Shera Fuji Lesmana
Aku berhenti melangkah, kemudian menoleh pada pria di sebelahku. Tio bisa dibilang adalah kawan dari Adrian yang paling sensitif, tapi juga paling logis. Dia yang paling serius di antara mereka. Maksudku, paling serius untuk belajar. Karena Ricky dan Adrian sudah kentara sekali dengan cap hanya main-main.
"Ngapain lo ngikutin gue?" tanyaku dengan nada yang tidak bersahabat. Untuk apa beramah-tamah dengan mereka saat ini. Aku sedang kesal dan ingin makan orang saja kalau bisa. Harusnya dia tahu, berdekatan denganku saat ini, akan berbahaya.
"Takut lo ngelakuin hal yang aneh-aneh," jawabnya santai. Seaneh-anehnya aku, nggak akan lebih aneh dari nenek lampir itu.
"Gue masih waras. Udah sana, jangan ngikutin gue terus!"
"Masa orang waras berantemnya jambak-jambakan?"
"Lo tuh! Iiiihhh. Pokoknya gue nggak mau diikutin terus. Gue mau ke kelas."
Aku mengepalkan tangan dengan geram, sebagai cara menahan rasa kesal.
"Ohh ... Ya udah, kalau mau ke kelas, gue sih nggak larang. Silahkan, tapi inget. Jangan sampai bunuh diri. Oke!" Tio mengacungkan jempolnya. Aku tidak menjawab dan memilih untuk pergi setelah sempat mendelik dengan kesal ke arahnya.
Memang mereka ini cocok untuk berkawan. Tio dan Adrian, sama-sama menyebalkan. Mereka membuat aku gila. Oke, aku tahu ini berlebihan. Mereka nggak bersalah, semua ini gara-gara nenek lampir itu. Karena Nadia aku jadi kesal tak karuan seperti ini.
Aku bahkan melupakan kaca mata hitam yang sempat terjatuh karena tamparannya tadi. Entah dimana benda itu berada sekarang. Aku tidak mau membuang waktu dengan kembali ke tempat tadi dan mencarinya. Untungnya itu hanya kacamata murah seharga tiga puluh ribuan yang ku beli di pinggir jalan. Jadi, nggak terlalu menyakitkan meskipun hilang. Hanya saja, mata bengkakku kini terlihat. Jangan sampai mereka mengira kalau mata ini bengkak karena menangisi perkelahianku dan Nadia tadi. Enak saja, mau diletakan kemana harga diri ini?
Sampai di kelas, aku langsung melemparkan tas ke atas meja, menarik kursi dan duduk dengan gaya ala-ala preman, mengangkat satu kaki. Ada Leana dan Mira yang langsung melongo. Mungkin kaget karena tampangku yang baru saja datang tampak sangat tidak bersahabat. Padahal sebelumnya, mereka sedang tertawa cekikikan.
"Kesambet hantu apaan lo Sher?" kata Mira.
Leana mendekat kemudian menangkup pipiku juga memperhatikan wajahku dengan seksama.
"Rambut acak-acakan, mata bengkak, pipi merah. Astaga Sher? Lo berantem sama siapa?"
Aku menepis tangan Leana. Kemudian menatap dua temanku ini satu persatu.
"Lo berdua mau tahu apa yang terjadi?" tanyaku. Leana dan Mira lalu mengangguk dengan yakin.
"Lo inget Nadia? pacarnya si Adrian? Bisa lo tebak apa yang selanjutnya terjadi?" tanyaku lagi.
"Aissshh, jangan bilang mereka putus. Terus pihak cewek nyalahin lo lagi?"
Aku menjentikan jari tepat di depan wajah mereka ... Crik ...
"Kalian berdua emang sahabat yang paling the best. Nggak perlu gue jelasin, tapi udah ngerti sendiri! Lea, coba gue pinjem sisir ama kaca." Aku pasti sangat berantakan sekarang. Kalau dosen sampai melihatku dengan keadaan seperti ini, bisa mati gaya nih. Dan saat aku mulai berkaca, waw! Amazing banget. Pantas saja sepanjang perjalanan menuju kelas, semua orang memperhatikanku dengan tatapan yang aneh.
"Tapi mata lo nggak mungkin bengkak cuma gara-gara di pukul cewek itu kan? Busett, itu si Rian ceweknya pada bringas-bringas. Nggak bisa dibiarin nih. Gimana kalau kita samperin si Nadia itu, beserta dayang-dayangnya. Kita bikin perhitungan karena udah bikin lo jadi kaya gini," usul Mira dengan semangat.
Sejujurnya aku sangat senang dan berterima kasih, karena Mira dan Leana peduli padaku. Tapi aku, sudah tidak ingin memiliki urusan dengan Nadia, dan mungkin dengan calon-calon pacar lain dari Adrian.
Aku ingin memiliki kehidupan yang tenang hingga lulus nanti. Lagipula, ada apa dengan cewek-cewek ini? Maksudku, semua orang yang berada di kampus, setidaknya memiliki usia lebih dari 18tahun kan? Kecuali jika dia adalah si jenius dengan iq tinggi, yang memungkinkan untuk loncat kelas.
Ini adalah usia dimana mereka termasuk aku sendiri, harus berpikir dewasa. Berebut laki-laki yang sudah mencampakan, apalagi sampai menjambak rambut tentu bukanlah perilaku orang dewasa.
"No ... Nggak perlu. Gue udah muak sama urusan kaya gitu. Gue cuma mau lulus dan jadi orang kaya nantinya. Itu aja udah cukup."
Tak lama setelah itu, dosenpun datang. Kami bertiga menghentikan perbincangan, lalu membenahi tempat duduk. Aku berharap agar dapat tetap konsen saat kelas berlangsung dan semoga tidak ada hal buruk lain yang menunggu, saat mata kuliah telah selesai.
***
Aku sedang berusaha konsentrasi, mengumpulkan fokus saat Dosen tengah berbicara didepan kelas. Tapi nyatanya, pikiranku masih berpencar kemana-mana. Jangankan untuk fokus. Nggak teriak-teriak seperti orang gilapun, sudah beruntung. Sejauh ini, sepertinya, aku belum membuat masalah lain, seperti mengatakan apa isi pikiranku secara tak sadar lagi, seperti biasanya.
"Sher ... Sher," panggil Leana perlahan. Leana duduk persis di sampingku. Sementara Mira, ada di depan Leana.
"Apaan? Lo nggak liat gue lagi berusaha konsentrasi?" jawabku setengah berbisik. Takut Dosen di depan, mendengarnya.
"Coba lo liat hp dulu. Cek grup Wa Kelas kita!" pintanya. Aku meraih ponsel dengan firasat yang agak buruk. Tapi saat ku lihat, ternyata kuotaku habis. Tidak ada pesan apapun yang masuk. Dan aku juga tidak menyadari itu sejak tadi pagi.
"Kuota gue abis. Coba gue pinjem hp lo dulu deh. Emang ada apaan sih?" tanyaku penasaran.
Leana menyerahkan ponselnya sembari memperlihatkan sebuah rekaman yang membuatku terkejut.
"Anjjrritt!" teriakku spontan.
"Shera!" kata Leana.
Aisshhh, saking kagetnya aku sampai tidak tahu tempat dan waktu.
"Errhhhmmm ... Shera, Leana. Sepertinya apa yang ada didalam hp itu, lebih bikin kaget daripada kemungkinan nilai tugas kalian yang akan saya potong!" tegas Dosen wanita yang berada didepan kelas.
"Jangan Bu!" ujarku dan Leana berbarengan. Semua mata kini tertuju ke arahku dan Leana. Ia memasukan kembali ponselnya ke dalam tas.
Beruntungnya, Bu Dosen tidak memperpanjang masalah dan malah melanjutkan materi, seolah tidak ada yang terjadi.
Namun pada akhirnya, pikiranku semakin tidak fokus. Astaga! bisa-bisanya ada orang yang merekam aksi perkelahianku dan Nadia. Aku akan jadi lebih terkenal dari sebelumnya. Semoga saja, video itu tidak sampai ke tangan Dewan Kampus.
"Nanti kita bahas soal ini di kantin," bisik Leana.
Entahlah, aku bahkan tidak ingin mengingatnya. Andai saja, di dalam video itu, gaya perkelahian kami keren. Seperti di film-film action, maka ini tidak akan menjadi masalah besar. Tapi acara tarik-menarik rambut? Astaga ... aku tidak ingin mempercayai ini semua.
Siapa yang harus aku salahkan untuk semua ini? Ahhh tentu saja ini tidak akan terjadi jika aku memiliki teman yang normal. Kehidupan Adrian terlalu istimewa untuk ku mengerti. Aku yang biasa-biasa saja ini, sepertinya sudah salah bergaul.