BAB 14
PERNIKAHAN MANTAN
"Maaf, gue disuruh Mama nemenin nenek. Gimana butik? Lancar?”
"Alhamdulillah, omzet butik naik terus. Customer juga puas dengan barang kita."
"Syukur deh. Maaf, ya! Selama proses perceraian, gue gak bisa dampingi!"
"Gak papa, kok! Aku paham! Gimana keadaan nenek?"
"Alhamdulillah, sudah lebih baik. Gue gak bisa lama-lama disana, banyak kerjaan yang nunggu. He …."
"Iya, lah! Secara anak bos, gitu!" Dini terkekeh.
"Gimana perasaan lo sekarang setelah resmi bercerai?"
"Lega banget. He …."
"Syukur deh. Gue pikir lo bakal nyesel. Ha …."
"Enak saja! Mana ada!" ujar Dini sewot. Mira semakin mengencangkan tawanya.
"Undangan apa itu?" tanya Amira sambil melirik meja kerja Dini.
"Undangan pernikahan mantan."
"Yang bener? Wuih … mantap. Kayaknya, udah ngebet banget tuh orang."
"Biarin saja, lah! Suka-suka dia juga! Lagian, mereka sudah nikah siri lama," jawab Dini tenang.
"Yang bener? Sejak kapan?"tanya Amira.
"Sejak awal aku kerja di sini," jawab Dini.
"Apa? Itu kan, sudah lama banget. Bener-bener gila tuh orang! Tapi, kalian gak satu rumah, kan, waktu itu?"
"Bukan hanya wanita itu yang tinggal serumah denganku, tapi juga Ibu dan Shelly."
Mendengar hal itu, Amira terhenyak kaget.
"Kenapa lo gak pernah cerita?"
"Buat apa? Aku rasa gak perlu, lah! Lagian, sekarang aku ikhlas, kok!"
"Lo gak cemburu?" selidik Amira.
"Buat apa cemburu? Rasa itu sudah mulai terkikis sejak pertama kali aku melihatnya selingkuh. Dan semakin lama, perasaan itu semakin hilang. Jadi, tak ada rasa cemburu sama sekali!" jawab Dini mantap.
"Bagus, deh! Lo mau datang?"
"Iya lah! Aku mau tunjukkan, kalo aku bisa berdiri tanpa bantuannya!"
"Sip. Perlu gue temenin, gak?"
"Gak perlu. Aku bisa sendiri, kok."
"Yakin? Jangan-jangan, ntar lo mewek lagi dinikahan mantan, trus jadi viral. Ha … ha…," ejek Amira.
"Enak aja! Gak lah! Aku sudah benar-benar move on!" jawab Dini mantap.
**********
Hari ini, hari pernikahan Agung dan Siska. Dini berdandan paripurna. Pukul tujuh, Dini sudah siap berangkat bersama Rasyid.
"Hai, Din! Sudah siap?"
"Mas Rifai? Ngapain kesini?"
"Jemput kamu lah. Emang mau apa lagi."
"Mas tahu dari mana?"
"Amira yang kasih tahu. Kenapa gak cerita? Harusnya, kamu bisa minta aku nemenin kamu!"
"Aku bisa sendiri, Mas! Gak usah berlebihan, deh!"
"Iya. Aku percaya kamu bisa menghadapi Agung . Tapi bagaimana dengan istri barunya dan mantan mertuamu itu? Aku gak tega lihat kamu ngadepin sendiri mulut pedas mereka! Ayo, berangkat sekarang! Keburu malam!"
Dini masih bergeming. Dia belum menerima ajakan Rifai. Pasalnya,masa iddahnya belum selesai. Apa kata orang, kalau melihat dia sudah jalan sama laki-laki lain.
"Udah, gak usah kebanyakan mikir. Ayo,berangkat!" ajak Rifai.
Di mobil, mereka lebih banyak diam. Diam-diam, Rifai sering mencuri pandang ke arah Dini. Begitu pun sebaliknya.
Dengan mengenakan dress panjang warna hitam, ditambah riasan tipis dan hasil rutin perawatan, penampilan Dini benar-benar luar biasa. Rifai pun tak kalah. Dengan setelan jas mewahnya membuat auranya semakin menguar. Suasana menjadi canggung.
"Ngapain lirik-lirik? Aku ganteng, ya? Emang dari dulu, sih!" ucap Rifai sambil terkekeh untuk memecah kecanggungan.
"Siapa juga yang nglirik situ? Kepedean," jawab Andini sewot.
"Kalau mau mengagumi ketampananku, boleh-boleh aja, kok!"
"Ish … penyakit narsismu kok gak hilang-hilang, sih!"
Rifai tertawa semakin lebar.
"Ini bukan narsis, tapi, mensyukuri nikmat Tuhan!" jawab Rifai tak mah kalah.
Dini membuang pandangan. Dia lebih memilih bercengkerama dengan putranya.
Tak lama kemudian, mereka sudah sampai. Pesta diadakan di hall sebuah hotel dan di desain cukup mewah. Pasti, menghabiskan banyak biaya.
Dini keluar dari mobil sambil menggendong Rasyid. Rifai menyusulnya dan membawa Rasyid dalam gendongan.
"Biar aku yang gendong Rasyid," ujar Rifai.
"Memang bisa? Berat, lho!" cegah Dini.
"Kamu meragukan kemampuanku menggendong bayi?" ujar Rifai tak terima diremehkan.
Dini terkekeh pelan. Kemudian, dia menyerahkan Rasyid ke gendongan Rifai. Mereka berjalan beriringan masuk ke lokasi resepsi.
"Widih … janda baru sudah punya gandengan saja, nih!" ejek Niken.
"Iya, dong, Mbak! Daripada selingkuh atau jadi simpanan om-om?" balas Andini.
"Maksud Mbak Dini apa ngomong kayak gitu? Siapa yang simpanan om-om?" ujar Shelly sewot.
"Tahu, tuh! Kur*ng aj*r emang! Punya mulut itu dijaga, jangan asal jeplak!" imbuh Niken.
"Idih … seharusnya omongan itu lebih pantas buat situ!" jawab Dini santai.
"Dini, ngapain kamu kesini? Mau buat Agung balikan sama kamu? Jangan harap, ya!" ujar mantan Ibu mertuanya.
"Maaf, ya, mantan mertua. Saya kesini karena diundang. Jadi, saya harus menghargai yang mengundang, dong!"
Agung yang mendengar keributan dari arah depan, ingin menghampiri, tetapi dicegah oleh Siska.
"Mau ngapain kamu? Udah, disini saja!" ujar Siska sewot.
"Itu … cuma mau lihat saja ada apa!"
"Gak perlu!"
Agung hanya mampu menatap dari jauh. Setelah bercerai dengannya, Dini terlihat semakin cantik dan terlihat bahagia.
Dia sebenarnya berharap Dini terpuruk dan minta rujuk. Tapi, kelihatannya, harapannya tak akan terwujud. Ditambah lagi, Dini datang bersama Rifai. Pria itu terlihat tampan dan berkelas. Jauh berbeda dengannya.
"Pak Rifai? Apa kabar?" sapa seseorang dari belakang.
"Heru?" Mereka pun berpelukan. Seperti sepasang sahabat yang lama tak bertemu.
"Kamu kenal sama pengantinnya?" tanya Heru, atasan Agung.
"Gak, hanya nemenin dia saja!" jawab Rifai sambil menunjuk Andini.
"Kalau kamu?" lanjutnya.
"Mereka berdua pegawai saya," jawab Heru.
"Itu calon bini?" tanya Heru sambil berbisik.
"Doakan saja!" jawab Rifai sambil berbisik juga.
"Kenalkan, ini Dini. Din, kenalkan, ini sahabatku pas SMA dulu."
"Heru."
"Dini."
"Ya sudah, kami kesana dulu. Mau menyalami pengantinnya," ucap Rifai.
"Oke. Kapan-kapan kita ngobrol lagi."
Andini dan Rifai segera melangkah menuju pelaminan. Agung yang menyaksikan hal itu, merasa cemburu. Dia tidak rela Dini dekat dengan pria lain. Apalagi, sekarang Dini terlihat semakin cantik.
"Selamat ya, Bang! Ups, ralat! Selamat ya, Agung! Semoga samawa!" ucap Andini sambil menyalami Agung.
Siska segera melepas jabat tangan mereka.
"Terimakasih, janda baru!" ejek Siska.
Dini hanya tersenyum. Dia sudah terbiasa dengan ejekan Siska. Lagipula, dia tak ingin terjadi keributan dan menjadi pusat perhatian.
"Selamat, ya!" ucap Rifai kepada Agung.
Agung menyunggingkan senyum dengan muka masam.
Setelah menyalami pengantin, mereka segera pulang.
"Gak makan dulu?" tanya Rifai.
"Gak. Langsung pulang saja!"
Mereka segera menuju mobil dan meluncur pulang.
"Kita mampir makan dulu, ya?" tanya Rifai.
"Gak usah, Mas! Aku gak lapar!"
"Tapi, aku yang lapar!"
Dini mengalah. Mereka makan di rumah makan yang memiliki playground. Jadi,mereka bisa makan dengan nyaman tanpa ribet dengan Rasyid.
"Rasyid gak makan?"
"Sudah aku suapi tadi sebelum berangkat."
"Kamu gak papa?" tanya Rifai hati-hati.
Dini mengangguk.
"Yakin?"