Shera Fuji Lesmana
Yakinlah bahwa hari esok akan selalu lebih baik dari hari-hari sebelumya. Itulah, asumsi yang selalu ku yakini setiap hari, agar aku memiliki semangat baru untuk bangun. Hanya saja tidak semua hal, bisa berjalan sesuai keinginan dan rencana. Tahun terakhirku agak lumayan berat ternyata. Skripsi yang belum juga rampung, membuatku tak kunjung bisa mengikuti sidang. Aku banyak menerima bayaran untuk mengerjakan tugas-tugas orang lain. Tapi malah lupa juga dengan tugasku sendiri.
Dan sekarang diperparah dengan adanya musuh baru yang mau tak mau membuatku kesepian. Setelah putus dari Adrian gadis yang bernama Leana itu, sekarang menghindar dan tak pernah lagi menegurku layaknya seorang sahabat. Dia kerap kali menjauh, dan hanya menanyakan hal-hal penting soal tugas atau perintah dari Dosen. Mira mau tak mau, juga tetap harus menjadi dayang-dayang Leana. Bermusuhan dengan anak yang orang tuanya memiliki pengaruh besar di Kampus, sangatlah beresiko.
Jika dia tahu, kalau aku adalah salah satu penyebab kandasnya hubungan dia dan Adrian. Aku yakin sekali, kalau posisiku di Kampus, benar-benar nggak aman.
Tapi aku sudah tidak mau ambil pusing lagi lah. Bagiku asal bisa lulus dulu saja sudah cukup. Lagipula, hubunganku dan Adrian masih berjalan dengan baik. Tio dan Ricky juga welcome dengan kehadiranku.
Aku tidak ingin terlalu membatasi kegiatan Adrian ataupun juga dengan siapa dia berkawan. Kami juga mulai menciptakan sedikit jarak, agar sama-sama tidak bosan karena hampir setiap hari selalu bertemu. Dia juga butuh waktu dengan teman-temannya kan? sedangkan aku ... aku butuh waktu untuk diriku sendiri.
Adrian sibuk membuat skripsi, begitu pula denganku. Ya, jika beruntung, kami bisa wisuda bersama-sama nanti. Tentunya, setelah skripsiku ini selesai dan di acc oleh Dosen.
Namun, aku masih merasa ada sesuatu yang janggal disini. Tatapan mata Leana pada Adrian selalu tampak sendu dan sedih setiap kali kami berpapasan secara tak sengaja. Sementara Adrian sendiri malah cuek, pria itu memang tidak memiliki perasaan! Tapi Leana tidak, kurasa Leana itu sungguh-sungguh mencintainya.
Aku selalu merasa, ada sesuatu yang mereka sembunyikan setelah kata putus. Meski begitu, aku juga tetap enggan bertanya. Biarlah, jika memang hal itu buruk, maka seharusnya hubungan kami sudah usai sejak beberapa waktu yang lalu.
"Ini, Nenk minumnya. Tadi ketinggalan." Seorang wanita paruh baya datang dan meletakan es jeruk di meja tempat aku makan. Dia adalah Bibi yang berjualan di kantin. Aku lupa membawa minuman itu tadi, karena terburu-buru membawa makanan lain. Pantas saja, sejak tadi aku mengunyah batagor dan kepedesan, tapi malah bingung mau ngapain.
"Eh iya. Makasih ya Bi," ujarku.
Aku saat ini sedang berada di kantin. Memakan batagor super pedas sembari mengerjakan revisian skripsi dengan laptop milik Adrian. Ada satu lagi keanehan lain yang membuatku bingung. Tugas-tugas yang kukerjakan untuk orang lain, jarang mendapatkan komplen dan kadang cenderung mendapatkan nilai diatas standar. Tapi giliran tugas milik pribadi, kenapa lebih sering diminta revisi lagi ya?
Oh iya, sekedar info. Ini adalah piring ketiga dari makanan yang sejak dua jam lalu kunikmati di kantin. Sebelumnya, aku sudah memakan bakso, lalu mie ayam, dan terakhir ya ini, batagor. Dan semuanya itu pedes-pedes, pokoknya seger banget.
Setelah sembuh dari sakit, aku sekarang mudah sekali lapar. Tapi si Adrian itu masih juga cerewet soal makanan apa saja yang boleh masuk ke dalam perut. Jadi, aku harus curi-curi waktu untuk bisa makan makanan pedas kesukaanku.
Waktu kecil, aku sering bertanya dan berangan-angan sendiri. Kapan aku akan dewasa, kapan aku bisa kerja, lalu kapan aku bisa membahagiakan Bapak dan Ibu. Dan sekarang ini, semakin umurku bertambah, semakin aku ingin kembali ke masa kecil. Dimana beban dan pikiran hanya sebatas, kenapa aku tidak bisa melompat lebih tinggi lagi saat main karet.
"Woi! Sendirian bae!" Ricky tiba-tiba saja datang dan mengagetkank aku yang sedang bengong sendirian ini dengan menepuk bahu dan bertanya sambil berteriak.
"Eh, astagfirullah kaget. Ihhh lo tuh kalau dateng pake mode normal aja bisa nggak sih! Malah bikin kaget!" protesku dengan sebal.
"Iya sorry-sorry. Habisan lo malah bengong. Di kantin, sendirian lagi. Lo nggak takut ada nyulik entar?"
"Ppffftt, ha-ha-ha. Siapa juga yang mau nyulik. Badan gue emang kecil. Tapi makan gue banyak. Repot entar," jawabku dengan bangga.
"Ya ... lo nggak salah juga sih. Udah terbukti paten juga dari semua itu," tunjuk Ricky pada piring kotor bekas aku makan.
"Wah terciduk nih gue. Tapi nggak apa-apa deh. Terciduk sama lo, malah mungkin bisa minta traktir. Eh lo mau nyicipin nih?" tawarku pada Ricky sambil menyodorkan piring berisi batagor tadi.
Kupikir dia akan sungkan. Tapi ternyata tidak, tanpa malu-malu dia menyendokkan makanan itu ke dalam mulut. Lalu manggut-manggut mengatakan enak. Padahal awalnya, aku cuma basa-basi. Tapi tidak apa-apa sih. Aku lebih suka pada orang yang nggak neko-neko dan sok-sok'an tidak mau jika ditawari makanan.
"Ehm, enak juga nih. Tapi pedes banget anjir. Kenapa sih cewek suka demen banget makan cabe, hhaaahhh!"
Ya ampun, Ricky pasti kebingungan mencari air. Karena tak tega, biarlah minumanku yang jadi korban. Aku kembali menyodorkan es jeruk yang belum sempat ku minum tadi. Dan alangkah terkejutnya aku, begitu melihatnya meneguk benda cair itu hingga tak bersisa. Kepedesan apa kehausan sih anak itu?
"Eh buset itu es jeruk gue, kenapa malah lu abisin?"
"Pedes banget, Sher. Lu ngasih sambelnya nggak kira-kira ya?"
Aku juga merasakan pedas. Tapi ya tidak seperti Ricky ini. Padahal ku lihat, sepertinya dia hanya mencicipi tiga kali suapan.
"Perasaan nggak sepedes itu kok?"
"Kalian para cewek emang the best banget lah. Nanti es jeruknya gue ganti deh."
Sekarang yang menarik perhatianku bukan lagi masalah makanan. Aku celingukan memperhatikan keadaan sekitar, kemudian sadar kalau Ricky ternyata hanya sendirian. Lalu dimana yang lain. Maksudku Tio dan pacarku alias Adrian.
"Eh ini lo sendirian. Tio sama Adriannya mana?"
"Masih di kelas. Ngurusin apalah, gue juga nggak tahu. Gue duluan kesini, bete juga nungguin mereka berdua di depan kelas sendirian," cerocosnya.
Untunglah, aku harus cepat-cepat menghabiskan makanan ini sebelum Adrian datang. Jika tidak, dia pasti akan ngomel-ngomel lagi. Heran, sesudah jadi pacar, Adrian bukannya semakin baik. Tapi malah semakin banyak mengatur.
Shera nggak boleh ini, Shera nggak boleh itu, Shera jangan begini, Shera jangan begitu, lama-lama pusing juga aku dibuatnya.
"Jangan dibikin pusing, itu si Iyan tandanya sayang banget sama lo," ucap Ricky tiba-tiba. Tapi tunggu dulu, kenapa sekarang omongan Ricky seolah nyambung lagi dengan pemikiranku barusan. Astaga, jangan-jangan kutukanku kambuh lagi.
"Eh ... emang barusan, gue ngomong apaan?" tanyaku memastikan.
"Lo aneh banget sih? Masa lupa sama apa baru lo omongin?"
"Udah sih, nggak usah kebanyakan nanya. Tadi itu gue ngomong apa?"
Ricky mengernyit dengan tatapan tajam dan pastinya heran. Tapi ini membuatku kesal, dia kan hanya tinggal menjawab.
"Jadi tadi itu kan lo ngeluh pusing, gara-gara si Adrian itu larang ini, larang itu, jangan gini, jangan gitu. Ihhh belom ada lima menit, masa lo udah lupa. Aneh banget sih lo. Kasian banget, masih muda tapi udah pikun."
"Ihh, sialan lo. Rese!"
Ricky mengerdikan bahu. Aku tidak bisa memarahinya juga. Yang sekarang harus kupikirkan adalah, kok bisa sih aku kecolongan lagi. Untung saja aku tidak berpikir yang aneh-aneh. Sepertinya aku harus mulai menganggap serius semua keanehan ini.
Bagaimana kalau suatu saat nanti aku ingin mencoba selingkuh, tapi malah keceplosan di depan Adrian, kan bisa gawat.
"Hah? Lo mau selingkuh, Sher? Ya udah, sini sama gue aja!" tawar Ricky dengan semangat. Sial! Aku keceplosan lagi. Dengan seketika itu juga, aku meraih sendok bekasku makan, lalu ...
Pletak ...
"Adaw ... sakit donk, Sher!" ringis Ricky, begitu aku berhasil mendaratkan pukulan kecil di kepalanya. Salah sendiri, kenapa kalau ngomong sembarang.
Tapi astaga, aku jadi kepikiran nih. Semua ini, sekarang semakin terasa menakutkan.