Aku berlari dengan sekuat tenaga untuk mencapai pohon yang tadi ku tunjuk pada Adrian. Aneh sekali, aku yang menantangnya, aku yang mengajak bertaruh, tapi sekarang malah aku juga yang merasa kelelahan. Kekuatan fisikku sudah tak lagi seperti dulu. Mungkin karena setelah menikah dengan Axel, aku jadi kaum emak-emak yang lebih suka rebahan di rumah. Jadi jarang bergerak. Di tambah medan yang menanjak, membuat sepasang kaki kecilku yang pendek ini makin sulit saja untuk berlari. Tapi seharusnya ini nggak masalah, karena aku berbuat curang dengan berlari lebih dulu. Namun saat aku penasaran dan berbalik, aku dikejutkan oleh Adrian, yang sekarang ini malah sudah berada di belakangku. "Loh, Adrian!" pekikku kemudian. Aku terkejut, karena sebelumnya dia sudah tertinggal jauh. Tapi dalam w

