Bab 35. Shera 20

1176 Kata
Shera Fuji Lesmana Aku menghela nafas yang cukup panjang begitu sampai dikantin, kemudian duduk mengelilingi meja bundar bersama dengan Mira. Sementara Leana, sedang memesankan makanan dan minuman untuk kami pada Ibu Kantin. Suntuk, lelah, juga bimbang agaknya sangat pas dengan apa yang terjadi padaku hari ini. Setiap pasang mata yang berpapasan seolah melihatku dengan aneh. Entah perasaanku saja, ataukah ini hanya memang karena namaku sedang viral. Mungkin dalam benak mereka, ada berbagai macam pernyataan seperti koment-koment netizen kampus yang sempat k*****a di ponsel Leana. "Ohhh ... Jadi ini yang tadi bikin keributan." "Eh-eh liat. Itu kan cewek yang ada video tadi." "Itu Shera kan? Anak informatika yang tadi rebutan cowok sama Nadia." "Ah ... Nggak aneh, dia mah emang selalu bikin masalah sama Adrian." "Denger-denger dia suka sama si Adrian, tapi di tolak. Makanya bikin masalah terus sama pacar-pacarnya sampe pada putus." Dasar mulut netizen, mereka terus saja mencecar, tanpa tahu kenyataan yang sebenarnya. Aku hanya bisa pasrah juga mengelus d**a. Aku bukan artis yang harus melakukan konferensi pers, hanya untuk mengklarifikasi keadaan sesungguhnya. Jadi ... Ya sudahlah. "Nih ... Biar nggak gabut. Gimana? Baikkan gue?" kata Leana dengan bangga. Gadis itu kembali dengan nampan berisi 3 mangkuk mie ayam dan tiga es teh manis yang harusnya cocok banget untuk meredakan emosiku yang semakin panas. "Wah ... Makasih banget Len. The best banget dah emang," balas Mira. Pikiran boleh galau, hati boleh oleng, jiwa juga bisa lelah, tapi makanan tetap nomor satu. Biar kita setidaknya masih punya tenaga untuk meratapi hidup. Bukan kita, tapi aku. Hanya aku yang akan meratapi hidup, karena hidup kedua orang yang berada di sampingku ini tidak perlu diratapi. "Karena Shera lagi galau banget, hari ini biar gue deh yang traktir kalian semua," cetus Leana yang langsung mendapat tepuk tangan dari Mira. "Yang galau gue, kenapa Mira ikutan di traktir? Harusnya gue doank ini," selahku. "Ah ... Elah. Lu sirik amat sih kalau ada orang yang baik sama gue," protesnya. Aku tertawa kecil, mendengar protesan dari Mira. Namun, tawaku berangsur angsur memudar saat pandanganku menangkap sekelompok gadis yang baru saja memasuki kawasan kantin. Nadia dan dayang-dayangnya datang. Arrrkhh rasanya hatiku semakin memanas. Menyadari ekspresiku yang hanya menatap pada satu arah, Mira dan Leana akhirnya mengikuti sumber tatapanku. "s**t! Itu kan si Nadia. Yang nyari gara-gara sama lo. Kebetulan dia ada disini. Kita kasih mereka pelajaran aja gimana?" kata Mira dengan semangat. "Great! Ide yang bagus. Ayo Sher, kita labrak si nenek lampir yang sok lemah lembut itu," tambah Leana. Ya ... Sebenarnya aku juga ingin menuntaskan kekesalanku pada gadis itu. Tapi tidak mungkin, Nadia adalah anak dari salah satu petinggi kampus yang pastinya tidak akan diam jika melihat dia di bully. Perkara video yang tadi saja, aku masih agak was-was. Jika ditambah hal lain lagi, bisa habislah aku kena DO. "Nggak usahlah. Biarin, gue udah cukup viral. Jangan sampe nanti makin viral dan ketahuan sama Dewan Kampus. Nggak lucu, kalau gue sampe DO di tahun terakhir gue disini," keluhku. Aku masih melihat ke arah Nadia saat pada akhirnya, pandangan kami saling bertemu. Tidak ada kata yang terucap, atau bibir yang bergerak, tapi kurasa masing-masing dari kami masih bisa menangkap aura-aura kebencian yang amat kentara. Hanya saja, untuk kali ini, mangkuk mie ayamku masih lebih berharga kalau sampai pecah. "Huuhhh, padahal gue udah siap banget buat jambak balik rambut tu cewek. Tapi ya udahlah. Kalau yang punya sangkutan aja nggak ada niat buat balas dendam, gue bisa apa?" keluh Mira dengan kecewa. Iam sorry Mir, apapun kesalahan yang kulakukan dimasa sekarang, akan mempengaruhi nasibku di masa depan. Jadi ... Lebih baik kali ini aku mengalah. "Heeehh, lagian si Adrian juga bukannya nyamperin lo kek, atau minta maaf kek gitu. Ini mah ngilang ngga tahu kemana. Padahal ini salahnya juga kan?" "Heran deh. Padahal kalau dia suka sama Shera, jangan terus-terusan ngejar cewek lain." "Bener tuh, daripada terus terusan di tuduh jadi pelakor, mending resmiin aja sekalian hubungan kalian Sher?" Mira dan Leana bersahut-sahutan yang berujung pada menjodohkanku lagi dengan Adrian. Dalam keadaan normal saja, aku sudah ogah punya pacar seperti dia. Apalagi sekarang yang hebohnya sudah terdengar kemana-mana. Semua orang akan mengecapku munafik karena mati-matian menepis asumsi kalau kami memiliki hubungan lebih daripada temen. "He-he-he nggak lucu," jawabku datar. Tapi mau tak mau otakku terpancing juga dengan percakapan kedua gadis ini. Biasanya, setelah ada masalah, Adrian akan langsung mengklarifikasi segala hal yang terjadi denganku, atau minimal dia pasti akan minta maaf. Tapi kali ini, pria itu menghilang tanpa rasa bersalah, setelah menjadikanku artis dengan skandal memalukan. Ternyata benar, hubungannya dan Nadia memang se special itu. "Tapi masih ada yang lebih penting daripada bahas soal si Adrian itu ..." celetuk Mira dengan serius. Membuatku dan Leana terdiam, menunggu kalimat apa yang selanjutnya akan kami dengar. "Apaan apaan?" tanya Leana dengan antusias. "Tiga hari lagi pernikahannya Tama. Lo jadi dateng kah Sher?" Mira dan Leana, keduanya memandang dengan penuh rasa penasaran padaku. Aku hampir lupa kalau dialah salah satu sumber masalah dan awal mula semua ini bisa terjadi. Tama, Adrian, Adrian dan Tama. Sepertinya kedua orang ini akan ada di dalam daftar blacklits kehidupanku sebelum lulus kuliah. Jalan hidup kami ini sangatlah berbeda. Aku kuliah untuk meraih mimpi, sedangkan Adrian kuliah hanya agar nggak mati dalam kebosanan di kampung. Soo jawabannya adalah ... "Tentu ... Gue udah move on kok. Kenapa harus takut? Gue bakal dateng ke pernikahan sang mantan," jawabku dengan yakin. Dan seharusnya, aku memang yakin. Setelah selesai dengan aktifitas kampus aku harus pergi ke Hotel untuk kembali bekerja mengisi shift sore hingga malam. Tadinya aku berniat untuk pulang dulu agar bisa istirahat sebentar, kemudian baru pergi bekerja. Tapi sepertinya itu tidak akan terjadi. Orang yang menawariku untuk pulang atau menjemput, ternyata tak muncul. Entah lupa, atau mungkin justru sengaja. Pokoknya dia tidak datang. Agak aneh, biasanya Adrian adalah orang yang tepat janji padaku selain Tama. Ah ... Apalagi yang kau pikirkan Shera. Tama saja, yang memiliki janji begitu besar bisa ingkar. Apalagi Adrian yang hanya menjanjikan untuk menjemputku pulang. Untungnya, aku meninggalkan salah satu seragam kerjaku di Mess Karyawan. Jadi aku bisa ganti baju, sekaligus istirahat juga sampai masuk jam kerja. Leana dan Mira sempat mengajakku untuk hangout atau nongkrong bareng di Mall. Tapi aku sudah tidak bisa mengambil jatah libur minggu ini karena masalah kemarin. Setiap minggunya, hotel hanya memberikan satu kali hari libur. Selebihnya, gajiku akan kena potong. Dan rasanya gaji dipotong itu, sangat menyakitkan kawan. Lagipula, aku juga malu, setiap kali pergi bersama kedua kawanku itu, mereka lebih sering mengeluarkan uang, karena mengerti dengan keadaanku yang harus berhemat. Padahal kalau hanya untuk sekedar mengtraktir eskrim, aku jelas masih mampu. Aku melewati pintu gerbang, dan bermaksud menyetop angkutan umum. Tapi begitu menoleh, ada pemandangan lain yang membuatku tercengang. Seorang pria tengah bersandar pada tembok pagar kampus sembari memainkan ponsel. Entah mengapa, keberadaannya disana membuatku silau. Aku tidak mau kegeeran. Tapi sungguh, siapa lagi yang akan dia cari disini. Apalagi saat tatapan ku yang sedang bengong ini, tertangkap basah olehnya. Dia tersenyum dan melambaikan tangannya. Ya ampun, bagaimana mungkin aku akan salah menebak. Axel datang lagi dan rupanya sedang menungguku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN