Adrian Maulana
Dilema tengah melanda relung hatiku yang saat ini tengah berkabut. Di hadapanku saat ini, ada wanita yang telah mengisi hatiku. Wajahnya masih pucat, tatapan matanya juga masih sayu, tampak jelas kalau kondisi tubuhnya ini belum stabil. Tapi gadis itu bersikeras menganggap kalau dirinya masih baik-baik saja. Dasar anak keras kepala. Memang hanya dia yang bisa membuatku bingung tak karuan. Karena sikap keras kepalanyalah yang membuatnya berbeda dari yang lain, dan menarik perhatianku.
"Mas, kok malah bengong. Kamu niat cerita nggak sih?"
Ah, iya. Dia sedang menungguku. Menunggu sebuah cerita kronologis soal kisahku dan Leana. Darimana aku harus memulainya. Masalahnya adalah, ada bagian di mana problemku dan gadis itu menjadi semakin rumit. Aku terlalu naif dan menganggap remeh semua perempuan yang pernah ku raih, hingga akhirnya kecolongan. Tidak semua wanita sama.
"Awalnya aku cuma mau hubunganku dan dia itu cepat selesai. Kamu tahu itu kan Sher. Aku hanya nggak ingin memberikan harapan pada orang lain, di saat realitanya, aku nggak mungkin membalas harapan itu," jelasku pada Shera. Ia belum menampilkan reaksi terkejut yang berlebih, atau lainnya. Wajahnya masih datar, dan tampak sedang menunggu berita selanjutnya dengan tenang.
"Jadi singkatnya, aku mutusin dia lewat telpon. Ku pikir semuanya clear. Aku nggak nyinggung soal kamu. Karena liat dari sikapnya akhir-akhir ini, dia jelas cemburu sama kamu, Sher," lanjutku.
Aku lalu kembali terdiam. Ragu untuk melanjutkan kisah selanjutnya.
"Lalu apa? Apa lagi yang terjadi. Kamu tahu nggak? Setelah di putusin kamu. Di hari itu juga, Leana telpon. Dia nangis-nangis minta bantuan, buat aku bujuk kamu. Dan secara nggak langsung, dia ini ngasih pilihan sulit antara kamu atau dia," jelas Shera.
Aku tidak heran. Melihat sikap Leana selama ini, kemana lagi dia akan berlari selain pada Shera. Gadis itu pasti menggunakan alasan persahabatan pada Shera agar bisa menyerangku balik.
"Terus terang aku nggak bisa, Yan!" keluh Shera dengan nada melemah.
"Mas Adrian!" protesku.
"Iya-iya, Mas Adrian ih!" ulangnya dengan nada kesal. Aku sudah mulai menyukai panggilan kesayangannya padaku. Jadi, rasanya agak nggak rela kalau dia memanggil dengan nama jelasku lagi.
"Aku seneng deh, kamu manggilnya nggak cuma pake namaku lagi. Kita tu jadi berasa kaya orang pacaran beneran."
"Jadi dari kemaren kita ini pacar boongankah?"
"Hishhh, udah pintar ngejawab kamu sekarang. Skakmat lah aku, sayang."
Dia tertawa kecil, di dalam balutan tubuhnya yang lemah. Salah satu kebahagianku adalah melihat tawanya. Garis lengkung dan suaranya itu seolah menularkan energi positif yang membuatku lebih tenang. Meski di sisi lain, ada aura negatif yang juga tak bisa ku elak. Sekarang aku takut dan cemas. Aku takut senyum dan suara tawa itu akan menghilang. Padahal aku baru saja mendapatkannya.
"Ya udah, tadi kamu mau bilang apa?" lanjutku lagi.
"Ya itu tadi. Udah ku bilangkan? Aku nggak bisa. Mana mungkin aku bisa milih antara Leana sebagai sahabatku dan ..."
"Dan aku sebagai pacar yang paling kamu sayang. Gitukan maksud kamu?" Sanggahku dengan yakin dan seratus persen bangga juga.
"Ihhh kegeeran banget. Kurang-kurangin deh narsisnya. Bikin aku geli!"
"Geli-geli tapi mau lagi," celetukku, yang sukses saja membuatnya semakin kalang kabut tak karuan.
"Kamu belom lanjutin cerita kamu, Mas."
Kupikir dia sudah lupa. Padahal aku berharap untuk tidak perlu membahas ini lagi. Tapi ternyata, dia masih ingin mendengar lanjutan masalahku dan kawannya.
"Setelah nggak berhasil bujuk kamu, dia masih punya cara lain. Kamu pasti tahu jelaskan? Ayahnya Leana itu konglomerat. Beliau juga salah satu donatur penting di kampus, yang keputusannya pasti akan di setujui sama semua Dewan kampus. Satu aja putusan dari beliau, maka habislah sudah riwayatku, Sher."
"Ini maksudnya Leana ngancem kamu pake nama Bapaknya? Kok bisa sih? Dan kamu akhirnya percaya aja gitu?"
"Ya Awalnya nggak! Tapi besoknya waktu di kampus. Leana datang sama Ayahnya. Aku nggak tahu apa maksudnya, tapi dari situ aku tahu. Kalau Leana nggak main-main."
Aku menarik nafas panjang. Kulihat raut wajahnya berubah lesu. Aku mengangkat tangan, menangkup kedua pipinya yang menggembung.
"Tapi kamu nggak perlu khawatir, Sher." Aku mengangkat wajahnya yang tertunduk untuk kembali menatapku. Sepasang matanya yang bening membuatku tak tega. Bagaimana jika dia tahu, tentang apa yang telah ku lakukan pada Leana.
"Aku sudah bertukar pikiran dan bicara baik-baik dengan dia. Dan kami sepakat untuk putus."
Shera menepis kedua tanganku yang berada di wajahnya. Ia balas menatapku dengan penuh tanda tanya. Apa perkataanku terlalu sukar untuk dipercaya?
"Kamu serius? Semudah itu? Hanya dengan ngobrol kalian bisa sepakat untuk putus. Padahal sebelumnya ada adegan nangislah, ngancemlah, bahkan sampe melibatkan Ayahnya yang katanya orang penting itu. Kamu lagi nggak bercandakan, Mas?"
Aku lupa kalau Shera itu terlalu pintar. Dia selalu bepikir kritis, dan melihat segala sesuatu sesuai logika. Kebohongan besar ini terlalu mudah untuk ditebak. Tapi aku nggak bisa menceritakan setiap detail apa yang kulakukan pada Leana. Leana itu luarnya saja terlihat baik. Tapi rupanya, dia punya ambisi yang buruk. Dan aku tidak memiliki cara lain.
"Mana ada aku bercanda. Ini serius. Kami putus secara baik-baik. Tapi ..."
"Tapi apa, Mas. Kalau ngomong itu jangan setengah-setengah. Jangan bikin akunya geregetan kaya gini terus!"
"Maaf. Tapi kita belum bisa pacaran terang-terangan di depan orang lain. Apalagi dia. Aku takut bakal ada masalah. Dan kamu bakal keseret masuk di dalamnya."
"Ohh ... Cuma itu. Ya udah. Santai ajalah, Mas."
Santai? Kok dia malah biasa saja? Bukankah dia juga tidak nyaman jika harus sembunyi-sembunyi. Reaksinya diluar dugaanku. Seharusnya dia kesalkan? Tapi ini malah aku yang jadi kesal.
"Kamu nggak marah? Kok kamu biasa aja?"
"Ya harus gimana, Mas. Toh semua orang udah tahu kita ini deket. Mau pacaran atau nggak, tetep nggak ada bedanya jugakan. Yang penting itu kamunya aja, Mas. Kamu jangan belok-belok lagi. Jangan maenin cewek, dan jangan mentang-mentang ku kasih kepercayaan, lantas kamu malah tebar pesona lagi kaya biasa. Bisa kamu bikin aku jadi yang terakhir?"
Rasa kesalku mendadak hilang begitu saja. Dalam ocehannya itu terselip satu pertanyaan yang secara tak langsung membuatku bahagia. Membuatnya menjadi yang terakhir, itu artinya hubungan kami sudah seriuskan? Bukan hanya sekedar coba-coba lagi
"Sure, mana mungkin aku bisa nolak, Sher. Kamu sudah menjadi yang pertama. Dan akan menjadi yang terakhir juga buatku," jawabku dengan senang.
"Kalau gitu, jangan bikin khawatir lagi ya. Jangan ngilang lagi tanpa kabar. Jangan buat aku kebingungan lagi."
Ada angin apa malam ini. Shera mendadak jadi sangat manis. Dia menjadi sangat berbeda. Tapi aku perbedaan ini, aku sungguh menyukainya. Reflek aku mencium keningnya sekilas, karena saking senangnya. Awal yang baik untuk hubungan yang baik.
Semoga tidak ada lagi gangguan lain dalam hubungan kami. Semoga saja usahaku untuk mempertahankan hubungan ini tidak sia-sia. Juga semoga saja, Leana tidak akan pernah mengungkap apa yang pernah terjadi. Apa yang awalnya rahasia, harus tetap menjadi rahasia selamanya.