
"Tidak. Ini tidak adil! Agung, kamu harus mengajukan banding. Enak saja, sudah dicerai kok tetap harus kasih nafkah," teriak Ibu Agung di luar ruang sidang.
"Bu, walaupun sudah bercerai, tapi Rasyid tetap anak bang Agung. Jadi, dia tetap harus memberi nafkah," ujar Dini.
"Enak saja. Rasyid kan ikut kamu. Ya kamulah yang harus biayain dia."
"Sudah, Din. Gak usah diladenin. Ayo, kita pergi!" ajak Rifai.
**********
"Hai, Din!"
Dini mendongak. Dia tersenyum.
"Hai, Mir! Kemana saja kamu, lama banget gak muncul."