Bab 37. Shera 21

1477 Kata
Shera Fuji Lesmana "Lo ngapain kesini nggak bilang-bilang? Ohhh atau lo lagi cari orang lain?" tanyaku begitu menghampiri Axel. Pria jangkung yang saat ini hanya menggenakan kaos putih dan celana Chino hitam itu, terlihat keren. Heran aku ... Kok bisa-bisanya si Mawar berduri itu melepas, cowok yang baik plus ganteng ini. Nggak malu-maluin kalau dia ku bawa keliling Jakarta, udah gitu, kaya pula. "Nggak, gue emang mau jemput lo. Udah gue kirim chat padahal. Emang lo nggak baca?" tanyanya agak heran. "Haisshh, gue lupa. Kuota gue abis. Chat dari lo pasti nggak nyampe deh." "Ohh ya udah. Nanti biar gue isi aja sekalian." "Loh-loh, jangan. Buat apa? Gue masih mampu kalau tibang beli kuota doank mah." "Udah ngga apa-apa. Sekalian gue juga mau ngisi entar. Ya udah, sekarang lo mau kemana? Biar gue anter!" Sebentar, sebentar. Agaknya, aku harus mencerna terlebih dahulu apa yang terjadi saat ini. Kurasa, aku sudah mulai bisa menebak ke arah mana ini akan berlanjut. Ini bukan hanya sekedar rasa percaya diri yang berlebih, tapi Axel sepertinya memang memiliki maksud tertentu. Jika tidak, untuk apa dia dua hari berturut-turut dengan sengaja menjemputku. "Ehm ... Gue mau berangkat kerja sih tadinya," ujarku ragu. "Oh, ya udah biar gue anterin." "Tapi masih dua jam lagi sih," bantahku. Sebenarnya aku hanya ingin bicara pada Axel. Aku memastikan kalau saat ini, dia tidak sedang mengejarku untuk dijadikan bahan pelarian. Aku akan dengan senang hati untuk berteman dengan siapapun. Tapi aku tidak ingin dijadikan sebuah incaran hanya untuk mengobati hati yang terluka. Namun aku menunggu Axel menawariku untuk pergi lebih dulu. Entah ke taman, Cafe, atau dimanapun selagi kami bisa ngobrol sedikit. Asal, jangan aku yang lebih dulu mengutarakan usul untuk pergi berdua. Karena aku tidak mau membuat asumsi, seolah aku yang ingin menghabiskan waktu berdua dengan Axel dengan alibi ingin ngobrol. "Udah makan? Kita makan dulu aja gimana?" tawarnya padaku. Nah ini yang ku tunggu. "Sebenernya gue nggak laper. Tapi gue lagi pengen makan desert di Cafe lo, yang dulu sering gue sama Tama pesen," ujarku. Haiishh ... kenapa tiba-tiba aku jadi teringat pada Tama. Alasan macam apa ini? "Sure! Boleh banget, kita berangkat sekarang ya!" Axel menyodorkan helm yang langsung kugunakan. Dan ... lagi-lagi, aku harus meratapi nasib karena kesulitan untuk menaiki motornya yang tinggi, meski telah berpegangan pada bahu. Derita orang-orang yang kurang tinggi sepertiku memang cukup menyedihkan. "Siap?" "Oke siap." Dan dalam waktu sekejap, aku bersama Axel akan menuju tempat dimana ada banyak sekali kenangan tercipta bersama sang mantan kekasih. Tak hanya soal kenanganku dan Tama, tapi aku juga yakin ada kenangan lain berisikan ingatan Axel dan Mawar berduri di dalamnya. Kapan terakhir kali aku pergi ke tempat yang bagus ini? Aku bahkan sudah tidak ingat lagi. Saat itu, hubunganku masih bersama dengan Tama. Green Cafe adalah tempat makan bergengsi dan bertemakan segala sesuatu yang didominasi warna hijau. Biasanya tempat ini ramai, mulai dari jam makan siang, hingga malam. Ada live musik dan beberapa ruangan VIP untuk karaoke juga. Tempatnya bersih dan nyaman banget. Salah satu makanan favoritku disini adalah brownies dengan toping extra keju dan red velvet chese cake pake es cream vanila, itu tuh, makanan yang menurutku paling enak banget. Dan sejauh mata memandang, nggak ada yang berubah dari Cafe ini. Kurasa, hanya ada sedikit renovasi di beberapa bagian. "Oke, kita sampai!" ucap Axel. Aku masuk berbarengan dengan pria itu sambil menengteng helm. Beberapa karyawan yang berpapasan dengan kami menyapa dan memberikan hormat berupa senyuman. Aku memilih tempat duduk di dekat jendela, agar bisa memandang keluar dengan leluasa. "Jadi lo pengen desert apa nih? Ya meskipun lo sama Tama sering kesini, gue nggak cukup perhatian buat tahu makanan apa yang paling sering kalian pesen," jelas Axel sembari bertanya. "Gue mau red velvet chese cake pake es cream vanila. Ada kan?" "Ada donk. Sebentar ya. Khusus buat lo, biar gue yang ambil sendiri pesenannya. Oke. Lo tungguin disini." Aku mengangguk dengan senang hati. Axel kemudian pergi ke dalam, entah ke ruangan mana. Mungkin dia pergi ke dapur. Sementara dia mengambil pesanan, aku termenung memperhatikan tempat yang menurutku sudah hampir tak asing lagi. Bedanya, ini bukanlah tempat yang biasa ku pesan bersama Tama. Kami biasa mengambil tempat pada stand payung di lantai atas. Dan sekarang, aku merasa enggan untuk pergi kesana. Ada sedikit trauma secara tak langsung yang tercipta dengan sendirinya. Selang waktu tak berapa lama, Axel kembali dengan nampan berisikan desert favoritku dan dua buah cangkir dengan kepulan asap di atasnya. "Silahkan, Mbak." Aku tertawa kecil, melihat tingkah Axel yang tengah menirukan waiters dan meletakan semua yang di bawanya pada meja. "Ehm ... Kayanya gue tadi pesen desert doank?" "Yang ini bonus. Gue buatin cappucino yang gulanya sedikit, biar balance sama desert punya lo." Wah ... Tanpa perlu diminta, Axel rupanya sudah memikirkan kebutuhanku, aku harus banyak-banyak berterima kasih. Tapi daripada capucinno, sebenarnya aku justru lebih tertarik pada aroma kopi yang ada dihadapannya. "Eh ... Kalau yang itu apa?" tanyaku penasaran. Duh ... Aku dikasih makanan gratis masih banyak nanya lagi. "Oh ... Ini kopi alpukat. Kenapa? Kamu mau coba? Kita tukeran aja gimana?" "Boleh-boleh!" jawabku dengan antusias. Pantas saja aromanya berbeda. Selain keju, aku juga sangat suka pada alpukat. Karena itu, aku begitu suka dengan aroma kopi yang dibawa oleh Axel ini. Ditraktir makan gratis, dan dilayani oleh owner sendiri. Wow ... Bukankah ini adalah salah satu keburuntungan. Aku sudah tidak bisa berlama-lama lagi berada disini. Jadi segera saja ku santap makanan di hadapanku. Rasanya yang manis, lembut, apalagi eskrim vanilanya yang dingin. Haduh ... Bagaimana lagi caraku untuk menjelaskannya. "Axel ... Ini tuh enak banget." Ini bukan hanya sekedar pujian karena dia sudah bersikap baik. Tapi ini benar-benar nyata. "Syukur deh kalau suka. Nanti gue bakal sering-sering ajak lo buat kesini." Pernyataannya seolah mengingatkanku pada tujuan sebenarnya. Alasan kenapa aku ingin pergi bersamanya. Setelah menghabiskan setengah dari makanan, aku mulai mengalihkan perhatianku pada Axel. Dia tampak sedang menikmati capucinno yang tadi kami tukar. "Xel ... Kita ngobrol sedikit boleh?" "Sure. Ada apa?" "Ehm ... Gue sebenernya cuma mau nanya. Kenapa lo baik sama gue?" tanyaku langsung pada intinya. Ya .. aku tidak mau bertele-tele. Waktuku tidak banyak. Ia mengernyitkan kening. Mungkin menerka-nerka maksud dari pertanyaanku. "Ya ... Karena kita ini teman kan?" "Ya kita emang temen. Tapi kenapa lo baik banget. Udah dua hari berturut-turut lo rela panas-panasan buat jemput gue, traktir gue, ngikutin gue. Kenapa? Kita belum sedekat itu kan?" Axel menyandarkan tubuhnya pada kursi, kemudian bersedekap melipat kedua tangannya di depan d**a. "Gue tahu. Lo emang nggak bisa dibohongin segampang itu Sher." Sudah kuduga, ternyata memang ada maksud lain di balik semua ini. Seorang pria yang tiba-tiba saja jadi begitu baik dalam waktu singkat, pastilah memiliki maksud tertentu. "Simplenya, lo masih ingetkan sama tawaran gue buat ke pernikahannya Mawar sama Tama. Gue cuma pengen kita, alias gue sama lo, pergi kesana. Berdua sebagai sepasang kekasih. Ahh ... Bukan kekasih sungguhan. Gue cuma pengen mereka lihat, kalau kita juga bisa move on. Bisa bahagia tanpa mereka," jelas Axel lagi Jadi ... Masalah itu lagi. Aku memang berniat untuk datang. Tapi tidak dengannya. Aku tidak berpikir untuk mengajak orang lain juga untuk menyaksikan tangisku nanti. Masalahnya adalah, saat ini aku memang bisa yakin untuk move on dan baik-baik saja. Tapi aku tidak tahu jika nanti, saat benar-benar ada di sebuah gedung yang pernah menjadi mimpiku dan dia, bisakah aku tetap kuat? "Pertama kali Mawar tertarik pada Tama, adalah saat kalian ada di atas." Deg ... Kenapa tiba-tiba Axel membahasnya. Untuk apa juga dia memberitahukan hal yang tidak ingin ku ketahui. Nada bicaranya yang datar, membuat hatiku agak perih. Ia mengingatkanku pada sesuatu yang ingin kulupakan. "Gue nggak nanyain hal itu, Xel!" tegasku. "Kalian lagi makan berdua dan dia lihat bagaimana Tama memperlakukan kamu dengan lembut, dengan baik, dengan penuh perhatian. Saat itu, aku adalah cowok yang kaku dan mungkin membuatnya bosan. Karena itu dia mulai tertarik dengan Tama." Axel tidak mendengarkan protesku dan malah melanjutkan ceritanya. Darimana dia tahu semua hal yang menyakitkan itu? Dan untuk apa juga dia tiba-tiba saja menceritakannya. "Mawar yang cerita sendiri, saat gue tanya kenapa dia bisa tiba-tiba ngasih tahu, kalau dia hamil anak dari Tama. Gue emang ngerasa perlu ngasih tahu lo Sher. Entahlah, tapi ... Mungkin karena gue juga bingung, harus cerita sama siapa," jelas Axel lagi. "Lo ... Lo barusan denger apa yang gue omongin?" tanyaku agak terkejut. Karena perkataan Axel, terasa begitu nyambung dengan pertanyaan yang ada di dalam pikiranku barusan. "Lo lagi bercanda ya? Jelas jelas lo tadi bilang, darimana gue tahu soal Mawar sama Tama. Terus kenapa gue tiba-tiba ngasih tahu juga ke lo. Lo kenapa sih Sher?" Axel menatapku dengan heran dan bingung. Kalau dia saja bingung, apalagi aku sekarang? Sialnya, sekarang aku paham. Kebiasaanku sepertinya muncul lagi dengan tidak sengaja. Aku pasti berpikir mengatakannya hanya di dalam hati. Padahal, bibirku ikut berucap dan suaraku juga keluar. Astaga ... Apa saja yang sudah aku utarakan tanpa sadar hari ini?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN