"Aduh ... kok bisa lupa sih!" Axel menepuk keningnya saat baru saja membuka pintu mobil. Sementara aku sudah berada di dalamnya. "Kenapa, Xel. Ada yang ketinggilan?" tebakku. "Iya nih. Kamu tinggi di sini sebentar ya. Nggak apa-apa, 'kan?" ujar Axel. "Iya nggak apa-apa kok. Untung ingetnya kita masih di sini. Ya udah buruan sana." "Oke tunggu ya." Axel tak jadi masuk lalu kembali menutup pintu mobilnya. Meninggalkan aku sendirian di dalam mobil. Selagi Axel pergi, aku kemudian meraih ponsel, lalu berkaca melalui fitur kamera di dalamnya. Melihat dengan seksama pada anting-anting yang saat ini terpasang di telingaku dengan begitu indah. Seumur-umur, aku hampir tidak pernah bermimpi bisa memiliki barang-barang mewah. Jika Axel yang membeli, dapat dipastikan harganya bisa membuatku m

