Bab 80. Shera 47

1339 Kata
Shera Fuji Lesmana "Udah diem jangan gerak lagi!" perintah Adrian sembari mendorong bahuku untuk kembali berbaring. Aku tadinya hanya mau duduk dan mengambil minum. Tapi pria ini bahkan tidak mengizinkan aku untuk bergerak sedikitpun. Menyebalkan sekali. "Aku cuma mau ambil minum, Yan. Bukan hijrah keluar angkasa!" protesku. "Ya udah, cuma aer aja segala mau bangun. Kan minta sama aku juga bisa!" sentaknya seraya beranjak lalu mengambil air dari dispenser. Kulihat dia mencampurkan air dingin dan air panas dalam satu gelas. Astaga, yang benar saja sih, lagi-lagi aku harus minum air hangat sejak tadi. Aku ingin minum air es! "Nih minum, pelan-pelan bangunnya!" "Tapi aku pengen minum air dingin, Yan? Aku butuh yang seger-seger." "Nggak boleh, selama kamu sakit, kamu cuma boleh minum air anget. Lagian kamu kok ngeyel banget sih. Orang lagi sakit tuh harusnya nurut aja sama yang sehat." Aku tahu, protes tidak akan membuahkan hasil. Bukannya mendapat yang kuinginkan, dia malah akan ceramah nantinya. Aku menurut kemudian kembali bangun. Padahal baru saja dia memaksaku untuk tiduran lagi. Padahal aku sudah membayangkan air yang dingin mengalir melewati kerongkongan ini. Ahh ... segarnya. Tapi itu hanya sekedar angan-angan. "Sekarang kamu makan dulu. Habis ini minum obat!" perintahnya. Aku memutar pandangan. Pria itu kemudian menyiapkan mangkuk berisi soto ayam yang masih panas dan sepiring nasi putih yang dibelinya sebelum ke sini. Lalu menghangatkannya menggunakan penanak nasi yang ada di kamarku. Suapan pertama, baik-baik saja. Rasanya enak, gurih, juga segar. Lalu suapan berikutnya juga masih baik. Tapi setelahnya, aku mulai merasa hambar. Ada yang kurang dari semua ini karena ... "Kok sotonya nggak pake sambel sih, Yan. Kan jadi kurang gimana gitu," protesku. Sebagai penikmat makanan pedas, aku sesungguhnya tidak bisa mentoleransi makanan tanpa rasa cabe di dalamnya. "Tadi apa ku bilang? Orang sakit itu nurut aja sama yang sehat. Kamu nggak boleh makan yang pedes-pedes dulu, Sher!" "Ngatur banget sih Yan. Cuma makan sama minum aja segala nggak boleh?" "Gimana aku nggak ngatur. Baru tiga hari ditinggal aja udah sakit begini. Cekk ... makanya kalau kangen itu ngomong. Jangan diantep terus!" "Kangen-kangen gundulmu!" gerutuku. Dengan terpaksa, aku terus saja melahap makanan yang ia sodorkan. Menyebalkan sekali. Ini adalah hari ketiga aku terbaring di atas kasur. Aku harus mengucapkan selamat tinggal pada potongan gajiku yang semakin menipis karena tak kunjung bisa bekerja. Haduh ... Adrian menghilang selama aku sakit kemarin-kemarin, tanpa kabar, tanpa telpon, tanpa chat juga tanpa media sosial yang aktif. Lalu hari ini, lebih tepatnya sore ini, dia datang. Membuat kegaduhan, dengan menceramahiku layaknya seorang pacar protektif. Aku belum sempat menanyakan alasan kenapa dia menghilang, karena terbentur kebawelannya yang seperti anak perempuan. Dan saat ini meski aku senang bisa melihatnya lagi. Sekarang aku jadi risih dengan ocehan dan segala larangannya. "Sher ... gue liat pintu kamar lo kebuk ... ka?" Kepala Mbak Wina tiba-tiba saja nongol dari balik pintu. Selama aku sakit, memang hanya Mbak Wina dan beberapa teman kamar lain yang bolak-balik mengecek keadaanku. Sepertinya dia agak terhenyak begitu melihat ada Adrian disini. Makanya kalimat yang terlontar dari mulutnya juga terpotong seketika. "Heh, ada Adrian rupanya. Kemana aja lo? Katanya best friend, sahabat forever, tapi temennya sakit baru nongol sekarang." Wah ... sindiran yang sangat bagus dari Mbak Wina. Aku bahkan belum kepikiran soal itu dari tadi. "Iyan, ada urusan, Mbak. Dan lagi, Shera juga nggak ngasih tahu kalau dia lagi sakit. Makasih ya, Mbak Wina sama yang lain udah mau bantu jagain, Shera," ucap Adrian. Baiklah, ini agak aneh, tapi ucapan Adrian tadi seolah terdengar begitu tulus. Mbak Wina kemudian masuk, dia berdiri di dekat Adrian dengan tangan bersidekap, terlipat didepan. Pakaian hitam sexy diatas lutut, yang tertutup oleh jaket jeans biru, ditambah aroma parfum semerbak, serta sapuan make up yang sudah rapi menandakan kalau dia baru saja akan berangkat kerja, tapi tertarik untuk mampir karena pintu yang sengaja ku minta pada Adrian untuk dibuka. "Mumpung ada lo nih. Si Shera buruan bawa ke Dokter. Dari kemaren gue ajakin nggak mau terus. Maunya obat apotek mulu, tapi sampe sekarang nggak sembuh-sembuh," cecar Mbak Wina. Bahagia sekali Mbak Wina ini tampaknya, karena ada Adrian yang pasti akan membelanya perihal aku yang tidak mau dibawa ke Dokter. Adrian melirik ke arahku. Mulutnya terbuka dan pasti sudah bersiap untuk ikut bicara soal Dokter. Tapi sebelum itu terjadi, "Jangan coba-coba ngikutin apa kata Mbak Wina. Awas aja kalau lo berani bawa gue ke Dokter!" ancamku. "Apa sih, belom juga ngomong," balas Adrian dengan wajah kesal. "Hah ... emang dasar ngeyel banget deh ni anak. Ya udah ah, Mbak mau kerja dulu. Untung ada Adrian. Tadinya Mbak agak kepikiran juga. Takut yang lain pada sibuk, terus nggak bisa ngecek keadaan lo di kamar. Dan akhirnya nggak ada yang tahu kalau lo ternyata ..." "Udah-udah, cukup. Shera baik-baik aja oke. Sekarang Mbak Wina kerja aja yang tenang. Mumpung ada bodyguard gratisan disini," jawabku seraya tersenyum konyol ke arah Adrian. Jangan sampai kalau Mbak Wina ternyata berpikir aku akan mati mendadak di dalam kamar, tanpa ada orang yang tahu. "Gratisan kalau dibayarnya pake duit. Nanti kamu bayarnya pake bibir aja," Adrian berbisik sembari mengedipkan sebelah mata kirinya dengan genit. Sialan! Aku ingin menampol kepalanya sekarang. "Nggak usah bisik-bisik. Gue udah denger. Gue berangkat dulu. Nanti pulang kerja gue bawain lo martabak deh," ujar Mbak Wina seraya berbalik pergi, meninggalkanku dan Adrian berdua lagi. "Ngapain bengong. Ayo makan lagi." Adrian menyodorkan lagi suapan soto ayam berikutnya. Tapi kali ini, tidak ada protes atau penolakan dariku. Sebenarnya aku sudah sembuh kok. Hanya masih merasa agak sedikit lemas dan letih saja. Selebihnya, tubuhku ini sudah membaik, aku tak lagi menggigil atau merasakan sakit kepala. Adriannya saja yang sok lebay. "Mbak Wina bener. Harusnya kamu ini ke Dokter, Sher. Nggak baik ngandelin minum obat tanpa tahu penyebab sakitmu itu apa. Dokter pasti lebih tahu, dosis dan jenis obat apa yang seharusnya kamu minum." "Aku ini udah sembuh, Yan. Cuma masih lemes doank. Kamunya aja yang lebai." "Ahh ... Terserah kamu aja lah, Sher. Aku ini cuma ngerasa nggak enak sama keluarga kamu di Semarang. Mereka itu udah nitipin kamu ke aku. Oh iya, aku belom bilang sama orang tua kamu. Ku telpon Bapak kamu sekarang ya, Sher!" "Loh jangan-jangan. Gila lo ya!" Buru-buru ku cegah Adrian yang berniat untuk menelpon Ibu dan Bapak. Kenapa Adrian ini cuma menang di tampang sama duit aja sih. Kok bisa otaknya cetek banget begitu. "Apaan sih, Sher. Kenapa malah nggak boleh. Ibu sama Bapak pasti khawatir ini sama kedaan kamu." "Ya itulah alasannya dodol. Kau paham nggak sih. Bapak sama Ibu bakal khawatir kalau mereka tahu aku lagi sakit. Ini otakmu dimana hah? Udah jangan bilang apa-apa pokoknya. Aku nggak mau Ibu sama Bapak nanti kepikiran," jelasku panjang lebar. "Ya udah, maaf-maaf. Aku nggak akan ngadu apa-apa. Sekarang kamu minum obat ya." Aku sudah selesai makan. Adrian menyiapkan air dan obat yang harus ku minum, setelah menunggu beberapa saat. Atmosfir di dalam kamar ini, kurasa sudah lebih baik. Harusnya aku sudah bisa bertanya, alasan dia menghilang tanpa kabar kemarin-kemarin. "Yan," panggilku. "Biasain panggil sayang aja kenapa sih, atau Mas, atau Beb atau apa gitu. Jangan Yan, Yin, Yun mulu." "Kapan gue pernah manggil lo Yuyun hah?" "Ya kamu, jadi pacar nggak ada romantis-romantisnya." "Ya udah deh, Mas Adrian, aku mau nanya nggeh?" "Nah kalau kaya ginikan enak, Sher. Ya udah, kamu mau tanya apa nih sama Mas?" Mendadak aku jadi menahan tawa dengan panggilan Mas yang ku lontarkan sendiri padanya. Kenapa ya? Agak aneh saja rasanya. Kami biasa saling mencela dengan panggilan si curut dan sebagainya. Lalu tiba-tiba saja semua nama slengean itu berubah jadi sopan. "Jangan mesam-mesem gitu dah. Buruan mau nanya apa?" "Iya-iya. Mas Adrian ngilang kemana kemarin-kemaren hah? Nggak ada kabar, nggak ada telpon, apalagi batang idungnya. Masnya sibuk ngapain aja sih?" tanyaku dengan hati-hati. "Hemm ... Leana ada cerita sesuatu sama kamu nggak?" Aku mengangguk pelan. Jadi, rupanya semua itu ada hubungannya dengan Leana ya. Baiklah, itu tidak masalah. Aku tahu masalahnya tidak akan semudah itu. Perkara hati memang problem yang sulit. Hanya saja, perasaanku berubah jadi tak jelas sekarang. Aku seperti mendapatkan firasat buruk dari semua ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN