"Aku sudah berusaha keras untuk masuk ke dalam hati kamu, Adrian," ucapnya. "Tapi bagaimanapun juga, aku tetap kalah," tambah Alisya lagi. Aku tidak bisa menyanggah apalagi menenangkan Alisya karena yang ia katakan mungkin benar. Dia sudah berusaha untuk masuk dan aku juga sudah berusaha membuka hati. Tapi masalahnya, hatiku nggak selaras dan tak ingin ikut bekerjasama dengan usahaku. Aku mengangkat kepala lalu melihat pergerakan tangan Alisya yang saat ini tengah melepaskan cincinnya. Atau lebih tepatnya, cincin pernikahan kami. "Loh, Sya. Kamu apaan sih. Kenapa cincinnya kamu lepas?" ujarku dengan bingung dan tentunya panik juga. Tapi Alisya tetap acuh hingga benda itu benar-benar terlepas dari jari manisnya. Alisya lantas menyodorkan cincin yang sama persis dengan milikku itu. "I

