Shera Fuji Lesmana Dengan setengah berlari, aku dan Axel kembali menyusuri jalan menuju jembatan yang dimaksud oleh Adrian. Dan tentu saja kali ini aku yang menjadi pemimpin jalan di depan. Dan di sini aku serta Axel memiliki kekhawatiran yang berbeda perihal Adrian. Jika Axel khawatir Adrian benar-benar bunuh diri, aku lebih khawatir kalau dia nggak mati dan malah patah tulang. Ayolah, ini bukan kejam. Aku bukan nggak punya perasaan. Tapi kapasitas pengetahuanku soal Adrian juga tempat yang akan ia jadikan tempat perkara, sudah ku hapal betul. Aku melirik pada jam warna hitam yang saat ini melingkar di tanganku. Sahabat yang menjadi mantan kekasihku itu hanya memberikan waktu setengah jam untuk aku dan Axel, sampai di sana. Sayangnya gerak kami berdua terbatas. Dan kami berada di

