Shera Fuji Lesmana
Aku bisa mendengar suara orang-orang yang mengeluh eluhkan namaku dan Nadia bersamaan. Mereka sepertinya amat antusias dengan perkelahian perempuan. Dan sialnya, perempuan yang ku kira lemah lembut ini, justru makin kuat mmenarik rambut juga memberiku serangan-serangan lain. Siapa yang akan menyangka, seorang wanita seperti Nadia ini bisa bertindak bringas dan kekanak-kanakan seperti ini. Tapi untungnya, aku juga bukan orang yang mudah menyerah dengan keadaan. Enak saja, dia mau mempermalukanku.
"Lepasin gue. Dasar pelakor!"
"Lu yang lepasin gue. Dasar orang gila!"
Salah satu dari kami, tampaknya tidak ada yang ingin mengalah. Baik aku maupun Nadia sama-sama harus memegang harga diri karena telah memulainya.
Sampai pada akhirnya, aku merasakan ada pergerakan di sekitar pinggang, yang menarikku untuk menjauh dan terpisah dari Nadia. Aku masih meronta-ronta minta dilepaskan. Dan tidak tahu siapa juga yang sudah melerai perkelaahianku dengan wanita itu. Tapi yang jelas, ini belum berakhir. Tidak bisa! Aku masih ingin memberikan pelajaran padanya. Dia harus tahu, kalau dia telah salah memilih lawan.
"Lepasin gue ... Biar gue kasih pelajaran tuh orang gila!" teriakku sembari berusaha melepaskan diri.
"Aduhh, Shera ... Udah donk udah! Lo jadi bahan tontonan semua orang ini. Malu Sher, malu." Aku bisa mendengar seseorang yang sedang memegangiku tengah membisikan sesuatu untuk menenangkanku. Aku jadi seperti orang yang sedang kesurupan.
"Lo tuh ... Dasar cewek munafik, udik, kampungan. Bilangnya cuma temen, tapi diembat juga, lepasin aku, Yan. Lepasin!"
Saat ia membalasa teriakanku, barulah aku sadar, kalau yang saat ini ada di belakang Nadia dan tengah memeluknya adalah Adrian. Oke, bukan pelukan yang disengaja. Adrian pasti hanya ingin memisahkan kami. Tapi hatiku rasanya sakit. Aku sedang ditindas karenanya, juga oleh mantan pacarnya. Tap dia malah beradadi belakangnya, seolah menjadi sumber kekuatan yang akan melawanku.
Tentu saja, apa yang kau harapkan Shera. Kau sangat tahu, kalau Nadia ini adalah pemecah rekor. Dia yang paling lama menjalin hubungann dengan Adrian daripada perempuan lainnya. Belum genap 24jam mereka putus. Pastilah masih ada sisa-sisa bunga cinta yang melekat, dan membuat Adrian tak tega gadisnya sudah dianiyaya oleh cewek kampungan sepertiku.
Baiklah ... Tidak masalah. Kita tidak bisa selalu mengandalkan orang lain untuk terus berdiri di belakang kitakan?
"Kalau berani sini lo!"
"Lo yang kesini dasar gila!"
"Lo tuh sinting. Sok cantik!"
"Lah emang gue cantik, masalah buat lo?"
Ah ... Kenapa juga orang ini terus saja memegangiku. Dan kenapa juga Adrian tidak melepaskan Nadia agar kami bisa ribut lagi.
"Kalian semua bubar! Apa yang perlu di tonton? Bubar semua, ini bukan urusan kalian. Bubar, bubar, bbbuuubbaarrr!" Adrian berteriak membubarkan orang-orang yang mengelilingi kami. Dan mereka ternyata menurut juga meski diiringi sorakan tak rela. Mungkin masih haus akan tontonan gratis ini.
"Kalian berdua, mau ribut terus atau gue aduin ke Dewan Kampus!" Kini Adrian beralih padaku dan Nadia.
Ah ... Dia paling tahu kalau aku tidak akan bisa berkutik, jika sudah menyangkut masalah dengan orang-orang penting di kampus. Tentu saja ... tak lama lagi aku akan lulus. Nggak lucu kalau aku harus di DO hanya karena ribut dengan cucunguk itu. Aku dan Nadia saling lirik. Kami berdua sepertinya mulai berpikir kalau hal ini akan berdampak buruk pada reputasi. Sehingga perlahan-lahan pertahanan kami mulai melemah.
"Ayo pilih sekarang!" teriak Adrian lagi. Haiisshh ... Jadi hobby teriak ya ini anak satu. Adrian melepaskan Nadia, begitu pula orang yang tadinya menahanku. Aku juga baru sadar, kalau sejak tadi, yang memegangiku adalah Tio. Bagaimana aku bisa perduli dengan siapa orang yang meleraiku tadi. Aku sudah kalap dengan keinginan untuk menghajar gadis itu.
Nadia kemudian mengapit lengan Adrian dengan posesif, sebelah tangannya terangkat, kemudian menunjuk ke arahku. Astaga, sengaja banget dia itu, cari-cari perhatian.
"Dia ... Dia yang mulai duluan. Dia yang cari gara-gara! Dia, Yan. Shera yang duluan bikin masalah!"
Oh ya ampun, jangan bilang kalau si nenek lampir ini, lagi memprovokasi orang untuk menyalahkan aku. Padahal dia yang bermain tangan lebih dulu.
"Iya ... Emang gue yang cari masalah. Apa lo ...?" Dan baik .... Ku terima tantangannya. Lagipula siapa sekarang yang akan peduli siapa yang menghajar siapa lebih dulu
"Apa lo!"
"Apaan lo!"
"Udah cukup. Lo berdua nggak malu apa, ribut diliatin sama satu kampus! Jangan kekanak kanakan gitu lah!" Tio berteriak sampai membuat gendang telingaku mau pecah. Haddehh!
"Hisshh ... Ngapain sih kalian pisahin mereka, lagi seru padahal," ujar Ricky dengan nada kecewa.
Benar-benar no komen untuk kawannya Adrian yang satu itu. Ajaib banget meskipun aku setuju. Kenapa aku dan Nadia harus dipisahkan, sebelum urusan kami selesai. Baku hantam ini, harusnya bisa selesai dengan salah satu pemenang. Dan sekarang entah siapa yang akan peduli
"Please deh Rick. Lo sama sekali nggak ngebantu. Dan kalian berdua, temen kalian bikin keributan dan kalian diem aja?"
Wwah ... Aku lupa kalau disini masih ada dua orang dayang-dayang dari Nadia. By the way, dua anak gadis itu diam tak berkutik saat Adrian memarahi mereka. Kemana keangkuhan yang mereka tunjukan padaku tadi. Ah ... Iya, aku baru ingat, Adrian pernah bercerita kalau salah satu dari mereka menyukai dan pernah berniat untuk mengkhianati Nadia. Haissshh miris sekali. Sebua pertemanan yang menakjubkan. Mereka saling menusuk tanpa di ketahui.
"Ada apa sebenernya sih Sher?" tanya Tio pada padaku.
Aku mulai lelah dengan semua ini. Terutama dengan tatapan Nadia yang semakin mencekam. Bukan karena takut, tapi ayolah. Sudah berapa banyak cewek yang jadi musuhku cuma gara-gara Adrian. Mereka selalu mengira aku adalah orang ketiga di dalam hubungan mereka. Tidak bisakah mereka sadar kalau kami ini dekat sekali. Jika memang saling suka, harusnya kami sudah jadian dari dulu.
"Ada apa? Kalian tolong bisa tanya aja sama orang gila itu. Gue masih banyak urusan. Gue udah muak kaya gini terus. Ini terakhir kalinya gue harus berurusan sama cewek-cewek yang ada hubungannya sama lo. Gue ccaappekk!" teriakku. Aku tidak peduli lagi ya kubutuhkan saat ini hanya waktu untuk sendirian dan bebas. Berada di tengah-tengah mereka hanya akan membuatku semakin stress.
Aku berbalik, menerobos pergi setelah menabrak sebagian tubuh Tio. Tak ku pedulikan panggilan Adrian yang menyerukan namaku. Kemana Leana dan Mira? Mereka pasti tidak tahu kalau kawannya ini habis membuat kehebohan.
Tak lama kemudian, Tio ternyata menyusulku. Dia tidak langsung bertanya tapi kemudian berjalan beriringan denganku. Tapi kenapa malah jadi dia yang nyusul sih. Kenapa bukan Adrian?
Ah ... Siapa juga yang ingin kau bohongi Shera. Kau hanya temannya, tapi sedekat apapun kalian, tidak akan mampu melebihi rasa cintanya pada gadis itu. Status kami ini berbeda. Cinta pastilah akan lebih penting di atas segalanya, bahkan untuk sahabat sekalipun.