Bab 36. Adrian 16

1108 Kata
Adrian Maulana "Dan ku berjanji akan melepasmu. Dengan senyuman yang akan kau ingat dan kau kenang sampai mati. Selamanya ... Selamanya ... Selamanyaaaa ... Hooooo," Bait dari lagu terakhir yang kami cover, sekaligus menutup acara latihan kami hari ini. Bisa dibilang, kemajuan yang kami bertiga lakukan akhirnya berkembang lumayan pesat. Terutama untukku, sepertinya aku bernyanyi benar-benar menggunakan hati. Terlebih lagi perasaanku hari ini benar-benar kesal. Seolah dengan bernyanyi, aku bisa melampiaskan kekesalanku dengan nada-nada sumbang yang terdengar indah telinga orang lain. Yup, apa yang satu lagi anugrah keberuntungan yang kumiliki, suara emas. "Yyeeehhh! Ini baru bener. Huuuhhhh tepuk tangan buat kita semua!" prok ... prok ... prok. Ricky bersorak, bertepuk tangan dengan semangat. Aku dan Tio, tertawa melihat tingkahnya ramai sendiri. "Kalau gini terus sih. Gue yakin, kita nggak akan malu-maluin pas manggung nanti. Malah bisa jadi langsung ada produser yang liat, nawarin buat rekaman." Kini giliran Tio yang semakin percaya diri. Bermimpi itu perlukan? Kalau bisa, setinggi-tingginya malah. Jangan khawatir akan jatuh, karena peluang, akan selalu ada dimana-mana. "Aamiin-Aamiin. Itu adalah mimpi terbesar kita. Mudah-mudahan kita mujur dah," balasku. Setelah merapikan peralatan yang digunakan, kami keluar dari studio. Diluar sudah ada anak band lain, yang menunggu giliran untuk bermain. Mereka mengacungkan dua jempol untuk permainan musik kami tadi. Tidak ku sangka, orang-orang ini justru mendengarkan permainan kami, dari awal sampai akhir. Dan hal bagus ini, bisa menjadi sebuah motivasi baru. Andai saja, mendapat dukungan orang tua bisa semudah mendapatkan dukungan dari orang-orang ini, semua pasti akan lebih mudah. Pemikiran di kampungku dan Shera bisa dibilang, masih lumayan kolot. Karena itu, Ibu dan Bapak tidak ingin anaknya atau terkhusus aku, menjadi anak band. Karena disana, anak band indentik dengan masalah. Kami beristirahat, merebahkan badan diatas sofa pada salah satu ruang tunggu. Meski bernyanyi dan memainkan alat musik adalah hal yang menyenangkan, tetap saja bisa menguras energi dan sesudahnya tubuh menjadi lelah. Padahal baru segini, bagaimana kalau sudah jadi bintang besar nanti. "Fiuuhhh .... Abis ini kita mau kemana, langsung balik aja, atau ...? tanya Tio. "Gue kayanya lapar. Kita cari makan dulu aja gimana?" balas Ricky. Ya, sejujurnya aku juga lapar. Tapi entah kenapa pikiranku saat ini bukan sedang berfokus pada perut. Aneh ... sepertinya ada sesuatu yang tertinggal, seperti ada hal penting yang kulupakan atau terlupakan. "Yan ... lu malah bengong, masih mikirin Shera ya? Tenang aja, dia udah gede. Jangan lu jadiin beban gitu," sahut Ricky tiba-tiba. Benar sekali, Shera ini memang sudah besar. Tapi tidak menjamin kalau dia akan selalu baik-baik saja. Apa dia masih marah ya? Dari tadi nggak ada kabar. Padahalkan aku ... Eh tunggu, padahal aku belum bertemu dengannya lagi. Aku juga belum minta maaf padanya. Sejak aku meminta Tio untuk mengejarnya, aku jelas belum bertemu lagi dengannya. Dan sepertinya ada satu hal lagi yang aku lupakan. Setelah menyadari sesuatu, reflek segera ku lihat jam yang melingkar di tangan kiriku. "Aaarrkkhh sial!" umpatku seraya bangkit dari duduk. "Lo kenapa sih, Yan?" tanya Ricky dengan heran, melihat tingkahku tampak seperti orang, yang tengah kebakaran jenggot. "Gue lupa mau jemput Shera. Adduhh, dia pasti udah nungguin di kampus. Kalian makan berdua dulu aja!" Aku mengambil jaket, kemudian memastikan ponselku berada di dalam saku celana. "Lo seriusan, nggak mau ikut makan dulu?" Ricky mengulang pertanyaannya. Aku menggeleng dengan cepat, dan mencari-cari kunci motor di dalam saku jaket. "Nggak, lain kali aja oke." Setelah menemukannya, barulah aku bergegas pergi menuju parkiran, kemudian melesat menuju kampus. Biasanya aku tidak pernah lupa dengan janjiku pada Shera. Tapi karena bentrok dengan janji lain, ditambah masalah dengan Nadia, fokusku jadi terganggu. Untungnya jarak kampus dan Studio, tidak terlalu jauh. Hanya membutuhan waktu sekitar setengah jam untuk sampai. Apalagi dengan kecepatan extra yang kugunakan. Segala hambatan, bisa ku lalui dengan mudah. Setelah sampai, aku segera menghampiri Bapak Security kampus yang bertugas di Pos dekat gerbang keluar. Beliau kenal dan bahkan sering mengobrol dengan Shera. Jadi, jika Shera sudah pergi, beliau pasti tahu. Tapi sayangnya ... "Saya tadi sempet pergi agak lama. Jadi agak kurang tahu juga, Shera udah pulang atau belom." Aahh ... sekarang aku kebingungan. Nomor gadis itu juga tidak bisa dihubungi. Sebenarnya dia itu kemana? Kenapa tidak menungguku. Shera selalu membawa charger ponsel. Logikaku mengatakan, kalau dia masih berada di area kampus, maka ponselnya pasti aktif, karena salah satu kebiasaan Shera adalah, dia tidak akan membiarkan ponselnya mati saat berada di luar rumah. Tapi tingkahnya sekarang, membuatku agak khawatir. Aku sempat mengirim pesan juga pada dua orang kawan baiknya, yaitu Mira dan Leana. Keduanya menjawab tidak tahu dan seolah enggan memberikan informasi lebih. Apa mereka berdua sengaja. Ya ... agaknya mereka ikut kesal karena aku adalah salah satu penyebab keributan yang dilakukan kawannya tadi pagi. Atau karena lelah menunggu, mungkin Shera sudah pulang ke kosannya? Iya aku harus memastikan Shera sudah berada di tempat seharusnya dengan aman. Setelah berpamitan dengan Bapak Security, aku kembali tancap gas menuju kosant tempat tinggal Shera. Dengan harapan, dia ada disana. Padahal saat aku menginap tadi malam, tempat ini lumayan ramai. Tapi sekarang malah sepi begini. Tidak ada yang bisa kutanyai, perihal keberadaan Shera. Tadinya aku malas untuk mengecek sendiri ke kamarnya. Tapi ternyata, aku harus melawan rasa malas dan memastikan sendiri apakah sahabatku itu sudah pulang. Dan sialnya lagi, saat sampai di kamarnya, dari kejauhanpun aku sudah yakin dia tidak ada disana. Pintu masih terkunci, lampu juga masih mati. Astaga, padahal ini adalah tempat terakhir sekaligus harapan terakhir. Tapi dia masih tetap tidak ada juga. Aku bisa stress nih lama-lama. Tempat mana lagi yang memiliki kemungkinan untuk di datangi Shera. Setelah beberapa saat berpikir, aku menyadari kalau otakku masih juga belum lebih pintar dari gadis itu. Bagaimana aku bisa tidak sadar? Ini sudah jam kerja anak itu. Shera pasti sudah sampai di Hotel. Ia tidak mungkin mangkir lagi dari pekerjaan hari ini, karena kemarin sudah bolos dan dianggap mengambil satu jatah libur yang seharusnya ia dapatkan setiap minggu. Setelah resign aku jadi lupa dengan jadwal kerja disana. Bodohnya lagi, jika nomor ponsel Shera tidak bisa dihubungi, kan masih ada teman-temen yang lain. Aku bisa menanyakan keberadaan Shera, apakah dia sudah ada di Hotel atau belum. Tapi daripada bertanya, lebih baik aku pastikan sendiri saja dulu. Maksudku, bukankah kami belum bertemu lagi. Shera dan aku harus bicara berdua. Terakhir kali tadi, dia berkata ... "Gue udah muak kaya gini terus. Ini terakhir kalinya gue harus berurusan sama cewek-cewek yang ada hubungannya sama lo. Gue ccaappekk!" Ini gawat, aku tidak bisa kehilangan Shera. Dan terlebih lagi, aku tidak bisa membiarkan Shera lepas kendali lalu mengadukan semua kelakuanku pada Ibu dan Bapak di Semarang, atau semua pengeluaranku disini tidak akan ditanggung oleh mereka lagi. Baiklah, rupanya aku masih belum bisa mandiri, dan masih ketergantungan pada Shera.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN