Bab 38. Shera 22

1149 Kata
Shera Fuji Lesmana "Sher ... Sher ... Shera!" sentak Axel dan membuatku agak kaget. Tangannya berada tepat di depan wajahku, ia mengibas- ngibaskan anggota tubuhnya itu, untuk membuatku sadar. Jadi ... beberapa saat yang lalu, aku sempat bengong sendiri memikirkan kenapa aku bisa melakukan kesalahan. Kutukan itu masih saja menghantui. Ya ... Bagiku, hal itu adalah sebuah kutukan. "Sorry gue agak nggak fokus tadi. Jadi gimana-gimana? Lo mau gimana tadi?" Kini giliran Axel yang malah terdiam. Ia menatapku dengan sayu, sebelum pada akhirnya tangan pria itu terangkat dan membelai rambutku pelan-pelan. Pertahananku luluh dan aku juga ikut terdiam karena tingkahnya. Please ... Ini bukan karena aku baper. Tapi karena aku merasa heran saja. Namun, Wajahnya kenapa berubah jadi sedih, perasaan aku tidak mengatakan hal-hal fatal yang salah. Justru dia sendiri, yang membuka bahasan dan jelas-jelas seharusnya kami hindari. Dia yang membuka luka diantara kami. "Maafin gue ya Sher? Lo pasti jadi bengong karena kepikiran soal Tama dan Mawar. Ya ... Gue tau, rasanya pasti sakit. Tapi please, jangan dijadiin beban. Apalagi pikiran. Nanti kita buktiin sama mereka, kalau kita juga bisa move on. Oke?" Aku memutar mata setelah tahu alasannya menatapku dengan sedih. Dan itu sama sekali tidak membuatku berkesan. Baiklah, aku tahu Axel itu kurang pintar. Tapi aku nggak tahu, kalau dia se alay ini. Halloo, aku ini bengong bukan karena memikirkan orang-orang yang tidak penting itu. Tapi sudahlah, dijelaskanpun apa gunanya? Lebih baik sekarang aku hati-hati dalam berucap, juga berpikir. Karena salah-salah, pikiranku malah memiliki pikiran sendiri yang tidak bisa ku kendalikan. "Oke cukup-cukup. Gue lanjutin makan ini dulu ya. Soal itu, bahas nanti lagi aja." Aku menepis tangan Axel yang masih bertengger dengan manis di atas kepalaku. Ia menurunkan tangannya, dan kembali terdiam memperhatikan aku makan. Ya ... Mubazir juga kalau tidak dihabiskan. Ini makanan enak dan lumayan mahal. Jadi sayang kalau sampai diabaikan. Aku melanjutkan acara makan sembari berbincang ringan dengan Axel. Dia bercerita, bagaimana masa lalunya dan Mawar. Kenapa mereka bisa sampai bertemu, juga kenapa mereka bisa sampai jadian. Aku menjadi pendengar yang baik, tanpa berniat untuk menggurui atau memberi komentar. Namun yang sejujurnya ku tangkap, Mawar adalah tipikal wanita yang manja. Aku tidak akan menilai dia matre. Toh, bagiku setiap wanita itu memang perlu matre pada pasangannya dalam kadar tertentu yang wajar. Tapi dari cerita Axel, aku tahu kalau Mawar hanya butuh perhatian yang lebih. Tapi sayangnya, ia mendapatkan itu semua justru dari mantan kekasihku. "Sejak saat itu ... Lo udah pernah ketemu sama Mawar lagi?" tanyaku agak penasaran. Tapi Axel menggelengkan kepalanya. "Belum ... Awalnya gue pikir, saat tahu soal dia dan Tama, itu cuma mimpi. Dan, waktu ada yang nganterin undangan pernikahan Mawar sama Tama, gue semakin takut, karena mimpi itu ternyata jadi kenyataan," keluh Axel. Obrolanku seperti agak memancing emosi lain di dalam dirinya. Nggak nyangka aku. Ku pikir, selama ini dia terlihat nggak terlalu memikirkan soal masalah pasangan kami yang selingkuh. Tapi jika di telusuri, mungkin dia hanya butuh teman untuk curhat kan? "Lo nggak pernah curhat, atau ceritain hal ini sama temen-temen lo gitu?" Ah ... Aku mulai kepo lagi dengan kehidupan orang lain. "Sejak gue punya bisnis cafe ini, gue agak kesulitan buat nemuin temen-temen yang emang beneran solid. Ya, kadang mereka baru biasa diajak ngobrol, atau di ajak ngomong, setelah ada embel-embel ayo gue traktir, atau nanti kita jalan kesini biar gue yang bayar. Awalnya mereka memang jadi pendengar yang baik, tapi saat sudah mulai bosan, mereka akan sibuk dengan diri sendiri lagi. Ya ... Gue bukan nggak ikhlas, ngeluarin duit cuma buat nyenengin temen-temen gue. Tapi gue juga cuma minta sedikit waktu mereka buat, hibur gue kek. Atau setidaknya, dengerin dan ya ... Lo ngerti maksud gue nggak sih?" Axel baru saja membuat sebuah pidato panjang lebar soal perasaannya. Tapi by the way, kalau soal traktiran, lahh ... Gue juga lagi di traktir nih? "Lo nyindir gue, gara-gara minta di traktir?" cibirku. "Bukan, bukan yang kaya lo ini. Jangan salah paham ... Maksud gue itu ..." "Udah-udah. Jangan dijelasin. Gue paham kok," balasku sambil tersenyum. Padahal aku hanya bercanda. Tapi dia malah tampak kalang kabut. Dalam ruang lingkup orang kaya, sepertinya memang agak sulit untuk menemukan orang yang bisa dipercaya, tanpa memandang status dan harta. "Nanti kalau lo punya pacar lagi. Lo harus sering-sering perhatiin dia. Ajak ngobrol, dengerin dia lagi ngomong. Jangan ngeluarin hp kalau nggak penting-penting amat. Dan sisihkan waktu untuk kami para kaum cewek buat menghabiskan waktu sama temen juga. Kami ini orang loh, bukannya barang yang harus selalu digenggam atau disimpan hanya karena takut ilang." Setelah Axel bercerita, aku sedikit memberikan saran. Kasian juga, orang seperti dia kalau dianggurin. "Tapi kalau setelah lo berubah, dan pacar lo nantinya masih begitu juga. Fix ... Lo kena penyakit jomblo akut," tambahku lagi. "Kenapa obrolannya jadi ngelantur jauh kaya gitu. Gue nggak ada niatan buat pacaran lagi," jawabnya. "Iya, nggak usah pacaran ya. Langsung nikahin aja, biar nggak di rebut orang lagi," celetukku. "Iya bener. Sayang aja nggak ada calonnya. Kalau nikah sama lo aja gimana?" "Uhukkk ..." "Eh ... Sher lo kenapa, sini gue bantuin!" Si kampret ini, malah bikin aku kaget, hingga tersedak. Axel bantu menepuk-nepuk punggungku dengan pelan. "Sampe segitunya yang udah sakit hati, nggak mau diajak nikah." "Stress lo ah. Uhuk-uhuk," keluhku sambil menahan batuk. "Gue heran, cewek kalau udah ngomongin hal kaya gitu, sering banget keselek." Aku sibuk mengatur nafas. Dan malas juga menanggapi pendapatnya. Waktu sudah habis, dan aku harus segera pergi ke hotel, atau absensi jam kerja akan terlewat. "Gue harus pergi sekarang nih. Kalau nggak, gue bisa telat!" "Ya udah, gue anterin sekalian." "Aduh jangan deh. Gue naek angkot aja," pintaku. Bukannya apa-apa, tapi dia sudah mentraktirku makan dan bersikap baik juga. Aku jadi merasa agak tersentuh dan tak enak hati untuk merepotkannya lagi. "Nggak apa-apa, sekalian gue juga ada perlu keluar. Ayo ...! Ini biar nanti waiter aja yang beresin." Axel beranjak dan mengulurkan tangannya padaku. Aneh, perasaanku agak berbeda. Awalnya aku agak ragu. Tapi dia lalu mengangguk, memberiku isyarat agar aku segera menggenggam tangannya. Soo mungkin ini pertama kalinya, aku menggenggam tangan orang lain, selain Adrian dan Tama. Kenapa aku bisa begitu percaya menyerahkan tanganku pada orang belum lama ku kenal? Entahlah mungkin ini takdir yang tidak bisa kuhindari. Hembusan angin yang menerpa tubuh dan wajahku, saat aku harus kembali duduk menjadi penumpang di kursinya, membuatku sadar kalau dunia selalu punya rencana yang tidak pernah bisa diduga-duga. Pilihan dan kebahagiaan itu kita yang menciptakan sendiri. Dan aku memilih untuk membuat hidupku bahagia. Berdamai dengen diri sendiri, dan berusaha agar semua mimpiku terwujud. Namun saat aku dan Axel hampir sampai di hotel, sebuah pemandangan menarik, membuatku mengerjap beberapa kali. Axel meminggirkan motornya. Aku kemudian turun dan membuka helm. Pada saat yang bersamaan, tatapanku bertemu dengan pria itu. Adrian ada disana, bersandar pada badan motornya yang besar dan biasa di sebut si jago merah. Pria itu menatapku dengan raut wajah datar yang tak bisa ku mengerti.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN