"Ini semua karena kamu!" teriak Axel. Saat pertama kali Axel menamparku kala itu, ia tampak begitu ragu dan gelisah. Tapi kali ini, ekspresi wajah pria itu menandakan kalau dia merasa puas dan sama sekali tak merasa bersalah. "Karena aku?" ucapku tak percaya, di saat seperti ini dia berani menyalahkan aku dan tidak berkaca pada diri sendiri. "Sekarang jangan salahkan aku, kalau ke depannya mungkin aku akan banyak kelepasan. Semua karena kamu yang terus saja memancing masalah! Sekarang aku mau pergi. Terserah kamu mau apa," ucapnya Axel dengan emosi. "Oh iya, dan kamu bilang apa tadi? kamu ingin pisah. Dengar Shera, aku nggak akan pernah mau pisah sama kamu. Meski aku harus nyakitin kamu!" tambah Axel dengan suara yang amat lantang. Aku bahkan belum sempat menjawab, tapi Axel belum ju

